Tim BPNB Aceh Teliti Keberadaan Bandar Singkil

ACEHTREND.COM, Singkil– Tim peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh melakukan penelitian awal tentang keberadaan Bandar Singkil dan dinamika perdagangannya selama tiga hari, Kamis-Sabtu (5-7/3/2020).

Tim peneliti yang terdiri atas Sudirman, Mawardi, Hasbullah, Nasrul Hamdani, dan M Nur ini dalam tahap permulaan menghimpun data dengan cara mewawancarai beberapa narasumber  dan melihat langsung situs sejarah yang relevan dan masih ada.

“Dari hasil sementara yang didapat, ternyata keberadaan Bandar Singkil benar adanya, dan tidak diragukan lagi,” kata salah seorang tim peneliti Mawardi kepada aceHTrend, Sabtu (7/3/2020).

Menurut referensi yang ada, kata Mawardi, melalui Bandar Singkil ada komoditi ekspor andalan Singkil yang amat tersohor dan sangat diminati negara Timur Tengah dan Eropa, yaitu kapur bBarus, lada, damar, dan kemenyan.

Bahkan Singkil pernah menjadi salah satu daerah penghasil dan pengekspor kayu gelondongan (balok) terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu pihaknya akan terus menelusuri jejak sejarah bandar atau pelabuhan Singkil sampai nanti tersingkap dan jelas benang merahnya.

Menurut Mawardi, Singkil sangat diminati para ahli untuk dijadikan objek penelitian. Sebab Singkil memiliki kisah sejarah yang sangat unik dan menarik.

Di Singkil pernah lahir dua ulama sufi yang sangat tersohor, yakni Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As-Singkili.

Di samping itu, di Singkil pernah berdiri sejumlah kerajaan yang berada di daerah pinggir sungai, kisah kota yang berpindah karena dihantam geloro (tsunami), dan makam-makam ulama tua.

Kemudian Singkil memiliki Rumah Gadang atau Istana Datuk, dan kisah keberadaan pemerintah Kolonial Belanda bercokol di Singkil dalam waktu lama serta beberapa fakta sejarah lainnya.

“Semu itu sangat menarik diteliti dan dikaji secara mendalam. Sehingga kisah yang bernilai historis ini bisa terkuak dan tersingkap,” ungkap Mawardi yang juga dosen sejarah di Unsyiah ini.

Hasil penelitian tadi setelah menempuh proses keilmiahan lainnya, disarankan Mawardi, supaya dicetak menjadi buku. 

Lalu, buku ini diedarkan secara luas sehingga bisa menambah referensi dan khasanah sejarah di Indonesia.[]

Editor : Ihan Nurdin