Islam, Hindu dan Penjahat Politik yang Bernama Modi

Oleh Muhajir Juli

Di India 200 juta umat Muslim hidup sebagai warga negara. Dengan angka yang demikian besar, Muslim di India tetaplah minoritas. 80 % penduduk India adalah Hindu. Tapi Hindu dan Islam adalah dua agama yang sudah sangat lama ada di sana. Walau Hindu “lebih senior” bukan bermakna Islam tak pernah jaya di negeri para dewa. Konflik agama telah membelah negara itu di masa silam. Bila ada yang penasaran mengapa India dan Pakistan tidak pernah akur? Agama adalah akar persoalan. Dulu, India merupakan negara sangat besar. Pakistan adalah negara yang lahir setelah memisahkan diri dari India. Pakistan pecah dan lahirlah Bangladesh.

Pun demikian, penganut Islam di India tetap tidak hilang. Jumlahnya pun ratusan juta. Namun, itu angka yang sedikit di tengah jumlah penganut Hindu yang mencapai 1 miliar. Hindu dan Islam di sana tidak benar-benar akur. Kemarahan pengikut Hindu kepada Ali Jinnah yang berhasil mendirikan Pakistan, tetap membara. Kebencian mereka kepada Islam tak pernah reda. Walau secara garis keturunan, mereka berasal dari satu turunan nenek moyang. Perbedaan keyakinan, membuat mereka berada di tebing berbeda.


Dulu, ketika terjadinya gelombang kemerdekaan Pakistan, konflik antar agama meledak. Setiap hari penyerangan terhadap umat Muslim terjadi. Mereka yang menetap di kawasan mayoritas Hindu diusir. Bahkan dibunuh. Eksodus Hindu dan Muslim ke luar kawasan Pakustan dan India terjadi secara besar-besaran.

Mahatma Gandhi yang kala itu sudah uzur, menyerukan perdamaian. Bapak India itu tidak ingin terjadinya pertumpahan darah sesama anak bangsa. Ia menyerukan puasa dan ia sendiri puasa untuk menenangkan hati yang diamuk marah dan benci.

Tapi, menjadi orang baik di tengah kemarahan dan ketakutan, kerap membawa petaka. Gandhi merasakan itu. Ia ditembak dari jarak dekat oleh pengikut Hindu fanatik yang berasal dari kelompok anti Pakistan. Gandhi, yang ketika India dijajah Inggris, getol membela kaumnya, bersimbah darah di depan ratusan orang yang bersiap mendengarkan pidato perdamaian dalam sebuah ritual doa bersama lintas agama. Pertemuan itu rutin digelar di Birla House, New Dehli. Dia ditembak oleh Nathuram Godse, seorang penganjur nasionalisme Hindu. Motifnya, Godse kecewa dengan politik Gandhi yang membela Pakistan. Peristiwa itu terjadi pada 30 Januari 1948, pukul 17.17 waktu India, di usia 79 tahun.

Berbeda dengan Gandhi, Perdana Menteri Narendra Modi adalah seorang nasionalis Hindu. Ia bukan politisi bersih. Tapi cukup populer karena dianggap sangat membela Hinduisme sebagai pilihan politiknya. Ia dianggap oleh publik sebagai pembela “syariat” Hindu di Gampong Hindu.

Ketika terpilih pada 2014, ia menyusun ulang wajah India yang disebut sebagai India Baru. Sebuah konsep yang secara nyata menunjukkan ketidaksukaan kepada Islam. Umat Muslim di Khasmir pasti tahu betapa bejatnya politik Modi.

Lahirnya UU CAB pada Desember 2019, yang menolak imigran Muslim mendapatkan kewarganegaraan India adalah puncaknya. Ia secara nyata menolak Islam. Lebih buruk dari itu, UU CAB membuat hilangnya status warga negara bagi umat Islam di sana, cukup besar. Tapi kasus itu belum terjadi, karena UU CAB baru disahkan.

Sebagai politisi busuk, Modi perlu menggunakan agama sebagai bumper. Dikutip dari Tirto.Id,
Modi yang sejak terpilih kembali pada 2014 terus-terusan berfokus pada agenda politiknya, tak berhasil membawa perekonomian India ke arah lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi di bawah kepemimpinannya bahkan yang terlambat dalam enam tahun terakhir. Ia juga menaikkan persentase pengangguran dari 6,9 persen menjadi 7,6 persen pada Januari tahun lalu.

Pamor BJP juga menurun. Partai pengusung Modi itu tadinya berhasil menggenggam 21 dari 29 negara bagian pada 2018. Namun saat ini, hanya tersisa 15 negara bagian.

Belum lagi, ini bukan kerusuhan pertama dalam era kepemimpinan Modi. Pada 2002 saat ia menjadi Menteri Utama negara bagian Gujarat, sekitar 2500 orang tewas, mayoritas di antaranya adalah Muslim. Pemicunya adalah pembakaran 59 umat Hindu hingga tewas di kereta yang diduga dilakukan kelompok muslim. Dan Modi tak pernah dihukum atas itu kendati puluhan orang dari kedua pihak dinyatakan bersalah.

Sejak saat itu, kelompok sayap kanan Hindu mulai bangkit seiring hilangnya kepercayaan umat muslim India pada Modi.

Modi, lazimnya pemimpin yang tidak berprestasi lainnya di berbagai belahan dunia, tahu betul satu-satunya cara meraih simpati publik dengan mencitrakan diri sebagai pembela agama di garis depan. Walau semakin ke sini, sinema Bollywood semakin menjadi ajang propaganda Hindu, tapi ada juga yang menyindir perilaku Modi dan politisi lainnya yang menjadikan agama sebagai benteng menutupi kebrobrokan.

Modi dan orang-orang yang serupa dengannya, sejatinya hanya peduli pada satu hal yaitu kekuasaan. Demi kekuasaan ia akan melakukan apapun. Termasuk mencampur adukkan agama dan politik, tentu dengan mengajak serta agamawan sebagai mitra kolaborasi mewujudkan rencana busuknya.[]

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK