Kolom: Gaduh

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Lakukan sesuatu yang luar biasa, agar aku bisa mengingat namamu. Itulah kalimat yang diucapkan oleh Guru Desi Istiqamah, kepada siswinya Nuraini binti Syafruddin, seorang anak yang telah “dikutuk” oleh matematika, sehingga sekuat apapun dia belajar, dia tidak pernah bisa memahami ilmu tersebut.

Aini, demikian anak itu dipanggil, sebagai tokoh utama –bersama Guru Desi– di novel Guru Aini, karangan Andrea Hirata, setelah dipertemukan dengan Kalkulus, berubah menjadi penggila matematika. Ia terpanggil untuk belajar, setelah ayahnya jatuh sakit oleh sebuah virus. Aini belajar matematika karena ingin kuliah di Fakultas Kedokteran. Ia ingin menemukan obat untuk ayah. Aini lulus di fakultas tersebut. Tapi dia gagal masuk perguruan tinggi karena tidak memiliki uang pendaftaran yang jumlahnya tidak sedikit.

Desi guru yang baik. Ia berhasil memotivasi Aini bangkit dari kebodohan. Guru Desi bukan saja dapat menghafal nama gadis Melayu itu dengan sangat baik, tapi juga direkatkan ke ulu hati. Tapi, Guru Desi, adalah atom di negeri yang ditulis di dalam novel itu.

Apa yang ditulis oleh Andrea Hirata di dalam novel tersebut merupakan fiksi. Tapi sekaligus fakta, betapa banyak anak bangsa di negeri ini, gagal mewujudkan mimpinya, bukan karena tidak memiliki kompetensi. Tapi karena mereka tidak memiliki uang dan koneksi.

Uang dan koneksi adalah kutukan bagi orang miskin. Mereka yang miskin merupakan distopia.

Sebuah sinema Hindustan–saya sudah lupa judulnya, seorang anak mengatakan kepada bapaknya “terlahir miskin adalah nasib. Tapi mati dalam keadaan miskin, merupakan sebuah kesalahan.” Kalimat itu adalah semangat. Semacam lecutan untuk bangkit. Tapi, negeri ini tidak seindah sinema India yang happy ending. Negeri ini tidak memberikan ruang yang cukup bagi para pejuang untuk bangkit. Sejak menapak bangku sekolah, kaum “sudra” sudah dijegal untuk menonjolkan diri. Mereka “dikarantina” sehingga tidak bisa berkembang. Mereka tidak bergerak lebih jauh, karena tidak diberikan peluang. Mengapa? Karena mereka tidak punya uang.

Berapa banyak orang-orang “hebat” harus terjerembab ke lembah hitam, dan gagal menjadi hebat, hanya karena ketidakadilan. Mereka, melalui suara-suaranya, hanya diberi sedikit ruang ketika pemilu tiba. Para bandit-bandit politik mengunjungi mereka, sembari membawa sejumlah sembako dan segudang janji palsu. Setelah pemilu, janji-janji itu diingkari dengan sengaja. Pengalaman buruk yang terjadi berulang-ulang, membuat kaum “dalit” di negeri ini menjadi beringas. Berubah menjadi monyet-monyet yang rakus. Mereka menjual suaranya dengan harga semahal mungkin. Tidak ada pilihan gratis. Setiap gambar dan nama yang dicoblos harus diganti dengan sejumlah uang.

“Sesama monyet harus saling mendahului menerkam. Karena sopan santun hal yang tabu dilakukan. Dunia primata tidak mengenal kompetensi.

***
Saya teringat nasihat seekor monyet yang saya temukan di dalam sebuah roman. ketua kelompok primata yang mengaku telah menjadi eungkong, mengatakan di negeri Siben 1000 kebaikan yang dilakukan, tidak dianggap penting oleh pemangku kebijakan. Maka sia-sialah berbuat baik. Karena orang yang berbuat baik akan dianggap lemah.

“Kusarankan padamu, bekerjalah sekuat tenaga untuk mencari aib mereka. Dengan begitu kau akan dianggap penting dan akan diajak untuk sama-sama menghancurkan negeri ini.”

Eungkong itu berkata lagi, lihatlah di duniaku ni, siapa yang berada di lingkaran kekuasaan? Siapa yang berada di lingkar pinggang pemimpin? Apakah primata yang berintegritas?

“Di kalangan pembesar monyet, mereka ingin terlihat bersih, tapi tidak mau berbuat benar. Mereka mau dikesankan jujur, tapi tidak bersedia bertindak jujur. Mereka ingin dicitrakan salih, tapi tidak mau menjaga amalan.”

Mereka juga ingin terlihat baik, tapi berteman dengan para bandit.

***

Di Aceh, orang yang serupa dengan nasib Aini sangatlah banyak. Tapi, pemimpin yang serupa dengan yang diceritakan oleh ketua monyet, bila pun ada, jumlahnya tidaklah banyak.

Aceh tanah spesial. Negeri yang menjunjung tinggi syariat Islam. Rumah tempat berkumpulnya orang salih. Beranda hidupnya orang bertaqwa. Mesjid tempat tafakkur orang-orang yang sangat takut kepada azab Allah.

Pemimpin di Aceh semuanya petarung melawan kejahatan. Mereka berjuang siang dan malam untuk membangun negeri ini yang tertinggal puluhan tahun bila dibandingkan dengan daerah lain. Dengan semangat keikhlasan setingkat sufi, tidak pernah tidur dengan niat berleha-leha. Dalam 24 jam, 22 jam digunakan demi kerja-kerja membangun bangsa, memajukan daerah. Betapa mulianya petinggi di Aceh. Kita harus bangga.

Lalu, mengapa pula Aceh masih saja gaduh? mengapa masih ada ribut-ribut? Padahal mereka semua adalah individu yang baik.

Aceh menerapkan demokrasi yang sesungguhnya. Di dalam sistem ini, semua orang dibenarkan berdinamika di ruang terbuka. Saling memberikan masukan di depan forum ramai tanpa membedakan kelas.

Demokrasi haruslah ribut-ribut. Wajib gaduh.

Bila tidak ribut, tidak gaduh, itu pertanda demokrasi telah mati.

Hanya saja, saking gaduhnya, orang-orang seperti Aini mendapat porsi perhatian yang kecil. Orang-orang tulus tidak sempat diberi apresiasi, konon lagi disediakan ruang.

Demokrasi telah menyita sebagian besar energi orang-orang baik di Aceh.

Tersita untuk serius menyimak orang-orang bergaduh walau hanya lewat koran dan media, dan akhirnya tiba pada pemilu selanjutnya. Saat musim itu nanti tiba, secara kolektif mereka tersadar. Kemudian menyampaikan janji-janji baru. Setelahnya, mereka kembali berdinamika di dalam riuh-rendahnya demokrasi. []

Penulis adalah CEO aceHTrend.