Dari Australia, Kami Belajar pada Finlandia

Mutia Elviani

Mutia Elviani*

Salah satu mata kuliah yang ditawarkan di School of Education (Fakultas Pendidikan) di Kampus Universitas New South Wales (UNSW) adalah Education Policy (Kebijakan Pendidikan). Mata kuliah yang diasuh langsung oleh Dr. Meghan Stacey ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana cara menganalisis sebuah kebijakan pendidikan menggunakan berbagai pendekatan, kemudian bagaimana cara mengkritik kebijakan tersebut dan hasil kritikan itu dijadikan refleksi dalam proses pengambilan kebijakan selanjutnya atau penyesuaian terhadap kebijakan terdahulu berdasarkan kebutuhan. Kemudian kami juga diajarkan melihat efek apa yang akan ditimbulkan jika kritik/adjustment (penyesuaian) tersebut diimplementasikan pada kondisi yang berbeda.

Pada suatu kesempatan, kelas kami kedatangan dosen tamu yaitu Prof. Pasi Shalberg. Beliau merupakan salah satu akademisi terbaik Finlandia yang merupakan seorang guru, dosen, peneliti, dan juga penasihat pendidikan di beberapa negara di Eropa. Beliau juga pernah bekerja sebagai senior education specialist di World Bank. Dua jam kami bersama Prof. Salhberg, ada banyak hal yang kami diskusikan saat itu, kebetulan kelas yang saya hadiri itu juga diikuti oleh teman-teman dari berbagai negara seperti Indonesia, Filipina, India, China, Arab Saudi, Papua Nugini, dan tentunya kebanyakan penduduk lokal Australia. Di kelas tersebut kami biasanya berdiskusi tentang bagaimana problematika pendidikan di setiap negara dan tentunya saling bertukar cerita dan belajar satu sama lainnya.

Saya senang mengikuti kelas ini karena kami tidak hanya diajarkan teori, tetapi bagaimana teori tersebut berkaitan dengan real practice “apa yang sebenarnya terjadi di lapangan” dan kaitannya dengan dunia global saat ini. Kelas ini juga memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk berargumen dan mengharuskan berpikir kritis dengan melihat sesuatu dari perspektif berbeda, dengan harapan dapat memberikan solusi alternatif terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul. Namun, dalam tulisan ini hanya beberapa hal yang ingin saya ceritakan atas apa yang telah kami dapatkan di kelas terutama yang berkaitan dengan guru dan professional development (pelatihan guru).

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) atau dikenal dengan Program Penilaian Pelajar Internasional yang baru saja dirilis oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kemampuan siswa menengah pada tiga bidang, yaitu matematika, sains, dan literasi. Lima negara dengan hasil PISA tertinggi, yaitu China, Singapura, Estonia, Kanada, dan Finlandia (OECD, PISA 2018). Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pendidik (guru) memegang peranan penting dalam meningkatkan kemampuan peserta didiknya (murid). Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidik memberikan kontribusi signifikan dalam hal ini. Pendidik juga dapat dikatakan sebagai ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Maka tak heran dengan apa yang diperoleh Finlandia hari ini. Mungkin kita patut mencontoh bagaimana mereka berinvestasi dalam mencetak pendidik-pendidik andal untuk kemajuan bangsanya.

Sahlberg menyebutkan bahwa guru merupakan salah satu pekerjaan yang prestigious (bergengsi) di sana. Hal ini sangat beralasan karena bukan hanya memiliki kemampuan akademik yang cemerlang saja yang dapat lulus menjadi guru, tapi yang benar-benar memiliki passion untuk mengajar “the best and the brightest one” katanya, the one who has natural passion to teach for life”, “seseorang yang tidak hanya cerdas secara akademik akan tetapi benar-benar bersahaja dalam mengajar untuk kehidupan”.

Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa seorang guru yang mengajar di Finlandia mengatakan lebih mudah menjadi dokter ketimbang guru di sana. Hal ini karena profesi guru dianggap sebuah pekerjaan yang demanding (banyak tuntutan), yang mengharuskan seseorang memiliki kualifikasi akademik yang baik, bahkan untuk mengajarkan siswa SD sekalipun. Untuk menjadi seorang guru minimal harus mengambil gelar lanjutan alias master (Permana, 2019). Kemudian dijelaskan lagi bahwa hal yang paling spesial yang membedakan antara pendidikan guru di Finlandia dan negara lainnya adalah institusi pendidikan keguruan berorientasi pada research based (pendidikan yang berbasis riset).

Hal ini dikonfirmasi di dalam buku yang ditulis oleh Sahlberg, “Empowered Educators in Finland: How high performing System shape teaching quality”, disebutkan bahwa seseorang baru bisa menjadi guru jika ia adalah seorang lulusan universitas yang memiliki pemahaman tentang riset. Hal ini sangat beralasan dengan tujuan agar guru memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang riset-riset mutakhir terlebih yang berhubungan dengan metode pembelajaran, sehingga mereka dapat mendesain pembelajaran sendiri berdasarkan penelitian yang telah diuji dan bisa langsung diimplementasikan di kelas.

Lebih lanjut lagi, sistem pendidikan Finlandia bersifat desentralisasi. Maksudnya adalah otoritas lokal bertanggung jawab terhadap penyediaan dan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Hal serupa dipertegas oleh Halinen dan Holappa (2013) dalam Teacher Professional development in Finlandia, yang menyebutkan bahwa pemerintah lokal dan sekolah diberi otonomi yang luas untuk mengatur pendidikan dan kurikulum. Dua hal yang menjadi aspek penting dalam desentralisasi pendidikan tersebut adalah penggunaan kurikulum lokal dan classroom-based assessment (penilaian berbasis kelas) (Sahlber, 2011).

Hal ini memberikan autonomy (kemandirian) sehingga guru dapat menyesuaikan kebutuhan kelas sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tak heran jika profesi guru merupakan “a-hihgly-prized profession” (profesi yang sangat dihargai) dan sistem pendidikan mereka hampir selalu berada di peringkat atas pada ranking internasional (Dikutip dalam Highly trained, respected and free: why Finland’s teachers are different, The Guardian, 17 juni, 2015).

Para guru diharuskan untuk mendesain kurikulum sesuai dengan kebutuhan lokal dan mendokumentasikan perkembangan penilaian siswa berdasarkan karakteristik dan kemampuan siswa tersebut. Kemudian data tersebut digunakan untuk mengevaluasi tujuan yang dimaksudkan dalam kurikulum, sehingga hasil evaluasi itu tidak hanya untuk menilai perkembangan murid saja. Akan tetapi menjadi informasi untuk memperbaiki performa sang guru dalam mengajar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penting sekali adanya synchronisation (keselarasan) antara kurikulum dan assessment (penilaian) sehingga otonomi pendidikan dapat diemplementasikan dengan baik di sana.

Sebagai informasi tambahan, disebutkan bahwa di sana tidak ada ujian berstandar nasional (Niemi, 2014), hal ini mengurangi pressure (tekanan) bagi guru dalam mengajar. Guru dapat dengan bebas menggunakan metode pengajaran dan penilaian berdasarkan kebutuhan siswa. Para guru tidak terikat dengan tes yang dibebankan kepada siswa dan mereka juga tidak mengajar hanya untuk tes semata. Karena nyatanya tujuan dari assessment (penilaian) dan evaluasi adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri dan memberikan masukan untuk memperbaiki performa sang pendidik.

Kembali ke Indonesia, berdasarkan hasil rilis terbaru PISA, dari 79 negara yang menjadi bagian OECD, Indonesia berada pada peringkat ke-73 dalam bidang matematika, peringkat ke-74 dalam membaca, dan peringkat ke-71 dalam hal science (ilmu pengetahuan), (Dikutip dari laporan the Jakarta post, 4/12/2019). Jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia tenggara lainnya, bisa dikatakan kita tertinggal jauh dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan dan Thailand.

Adapun maksud dari tulisan ini adalah tidak semata-mata untuk membandingkan, toh nyatanya setiap negara memiliki keunikan masing-masing. Indonesia dengan jumlah penduduk yang diproyeksikan mencapai 270 juta jiwa pada tahun 2020 (sumber BPS, 2019) yang tersebar dari Sabang sampai Meurauke, dengan segala problematika kesenjangan yang sangat signifikan antara satu daerah dengan daerah lainnya, sungguh sangat tidak fair sekali jika dibandingkan dengan Finlandia yang hanya berpenduduk 5,5 juta jiwa.

Di mana jumlah penduduknya hampir sebanding dengan jumlah penduduk Provinsi Aceh saja. Namun hal ini setidaknya mengingatkan kita di mana posisi kita hari ini dan apa yang hendak kita lakukan untuk memperbaiki keadaan di masa mendatang. Tentunya ada banyak PR yang harus kita selesaikan untuk mengejar kemajuan. Namun, sebagai salah satu penggiat pendidikan di tanah air, saya sangat yakin dengan perkembangan pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Semoga kebijakan-kebijakan pendidikan yang baru saja diusulkan oleh Bapak Menteri menjadi secercah harapan bahwa insyaallah akan ada banyak perubahan signifikan dalam dunia pendidikan kita. Salam hangat dari Negeri Kangguru![]

*Mutia Elviani, Mahasiswi Aceh di University of New South Wales, Sydney-Australia

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK