Asyiknya Mengayuh Sepeda dan Menikmati Rona Senja di Alue Naga

Pada 2017 lalu, saya jalan-jalan ke Melaka, Malaysia setelah beberapa hari sebelumnya mengikuti satu acara di Negeri Selangor. Saat itu saya menginap di Settlement Hotel. Hotel bergaya Eropa ini merupakan sebuah rumah mewah yang disulap menjadi hotel. Ada yang unik dari hotel ini, mereka menyediakan sepeda bagi tamu-tamu yang menginap. Berhubung sedang menginap di sana, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan coba meminjamnya. Jadilah sore itu saya keliling Kota Melaka menggunakan sepeda dengan keranjang warna merah jambu.

Ingatan tiga tahun lalu itu tiba-tiba menyeruak begitu saja ketika beberapa hari yang lalu saya menginap di salah satu hotel di Banda Aceh. Ada tiga sepeda yang terparkir di dekat pintu hotel. Dugaan saya sepeda itu sama halnya dengan sepeda di Melaka yang bisa dipakai oleh tamu. Benar saja, informasi dari resepsionis, tamu boleh memakai sepeda tersebut.

Pada sore hari berikutnya, ketika waktu menunjukkan pukul 16.10 WIB, saya bersama dua teman turun ke lobi. Menuju ke resepsionis untuk mengonfirmasi kalau kami ingin menggunakan sepeda itu. Setelah mengambil sepeda itu, kami bertiga lantas menuju kawasan Alue Naga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel, sekitar 3,5 kilometer.

Sudah hampir setahun saya tidak berkunjung ke Alue Naga. Saat masih kuliah di Unsyiah dulu, selama rentang tahun 2012 hingga 2016, saat bosan mendera saya kerap ke Alue Naga untuk menghalau rasa bosan.

Ketika sepeda yang kami kayuh sudah berada di ujung jembatan Krueng Cut dan berbelok ke kiri menuju Alue Naga, saya terperanjat. Ada banyak sekali anak muda yang berkumpul di sana. Taksiran saya, sebagian dari mereka adalah anak SMA dan mahasiswa. Ada yang berkumpul bersama temannya sambil makan jajanan, ada yang membawa pancingan tapi dengan busana rapi dan bersih, dan sebagian lainnya asik berduaan tanpa menghiraukan pengunjung lainnya. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Tanpa menghentikan laju sepeda, kami terus mendayung perlahan. Tujuan kami sore itu adalah ujung jalan Alue Naga. Di mana di sana nantinya, kita bisa melihat laut lepas dan Pulau Weh.

Alue Naga sendiri adalah nama sebuah desa di Kecamatan Syiah Kuala. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan pencari tiram. Berbatasan langsung dengan laut dan sungai membuat warga setempat jadi mudah mencari ikan dan tiram. Terkadang, saya terharu ketika melihat mak-mak yang tentunya sudah tidak muda lagi ini harus menyelam sekian lama untuk membawa tiram ini ke permukaan.

Ketika kami tiba di ujung jalan Alue Naga, sang surya sudah mulai terlihat di ufuk barat, rona jingganya seolah tumpah di hamparan laut. Kawanan burung camar tampak kembali ke peraduannya. Terbang beriringan seolah ada yang mengatur formasi terbangnya.

Teman saya dengan gayanya menatap senja meminta kami untuk memotretnya. Katanya, biar orang Medan tahu di Aceh punya banyak laut yang indah. Ya, teman saya ini adalah orang Medan yang tengah menuntut ilmu agama di Aceh.

Ketika sedang memotretnya, tiba-tiba saya mendengar seorang ibu muda berteriak mengingatkan anaknya untuk tidak main terlalu jauh dari pantai. Si anak yang kakinya baru saja menyentuh air laut terperanjat mendengar suara ibunya. Cepat-cepat ia mengangkat kaki dan melihat ke arah ibunya.

Di sudut lain ada seorang bapak bersama keluarganya tengah mencoba peruntungan dengan melempar kail guna menangkap ikan. Setiap kali ke sini, saya selalu mendapati ada saja orang yang memancing ikan. Di sudut lainnya, di rangkang-rangkang kecil, sekelompok anak muda tengah santai menikmati senja.

Saya bersama dua teman, setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan pantai Alue Naga, akhirnya memutar haluan. Pulang. Kembali ke hotel. Matahari pun hampir tenggelam, beranjak meninggalkan siang dan siap-siap digantikan oleh kehadiran rembulan. Dari pergantian siang dan malam, kita belajar bahwa hidup terus berputar. Ada masanya kita berada di atas dan akan tiba masanya kita bukan siapa-siapa.[]

Penulis: Rahmat Aulia
Editor : Ihan Nurdin

Penulis adalah santri Dayah Mulia, Aceh Besar. Peserta pelatihan jurnalistik dan magang santri yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Dayah Aceh

KOMENTAR FACEBOOK