Seorang Keramat

Ilustrasi

Oleh Fadhil Mubarak Aisma*

Seharusnya dari awal tak kupercayai cakap sopir angkot itu. Sudah sering kali aku ditipu. “Bang, sampaikah ke Cibrek?” kutanya lantang. Memang seperti itu kulihat orang-orang lakukan. Janjinya kemudian, akan bertolak hingga Langsa. Nyatanya sampai Lhokseumawe, aku pun dioper ke sekutunya yang lain.

Memangnya aku ini barang kiriman. Sebenarnya dalam pada itu, aku tidak keberatan. Mengapa harus? Jarak Lhokseumawe ke Cibrek pun palingan lima menitan lagi. Tentu saja kalau angkot kunaiki ini tak berhenti lebih lama. Tapi soal lain, aku malah didongsok duduk di banjaran yang sudah penuh tiga orang. Dan memang jok angkot itu untuk tiga orang setiap banjar. Hal yang acap kali dilakukan sopir-sopir angkot tanpa rasa bersalah.

Beranjak dari Samalanga tadi langit sudah mereda hujan, tapi matahari masih malu menampakkan diri, hujan juga agaknya masih ragu untuk benar-benar berakhir. Padahal jalanan lintas Sumatra itu nyaris basah merata. Udara sayup-sayup menenangkan. Aku yakin dalam keadaan seperti ini tak ada penumpang yang bisa menahan lelap. Lelap sepanjang perjalanan. Setidaknya hingga Lhokseumawe. Dan mobil berhenti seketika. Dengan beralasan murahan, lantas si sopir menyuruhku beralih ke angkot lain di pangkalan.

Dan di sinilah aku. Duduk berdesakan dengan tiga penumpang lainnya. Dua orang emak-emak dan seorang lelaki tua. Berpeci bersarung pula–pakaian lumrah bagi seorang teungku. Semuanya tak senang dengan keberadaanku. Aku pun tidak. Dalam hati tak henti kuumpat sopir angkot itu. Kurang ajar!

Dengan ujung mata kulihat penumpang di sampingku. Kecuali kakek tua itu, semuanya bermuka masam. Malah salah seorang bergerak-gerak mulutnya. Mungkin mengataiku, atau sopir. Kecuali kakek tua itu. Dia takzim mengamatiku. Aku tak nyaman.

“Hendak ke mana kau, Nak?” tunggu, dia bicara kepadaku. Aku melirik dan berusaha tersenyum ramah seraya menjawab, “Mau ke Cibrek.”

“Oh, dari mana?”

“Samalanga.”

Dan hanya karena kata itu, sejak itu, ia mulai berkisah, tanpa henti.

“Dulu aku sempat tinggal di sana, Nak. Aku mengaji di sana. Kau tau, dulu, saat orang-orang tentara mencoba memberantas GAM, begitu sebaliknya.”

Ia bercerita panjang lebar. Suaranya melengking pula. Kutaksir seisi angkot bisa mendengar jelas. Tampak benar ia tak acuh. Mobil mulai berjalan. Dan kakek tua melanjutkan, “Dulunya lagi sebelum mengaji, aku tinggal di Geudong, di pinggir sungai Pasai itu. Di sebuah rumah tua. Kau tau, Nak? alih-alih berkunjung, orang-orang pada tak berani mendekati. Horor katanya. Angker. Tempat bersemanyam jin. Tapi aku tak takut, Nak. Bersama jin pun aku tinggal. Kenapa harus takut? Kan sama-sama makhluk. Bukan Khalik. Hahaha.” Ia terkekeh. Hanya sendiri. Yang lain tidak. Maksudku, seangkot pun tahu tiada kelucuan.

Aku pernah dengar cerita orang-orang tua interaksi dengan makhluk halus itu hal di luar wajar. Tapi ada. Tidak bagi semua orang: hanya orang-orang tertentu. Orang keramat, kata nenekku suatu waktu.

“Tak aneh orang-orang takut Nak, itu dulu memang tempat penyekapan pejuang kita yang melawan kafir penjajah. Sebelum syahid, mereka diusut: dicambuk, dipukul, ditampar, dijambak, ditendang, dikebiri, diludahi, diperkosa (kalau perempuan), diikat, digantung, dipotong kecil-kecil, sebelum akhirnya dibuang.” Aku menelan ludah.

“Sampai menempati rumah itu pun.. ” lanjutnya, “masih banyak arwah yang datang, mungkin mencari-cari jasad yang tak tahu di mana pula. Kau tau Nak, karena aku tinggal seorang di sana, tak ada yang berani mengganggu. Orang-orang tentara segan kepadaku. Orang-orang GAM juga demikian. Ingin kau tahu apa rahasia?”

Belum pun aku menoleh untuk mengangguk, langsung dicerocosnya, “Kuamalkan doa peurabon. Kukatakan padamu, jangan sembarang amal, atau kau jadi gila!”

Yang kulakukan hanya tertegun. Doa peurabon, kata orang dulu, semacam doa agar tak terlihat, atau setidak-tidaknya orang-orang tak akan menggubris. Aku hanya mengangguk saat mendengar itu. Antara percaya dan tidak. Kiraku, apakah bisa menghilang seperti sihir yang kutonton di film-film? Tak terlihat sama sekali. Tentu itu sedikit berlebihan. Aku memilih diam. Dan ia terus saja meriwayat.

“Aku ini memang bukan siapa-siapa, tapi jangan remehkan! Doaku ini selalu dikabulkan…” suaranya terputus karena angkot berhenti.

Seorang penumpang di depanku turun. Aku lega. Akhirnya bangku itu kosong, dan bakal bisa kududuki. Tanpa desak-desak lagi, kiraku. Belum lagi hendak berpindah tempat, tiba-tiba penumpang lain naik, menduduki tempat itu. Dan sopir itu menyilakan. Sial. Tak jadi aku berleluasa sedikit. Sempit sekali di sini, meluruskan kaki sebentar saja tak bisa. Apa hendak diucap.

“Kata orang, doaku mustajab. Kata orang, Nak. Aku tak membantah.” Entah bagaimana sang kakek tidak merasa keberatan duduk bersempit begini, malah lanjut mendongeng. “Tapi kalau kau mau tau, Nak, pernah suatu waktu, saat aku masih mengaji di Samalanga, hari itu panas. Cukup panas. Kemarau panjang. Penduduk kampung sekitaran dayah mulai resah. Takut kalau-kalau tahun ini, sawah gagal panen. Hari itu, aku berdoa hujan turun. Hanya lima menit setelahnya, hujan deras turun.” Aku mulai meragu dengan itu.

“Sampai-sampai, Nak, saat itu, Waled Nu, ulama paling ditabik itu, bingung: siapa gerangan orang berdoa hingga hujan lebat begini? Di tengah kemarau pula.” Baiklah sudah kuputuskan untuk tak percaya.

Aku melihat ke depan: tak lagi terlalu memperhatikan racauan di sampingku. “Kau tak percaya?” Aku agak terkejut. Hanya menatapnya sejenak. Ia melanjutkan, “Di kampungku pernah seorang penduduk ingin menjual tanahnya. Tak ada satu pun mau beli. Ia mengadu, lalu kudoakan dia. Tak butuh waktu lebih dari seminggu tanahnya laku. Kau masih tak percaya?” Ia menagihku.

Aku hanya mengangguk. Entah kenapa waktu seperti melambat. Belum sampai juga tujuanku. Artinya, aku harus mendengar celotehnya sedikit lebih lama lagi. Bisa apa aku. Hanya pasrah.

“Kau Nak, dari Samalanga, kan?”

“Iya, Abu.” Kupanggil ia Abu, sebutan untuk orang alim, setelah hal-hal ajaib yang diceritakannya itu.

“Di Samalanga tadi hujan, kan?”

“Ya.”

“Kau tau kenapa?”

Sejenak kudiam. Sekarang memang sedang musim hujan. Tak tahu aku maksud ia bertanya.

“Itu karena aku melewati Samalanga. Hujan sudah dari Ibu Kota mengikutiku yang dalam angkot ini.” Hal magis macam apa lagi ini? Hujan mengikuti ke mana dia pergi? Hebat sekali itu. Aku tak habis pikir.

Sopir membunyikan klakson: menyuruh sepeda motor di depannya minggir. Baru kusadar, aku hampir sampai. “Turun di mana, Dik?” tanya sopir.

“Itu di depan meunasah.”

Kemudian Mobil berhenti. Akhirnya aku bisa menyingkir dari ketidaknyamanan ini. Kakiku sudah sebelah menginjak tanah, dan seseorang memegang pundakku, “Semoga lain kali bertemu lagi, Nak.”

Aku keluar. Dari luar jendela angkot paling depan, kuberikan selembaran dua puluh ribu yang kemudian sopir menyodor lima belas ribu uang kembalian. Aku mulai berjalan masuk ke gang rumahku. Sebelum angkot itu pergi, sempat kutilik jendela banjar kedua. Aku terperanjat saat sadar di sana hanya ada dua orang ibu-ibu. Tak ada kakek tua.[]

Penulis adalah mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Syariat Ummul Ayman Pidie Jaya, sekaligus santri di Dayah Ummul Ayman Samalanga.

Editor : Ihan Nurdin