Reportase Maria (10): Menggapai Palestina dari Batas 3 Negara

Maria Karsia di Kota Taba, perbatasan antara Mesir dan Israel. [Ist]

Laporan Hj. Maria Karsia, M.A

Niat mengunjungi Palestina untuk salat di Masjidil Aqsa, sudah lama dilontarkan oleh ibu mertua saya, Hj. Siti Fatimah (89). Sejak beberapa tahun terakhir, niat itu makin membulat, sampai akhirnya membuat kami bertekat untuk mengabulkan permintaannya sekaligus tekat bersama sekeluarga, untuk ke Palestina .

Sejak dua tahun lalu kami mulai mencari travel perjalanan yang cocok, mengingat usia mertua dan ibunda saya–dua-duanya sudah sepuh, 89 tahun dan 82 tahun. Dengan kemampuan fisik yang sudah jauh berkurang. Akhirnya setelah penyesuaian jadwal tugas penempatan di luar negeri dan cuti kerja diperoleh suami, kami memutuskan untuk berangkat di bulan Januari 2020. Perkenalan dengan pemilik Al Amien Tours, Isyana Hani dan suaminya Amin beberapa kali kami lakukan. Hal tersebut kami lakukan untuk mendapat penjelasan program tour yang kami akan ikuti dengan persiapan yang matang. Tour perjalanan tiga negara.

Mencapai Palestina/Israel kami akan masuk melalui perbatasan Jordan – Israel, pintu perbatasan di kota Allenby. Kemudian kami akan keluar dari Palestina menuju Mesir, melewati perbatasan Israel dan Mesir di kota Taba.

Sejak awal diwanti-wanti untuk bersiap diri, adanya kemungkinan permohonan visa untuk Israel ditolak mengingat kondisi keamanan di negara tersebut. Memang kami mau ke Palestina, tapi itu artinya kami memasuki Palestina dan harus tunduk pada otoritas Israel yang menguasai Palestina sejak 1967.

Komplek Al Aqsa dipotret dari bukit Zaitun. [Maria Karsia]

Apply visa dilakukan 40 hari sebelum tanggal keberangkatan, dan diberitahu bahwa kemungkinan visa Israel baru keluar sangat mepet menjelang hari keberangkatan. Bahkan kemungkinan terburuk, kami sudah sampai di perbatasan Jordan Israel visa baru diperoleh. Visa Jordan keluar kurang lebih seminggu sebelum keberangkatan. Sementara visa Israel sampai 2 hari sebelum keberangkatan masih belum keluar. Saya mengingatkan mami dan mami mertua untuk selalu berdoa, agar visa Israel segera keluar. Namun, dalam hati, saya juga harus mempersiapkan diri kemungkinan visa kami tidak dikabulkan. Sampai pada dua hari sebelum keberangkatan, saya whatapps pemilik travel, Isyana. Kami mengabarkan bahwa sekeluarga pasrah saja, tetap berangkat sambil terus berdoa. Jika memang rezeki kami, Insya Allah, visa itu akan keluar.

Perbatasan Yordania menuju Jericho, Israel. [Maria Karsia]

Alhamdulillah, tepat satu hari sebelum keberangkatan, visa yang ditunggu kabarnya, dikeluarkan otoritas Israel. Isyana bilang, kadang visa grup keluar tapi tidak semuanya. Kami beruntung, karena semua anggota grup wisata yang berjumlah 15 orang, termasuk pemandu wisata, Arie Sugari Sujana yang akan menemani kami sepanjang perjalanan wisata di tiga negara. Namun, lagi-lagi kami diwanti-wanti, walau sudah menggenggam visa di tangan, tergantung nanti pemeriksaan visa di check point perbatasan, seseorang bisa saja tiba-tiba batal diizinkan masuk ke Israel/Palestina untuk sebab yang tidak akan dijelaskan.

Kami tiba di Jordan dan mengunjungi tempat Ashabul Kahfi dan Petra. Reportase tentang ke dua tempat itu akan ditulis terpisah.

Hari ke tiga kami di Jordan, mulai bergerak ke perbatasan Jordan dan Israel, kota Allenby.

Diingatkan oleh Mas Arie, untuk tidak mengambil foto selama memasuki perbatasan, serta tidak menunjukkan bisa atau fasih berbahasa Inggris, dan apapun pertanyaan yang diajukan oleh petugas imigrasi, langsung tunjuk ke belakang, karena pemandu atau tour leader antri paling belakang. Juga tambahan, setelah selesai jangan menunggu di depan konter imigrasi menunggu rombongan, jalan saja sampai ke luar, tunggu di tempat yang mudah dilihat.
Sebelum memasuki Allenby, kami berkesempatan membeli souvenir khas Laut Mati, seperti lumpur masker wajah, cream untuk urut, garam, sabun dan lainnya di perbatasan Jordan dengan Israel.

Pemandu wisata mengatakan, membeli produk Laut Mati lebih baik di perbatasan Jordan karena ketika masuk Israel, maka produk yang dijual semua adalah produk Israel. Untuk solidaritas atas Palestina, dianjurkan untuk tak membelinya di sana.

Ketika sampai di perbatasan Allenby, dan karena sudah diingatkan untuk tidak mengambil foto apapun menjelang check point, sayapun menyimpan kamera dan HP di tas. Tour guide kami, Mumtaz yang berkebangsaan Jordan sudah berpisah di check point wilayah Jordan. Dia tidak dapat masuk ke perbatasan Israel.
Dia menceritakan, dulu ketika otoritas Palestina masih berkuasa, orangtuanya biasa salat subuh di Masjid Aqsa dan kembali ke Amman dalam waktu 2 jam untuk melanjutkan kerja mengingat jaraknya yang dekat, tak jarang mereka melaksanakan salat jumat di Masjid Aqsa. Namun sejak 1967, hal itu tak dapat dilakukan karena otoritas Israel tak mengizinkan orang berkebangsaan Jordan masuk ke wilayah Palestina.

Saya sempat tercenung mendengar pernyataan Mumtaz, apa rasanya tinggal sebegitu tak berjarak dari Palestina, tapi tak dapat beribadah ke Masjid Aqsa.
Lamunan saya buyar, karena bis telah sampai ke check point pemeriksaan imigrasi Israel. Kami pun turun, membawa koper bawaan masing-masing berbaris rapi masuk, termasuk ibu-ibu kami yang sepuh. Untunglah koper sudah beroda 4, jadi tinggal didorong dan dapat jadi penopang seperti tongkat.

Mungkin karena pikiran agak tegang, saya khawatir kami akan ditolak masuk Palestina, membuat saya lupa di mana saya meletakan tas tangan saya. Terpikir saya mungkin meninggalkannya di bis, sebelum turun. Bis sudah jalan kembali masuk ke perbatasan Jordan, agak panik saya mencoba berlari kembali ke luar. Untung ada Mas Ari pemandu wisata yang menenangkan. Suami saya sedang membimbing ibu saya dan mertua untuk berbaris sesuai urutan nama di list visa grup untuk memudahkan pemeriksaan pihak imigrasi. Ternyata saya telah meletakan tas saya di kotak untuk masuk X Ray check barang bawaan. Setelah saya melihatnya sebelum tas itu masuk ke dalam mesin X Ray, sayapun kembali tenang.

Di luar dugaan, pemeriksaan yang kami pikir akan ada kendala, malah lancar. Ada hal mengejutkan, petugas imigrasi yang memeriksa ibu mertua dan ibu saya malah menyapa dengan bahasa Indonesia. “Apa kabar ibu? Dari mana?”
Hati saya bergetar dan terasa hangat, di cuaca yang dingin menusuk tulang ini, mendengar petugas itu menyapa. Saya menyaksikan dan mendengar adegan itu karena urutan mengantri di belakang mereka. Hanya jarak lima meter dari batas counter ke antrian tempat saya berdiri.

Ketika keluar dari gedung sederhana yang tak besar dan hanya memiliki satu pintu keluar bagi pelintas batas itu, haru biru rasanya. Bahagia, dan ingin menangis, Ya Allah, kami sekeluarga memasuki wilayah Palestina. Tanah yang Engkau berkati, angin semilir yang sejuk menerpa wajah. Saya peluk mertua dan ibu saya sambil berisik, “Sebentar lagi mami, kita akan masuk Al Aqsa, cita-cita kita sebentar lagi akan terwujud, menunaikan sholat di sana.” Saya melihat, mata tua dari wajah-wajah ibunda kami berkaca-kaca, tapi senyum mereka merekah dan sambil tertawa kecil, mertua saya mengatakan, “Iya, alhamdulillah, alhamdulillah, tak berhenti mami bersyukur untuk hari ini, terimakasih ya, sudah antarkan mami sampai ke sini.” Kami pun tertawa bahagia, sambil menikmati pemandangan Jericho.

Bis perlahan meninggalkan checkpoint terbatasan dan masuk di pinggiran kota Jericho untuk menuju ke Masjid Nabi Musa di kota ini. Sepanjang jalan kami melihat tanah kemerahan, kebun-kebun kurma yang menghampar luas di kiri kanan jalan.

Inilah “Kanaan”, nama Palestina dulu, tanah kelahiran tiga agama Samawi, Judaisme, Kristen dan Islam.

Kami hanya diberikan visa sesuai dengan schedule perjalanan yang diserahkan kepada Israel. Berarti hanya dua hari setengah kami akan berada di Palestina, tiga tempat yang akan dikunjungi adalah Jerussalem, Jericho dan Hebron. Bukan waktu yang longgar untuk melihat banyak hal.

Setelah dari Jericho, sore hari kami sampai di Jerussalem dan hari itu kami melihat kubah berwarna kuning keemasan dari atas bukit Zaitun yang sedang berkabut karena hujan dan cuaca dingin. Itulah pertama kali saya memandang takjub kompleks masjidil Aqsa dari kejauhan,untuk keesokan paginya masuk ke masjid AlQibli dan salat Subuh serta menghabiskan waktu berkeliling, menapaki jejak Rasulullah, sahabat nabi Khalifah Umar bin Khatab, dan juga tokoh – tokoh Muslim .

Lokasi hotel kami berjarak dua kilometer dari kompleks masjid. Ketika makan malam pertama di hotel, kami berjumpa dengan rombongan penziarah dari Indonesia. Mereka sudah 1 hari lebih awal sampai di Jerussalem. Ternyata mendengar cerita mereka, dua orang dari anggota rombongan terpaksa tidak dapat melanjutkan memasuki Palestina, di perbatasan Allenby mereka tidak diizinkan untuk masuk wilayah Palestina. Tak seorangpun mengetahui alasannya. Itu membuktikan perkataan dari tour guide kami, dan juga pemilik travel Al Amien Tours, bahwa tak semua orang yang sudah memiliki visa dapat masuk ke Palestina. Sekali lagi, sekali lagi, saya mengucap syukur atas berkah keberuntungan yang Allah ridhoi, kemudahan masuk Palestina yang tak semua orang dapat merasakannya.

Setelah dua hari setengah di Palestina, kami bersiap menuju perbatasan Israel dan Mesir, untuk menuju Taba.
Jarak yang akan ditempuh sekitar 800 km untuk mencapai Cairo dari Taba, melewati semenanjung Sinai, melintas singgah di kota St. Khaterina, kota Sadom, melewati terusan Suez yang terkenal untuk menyebrangi benua Asia menuju benua Afrika.

Maria Karsia di Kota Taba, perbatasan antara Mesir dan Israel. [Ist]

Sesampai di Taba, kami tak lagi diliputi rasa khawatir seperti ketika masuk ke Israel. Ketika mengantri di imigrasi Israel, Muchtasin guide kami berkebangsaan Palestina bisa mengawal kami sampai di batas pintu imigrasi.
Ketika menginjakan kaki keluar dari wilayah Palestina, saya untuk terakhir kali menengok ke belakang di dalam hati terbersit keinginan, semoga suatu waktu nanti kami dapat kembali ke Palestina. Ada sebersit rindu tertinggal di Jerussalem. Saya memandang check point perbatasan Israel lekat-lekat, karena tak boleh mengabadikannya dengan kamera, saya berusaha merekam dan mengingatnya di hati. Lamat – lamat, saya berucap selamat tinggal kepada tanah Palestina, dan melanjutkan langkah kaki menuju gerbang Kota Taba, kota transit kami untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan besok hari menuju Kairo. Suhu udara sore itu tak lagi terasa dingin, karena ada perbedaan suhu yang lumayan besar antara Palestina dan Mesir. Walau masih terasa dingin, tapi suhu 12°C jauh lebih hangat terasa dari 3°C di Jerussalem.

Penulis adalah traveller, penulis buku dan mencintai kuntum mekar di mana saja.