Menatap Aceh Hebat: Pemimpinnya Ditangkap Mental Rakyatnya Dirusak

Muhammad Rain

Oleh Muhammad Rain*

Saat ini kita dirundung berbagai kegagalan dalam memberanikan diri mengatakan “Aceh Hebat”. Kita selamanya akan dianggap pecundang apabila mengata-ngatai diri kita hebat di mata dan hadapan masyarakat provinsi lain di Indonesia, sedangkan kita sedang terlalu sering gagal menghimpun kekuatan untuk mewujudkannya.

Pemberian pujian sepatutnya disampaikan oleh orang lain, oleh propinsi lain, oleh ibu kota Indonesia kepada Aceh, jadi bukan dengan mengatakan diri sendiri hebat.

Bagaimana cara meralat kata “hebat” agar berkesan tahu diri dan sadar arti pemujian diri, alias peu ujo droe ini merupakan sebuah kesilapan atau sebuah keteledoran (ka leupah peugah).

Tak berselang lama setelah inovasi kreativitas angan orang Aceh yang membuat berita-berita headline di berbagai media cetak maupun elektronik juga medsos tentang meriahnya investasi-investasi yang akan digelontorkan pusat untuk Aceh, tak berselang bulan pula ada berbagai kendala yang menunjukkan belum tentu rencana-rencana hebat itu berjalan sebagai muluh, jenis ikan mulus, atawa berjalan lancar.

Cina yang sedang kena wabah Corona lalu menjadi akibat yang mendasari kebijakan dan arah pandang bangsa lain di mana pun berada agar soal Indonesia dan investasi dengan bangsa berkembang tersebut menjadi kembali dipertimbangkan matang.

Baru saja pekan ini Arab Saudi melakukan pelarangan umrah bagi masyarakat Indonesia, ini sesuatu yang sangat memukul dan seiring penetralisiran kawasan Asia tersebut termasuk Indonesia yang dianggap tidak bersih dari virus Corona, maka pasal demi pasal akan menjadi hambatan tersendiri bagi Indonesia.

Demikian pula jika kita lihat Aceh, baru bulan lalu India berkomitmen ingin pasang modal untuk pengembangan kawasan Sabang, tapi kejadian yang memilukan hati baru saja pula berlangsung di negeri Hindustan itu, dominasi berita yang tersiar dari negeri Kuch Kuch Hotahai itu adalah perang antaragama sedang berkecamuk. Lagi-lagi Aceh yang memang penegak syariat Islam di Indonesia kena imbas, masyarakat sekonyong-konyong langsung menolak investasi India, mereka dianggap telah membunuh saudara orang Aceh se-Islam.

Arab Saudi juga lebih awal menginisiasikan akan menanam modal berupa investasi terkait pengelolaan kepariwisataan serta petrokimia yang pada awal peluncuran komitmen tersebut sangat membuat harapan Aceh seakan melambung, Rp42 triliun akan menjadi dana segar bagi Aceh atas 100 lebih yang dikomitmenkan Arab Saudi sebagai investasi bagi Indonesia. Ketiban fulus ini.

Tamu dan bertamu ala investasi semakin gencar digaungkan dan digarap oleh pemangku kebijakan nasional maupun Aceh selaku masih bagian provinsi untuk negeri 1.000 pulau Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Aceh khususnya yang dikatakan miskin dan belum mampu meningkatkan standar kesejahteraan setelah berkali-kali mendapat status Otda (Otonomi Daerah) Khusus, malah berbagai pola kepemimpinan di Aceh kerap berhubungan dengan KPK di tengah atau ujung perjalanan pemerintahan yang dikelola Gubernur Aceh, Aceh yang berhasil damai belum hebat juga.

Jika masa dahulu kedamaian dianggap sebagai syarat teratas untuk memiliki harapan kembali yang lebih pasti untuk meraih pencapaian pembangunan kawasan tertinggal di antara propinsi lainnya ini di Indonesia, Aceh sudah memilikinya sudah sejak tahun 2005 bahkan, lantas apalagi yang menghambat mimpi hebat Aceh?

Sebagian besar ahli-ahli pembangunan manusia dan pembangunan sumber daya alam Aceh telah berembuk dan bertungkus lumus untuk membenahi apa yang sesungguhnya kurang dilakukan di Aceh agar bisa hebat.

Hampir setiap pekan ada saja isu ditabalkan untuk Aceh, sampai ke hal-hal di luar kebiasaan seperti melegalkan mariyuana juga diselingi canda tawa legislatif dan eksekutif dalam pergolakan tes ombak dalam pengelolaan tahun anggaran baru Aceh.

Kemarin, hampir 2 trilun rupiah disetujui sebagai pemanasan awal pembangunan Aceh, rekomendasi dan aktivitas pembangunan mulai mencair yang sebelumnya membeku di meja politik perebutan potongan APBN dan APBA, setiap pihak merasa paling berhak menjadi pelaku pembangunan, demikian juga selalu saja yang terlambat tunjuk tangan tak kebagian.

Aceh hebat dianggap memiliki kepantasan jika sudah bangun jalan tol, sudah bikin mal dan bioskop, sedangkan seiring tekanan perkembangan teknologi media sosial arah Aceh makin tak karuan, orang Aceh kian kehilangan jati dirinya, kebudayaan dan seni menjadi proyek fisik, bukan psikis, mentalitas orang Aceh menjadi urutan ke sekian tak penting untuk diurus dan terbiar tergerus.

Padahal kata hebat bukanlah kesombongan, namun ketololan ketika mengatakan hebat namun tolol dalam bersikap, tolol dalam menangani soal kejahatan sosial dan juga perang kasta antara pihak-pihak makin tajam tergambar jelas di hadapan rakyat miskin yang dominan di Aceh.

Aceh merupakan daerah modal, wajar jika meminta lebih kepada Jakarta sebab sudah banyak energi buminya dikeruk untuk bangsa ini. Para pahlawan dari Aceh juga sangat banyak telah memodali kemerdekaan bagi bangsanya sendiri yang lalu kemudian diklaim membela tanah air Indonesia. Padahal masa itu mereka belum pernah punya bangsa lain yang mesti dibela selain bangsa Aceh yang Islami yang tak pantas dirampas kafir.

Sejarah lalu mengalami penelitian ulang, Aceh memang hebat, sejarahnya tak bisa disunat, negeri Aceh memang luar biasa hebat, dulu tapi, kini entah seperti apa wujudnya. BPS lebih tahu sepertinya realita sebobrok apa perekonomian Aceh yang sebenarnya, kontradiktif dengan berita koran yang telah kerja sama dengan pemerintah untuk menyatakan fakta-fakta baik, sedangkan fakta-fakta buruk disembunyikan untuk ditukar dengan proyek lanjutan, bermain di bawah bantal kesadaran diri tidur nyenyak dalam kemunafikan dan tipu-tipu.

Aceh hanya baru hebat berbagi proyek pembangunan fisik untuk mempertontonkan kekayaan pakaian luar, sedangkan pakaian jiwa Aceh sangat ringkih, pemimpinnya ditangkap, mental rakyatnya dirusak.[]

*Penulis adalah jurnalis dan pengamat seni

Editor : Ihan Nurdin