Reportase Maria (9): Hebron, Kota Para Nabi

Laporan Hj. Maria Karsia, MA

Kota lain yang menjadi tujuan kami di Palestina adalah Hebron. Kota ini wajib dikunjungi karena di kota inilah terdapat makam Nabi Ibrahim Alaihissalam istrinya Sarah, makam Nabi Yacoub Alaihisalam, dan istrinya, makam Nabi Ishak Alaihissalam dan istrinya.

Kata Hebron berasal dari bahasa Ibrani yang berasal dari kata habar yang berarti dipersatukan atau digabungkan.

Hebron terletak 30 km di selatan Yerusalem. Kota ini terkenal karena hasil pertanian seperti anggur, batu kapur, dan juga pusat kerajinan keramik serta pabrik gelas tiup yang menghasilkan karya yang indah. Hebron juga merupakan lokasi pabrik produk susu besar Al-Juneidi di Palestina.

Kota lama Hebron, jalan-jalannya sempit dan berbelok-belok, mengingatkan saya pada kota Paris, di benua Eropa, di seputar Eiffel jalanannya juga sempit. Namun, lebih logis jika membandingkannya seperti jalan di dekat kompleks Al Aqsa, jalanan menuju Masjid Ibrahimi saja juga masih banyak yang terbuat dari batu-batu gunung. Rumah-rumahnya pun dari batu beratap datar, dan sepanjang perjalanan memasuki kota, saya bisa melihat pasar-pasar atau disebut bazaar. Di kota ini juga terdapat Universitas Hebron dan Universitas Politeknik Palestina.

Memasuki kota ini kami awalnya dibawa ke tempat penjualan souvenir yang penjaganya wanita- wanita Palestina asal Hebron. Mereka mengenakan baju gamish, dengan hiasan bordir warna merah, benang mas dan warna baju dasar kain hitam. Sebetulnya ingin membeli 1 baju itu untuk oleh-oleh, namun harganya lumayan mahal. Jika dirupiahkan bisa hampir 1 juta Rupiah. Ada juga hiasan kaligrafi terbuat dari kerang dicampur dengan sepuhan emas, juga kerajinan dari kulit/batang pohon zaitun. Ada juga permadani sutra, sejadah sutra yang menurut tour guide kami, semua kerajinan itu dibuat oleh orang-orang Hebron korban konflik jalur Gaza. Di antaranya mereka korban cacat perang, janda-janda dan pemuda Palestina yang memperjuangkan kemerdekaannya dari pendudukan Israel. Souvenir yang dijual, adalah karya seni yang indah. Selain itu mereka juga menjual sedikit masker dari mineral Laut Mati, dan minyak zaitun yang sangat baik untuk kulit dan juga minyak untuk dressing salad.

Diinfokan oleh tour guide kami, bahwa Hebron terlarang bagi orang Yahudi untuk tinggal di kota ini. Namun berdasarkan beberapa sumber tulisan lain yang saya baca, disebutkan ada sekitar 120.000 orang Palestina dan sekitar 600 orang pemukim Israel yang tinggal di sana. Selain itu, ada fakta menarik, bahwa ada sekitar 7.000 orang Yahudi tinggal di kota Kiryat Arba yang bertetangga dengan Hebron.

Situs bersejarah paling terkenal di Hebron adalah makam para Leluhur atau Gua Makhpela atau Me’arat ha-Machpelah dan dalam bahasa Arab al-Haram al-Ibrahimi, “tempat suci Ibrahim”. Situs ini suci bagi tiga agama yaitu, Yudaisme, Kristen, dan Islam. Menurut Kitab Kejadian, orang Yahudi percaya bahwa Abraham (Nabi Ibrahim Alaihissalam), Sarah ( istri dari Nabi Ibrahim), Nabi Ishak, Ribka atau Rebecca, (istri dari Nabi Ishak), Nabi Yakub dan Lea ( istri Nabi Yakub) dimakamkan di gua ini. Itu sebabnya orang Yahudi juga menyebut kota ini “Kota para leluhur,” dan merupakan salah satu dari empat kota paling suci bagi mereka selain Yerusalem, Tiberias dan Tzfat.

Gua itu sendiri adalah tempat tersuci kedua dalam paham orang Yahudi. Sepanjang sejarah, di tempat ini telah dibangun gereja, sinagoga dan masjid. Aula Ishak kini menjadi Masjid Ibrahimi, sementara Aula Abraham dan Aula Yakub menjadi sinagoga Yahudi.

Untuk penziarah Muslim, bagian yang dapat dikunjungi adalah bagian masjid, bukan sinagoga. Jadi untuk penziarah Muslim pintu masuknya berbeda dengan penziarah Yahudi dan penziarah lain. Setiap Pengunjung wajib lapor pada otoritas Israel yang menjaga sangat ketat situs yg dianggap suci bagi mereka. Nabi Ibrahim adalah bapaknya para nabi. Terlebih bagi bangsa Israel.

Masjid Ibrahimi memiliki dua menara dengan tinggi 15 meter. Mimbar Masjid Ibrahim memiliki ciri khas tersendiri dengan design periode Dinasti Fatimiyyah yang terletak di sebelah kanan tangga mihrab yang masih terjaga hingga saat ini. Makam para nabi dan istrinya memiliki bentuk yang berbeda antara laki-laki dengan perempuan. Makam laki-laki berbentuk segi delapan, sedangkan makam perempuan berbentuk segi enam.

Berdasarkan beberapa sumber dan keterangan tour guide, Nabi Ibrahim tinggal bersama istrinya Siti Sarah dan Siti Hajar di kota ini, karena meninggalkan kota Babilonia tempat Raja Namrudz berkuasa dengan banyak berhala di sana. Nabi Ibrahim sebetulnya sempat menghancurkan berhala yang menjadi sesembahan masyarakat di sana, lalu hijrah ke kota Hebron.

Siti Hajar melahirkan anak bernama Ismail, lalu mereka dibawa pindah ke Makkah oleh Nabi Ibrahim. Di sanalah Nabi Ibrahim melakukan renovasi Ka’bah. Setelah renovasi selesai, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina dan tinggal di Hebron bersama istrinya Siti Sarah. Tak ada Literasi lebih detail mengenai riwayat Siti Hajar selanjutnya yang saya bisa dapatkan.

Berdasarkan kisah Nabi Ibrahim, ketika berdiam di Hebron, beliau dianugerahi Allah anak bernama Ishaq. Nabi Ishaq dikenal sebagai nabi yang sangat jujur dan salih.

Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq. Saat Nabi Ishaq berdakwah untuk kaumnya di Hebron, Nabi Ya’qub mendapat tugas dakwah di negeri Syam. Saat ini dikenal dengan nama Suriah. Disebutkan yang dimaksud dengan wilayah Syam pada masa sekarang adalah meliputi Suriah, Palestina dan Jordania.

Kota Hebron masuk dalam pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar abad ke 7 masehi. Saat ini Hebron masuk dalam wilayah Palestina, walikotanya pun orang Palestina.[]

Catatan: Dengan berakhirnya reportase Hebron, maka berakhir pula reportase perjalanan saya di Palestina.

Berikutnya saya akan berbagi reportase tentang melintas batas yiga negara untuk masuk dan keluar Palestina, perjalanan sepanjang 800 km menyusuri semenanjung Sinai. Termasuk melintasi benua Asia menuju Afrika lewat terowongan menembus terusan Suez yang bersejarah untuk menuju Mesir bagian Afrika serta kisah awal memasuki Jordania untuk menuju perbatasan Israel /Palestina.

Maria Karsia adalah seorang traveller, juga penulis buku.