Corona dan Daftar Hitam untuk aceHTrend

Virus Corona di China @bbc

Corona bukan wabah virus yang paling mematikan. Tapi berhasil menggemparkan dunia, setelah awal kemunculannya di Wuhan, Cina. Corona, kini telah berubah menjadi hantu, khususnya di daerah-daerah yang komunikasi politik pemerintahnya sangat buruk.

Pada Selasa malam (10/3/2020), Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mengeluarkan rilis mendesak agar rombongan Plt Gubernur Aceh, yang pulang dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk dikarantina terlebih dahulu, sebelum kembali ke tengah-tengah publik Aceh. Sejumlah media memublikasikannya, termasuk aceHTrend.

Tapi, sial! Ternyata reaksi orang-orang di kalangan pemerintah, termasuk yang ikut ke UEA, sangatlah berlebihan. Mereka melakukan bullying kepada media yang mewartakan, termasuk menyebut itu tidak layak sebagai berita.

Kami di redaksi tentu saja tertawa ketika sasaran bullying itu ditujukan kepada aceHTrend. Kok tiba-tiba ada yang marah dan bereaksi sedemikian rupa? Padahal selama ini aceHTrend tetap memublikasikan rilis pemerintah yang sifatnya “angkat telor”, walau aceHTrend bukan bagian dari mitra publikasinya Pemerintah Aceh. Ketika “advertorial” tak berbayar itu terus menerus dipublish oleh aceHTrend, mengapa apreasiasi tidak pernah datang? Mengapa, ketika ada berita yang meminta agar rombongan elite yang pulang dari UEA dikarantina terlebih dahulu, reaksinya berlebihan? Padahal, di RSZA sendiri saat ini ada pasien yang kondisinya sehat-sehat saja, tetapi tetap dirawat dan dinyatakan suspect corona karena baru pulang dari luar negeri. Bukankah wajar publik bertanya-tanya mengapa ada perbedaan perlakuan?

Khusus kepada aceHTrend, seseorang berkali-kali mengatakan bila media ini telah masuk black list oleh Pemerintah Aceh. Seolah menegaskan kabar angin yang selama ini kami dengar. Kalau aceHTrend sudah masuk daftar hitam pemerintah, mengapa pula harus repot-repot mempersoalkan informasi yang kami wartakan? Kalau merasa dirugikan, kan ada hak jawab? Kalau kami melanggar hukum, silahkan gugat kami? Kok harus seperti sinetron Indonesia menyikapi hal tersebut? Lebay!

Kami melihat bahwa ada persoalan serius di lingkaran Pemerintah Aceh. Patut diduga kualitas komunikasi yang mereka bangun sangat buruk. Bukan hanya di lapisan bawah, selevel Ka biro Humas Aceh saja, cara komunikasinya sangat jelek. Berkali-kali aceHTrend menghubungi pada beberapa kesempatan responnya seperti orang hendak dimintai utang. Tapi rilis dari mereka tetap rutin dikirim ke redaksi aceHTrend. Dan, dengan senang hati kami muat. Karena banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah, perlu kami sampaikan ke publik.

Tapi, ke depan, kami akan lebih berhati-hati memberikan ruang kepada Pemerintah Aceh. Jajaran di bawah gubernur banyak yang tidak tahu diri. Menganggap media sebagai sampah dan bisa memperlakukannya secara tidak adil. Seakan-akan media sangat tergantung kepada kebaikan hati mereka.

Perihal corona, bila kami ingin merusak citra Pemerintah Aceh, tentu rilis YARA akan meletup menjadi kekacauan sosial, bila media–termasuk aceHTrend– menggorengnya. Menulis berbagai kelemahan Pemerintah Aceh dalam menangani corona dan membumbuinya dengan ragam informasi lain.

Bila media melakukan hal itu, publik akan panik. Ingat orang Aceh mudah panik. Bahkan untuk isu penculikan anak saja mereka bisa panik luar biasa, konon lagi isu corona yang tidak bisa dilihat pergerakannya.

Lagi-lagi, media resmi dan terverifikasi–seperti aceHTrend– tidak sedemikian buruk. Pengelolanya masih memiliki hati nurani. Bukan perampok yang menyaru sebagai wartawan. aceHTrend dikelola oleh profesional yang memiliki kompetensi dan minimal lulus perguruan tinggi terakreditasi. Kami juga tidak datang dari satu kantor ke kantor lain sembari memperlihatkan listing kasus dan meminta uang damai, dan apabila tidak diberikan uang, akan berteriak-teriak di media. Kami tidak di level itu.

Kiranya, kami tidak butuh pujian. Tapi pemimpin juga harus menyadari, betapa banyak orang-orang yang diberikan mandat membangun komunikasi, ternyata berkepribadian ganda. Menjadi tukang nyet-nyet di media sosial dan sebagian lain selalu men-screen shoot pemberitaan di media dan mengirimnya ke atasan sebagai bahan agar media tersebut masuk listing hitam. Walaupun berita yang tidak memihak hanya dua di antara 30 berita yang memberikan dukungan kepada pemerintah. Karena tugas mereka hanya itu, memperbanyak daftar “musuh” pemerintah. Dengan bertambahnya daftar musuh pemerintah, maka uang akan semakin besar mereka dapatkan. Tujuan akhir adalah kooptasi sumber ekonomi.

Terkait apapun motif di belakang YARA, apa yang mereka sampaikan sudah benar. Mengapa rilis itu bisa tayang? Karena pemerintah tidak menjelaskan ke publik bagaimana proses pemeriksaaan keluar masuk Aceh melalui Bandara SIM, di tengah semakin maraknya corona di berbagai belahan dunia.

Hari ini, World Health Organisation (WHO) mengatakan bahwa corona atau covid-19 yang ditemukan pertamakali di Wuhan, Hubei, Tiongkok, pada 2019 sebagai pandemic/penyakit yang berpotensi menyebar ke berbagai belahan dunia dengan sangat cepat. WHO juga menganggap covid-19 bukan krisis kesehatan publik biasa lagi. Karena 118 ribu kasus terkonfirmasi sebagai covid-19 dan menyebar di lebih 110 negara di benua Asia, Eropa, Afrika, Australia, Amerika, kecuali Antartika.

Menyikapi persoalan corona, bukan komunikasi yang dihentikan. Tapi komunikasi dibuat berjalan, agar semua masyarakat paham bagaimana bahayanya pandemi tersebut. Membully media dengan memberikan label buruk yang dilakukan oleh sejumlah orang yang bekerja di lembaga Pemerintah Aceh, bukanlah solusi. Selain karena telah berjasa menjaga kondisi sosial, media memiliki tanggungjawab moral mengingatkan pemerintah agar patuh pada aturan yang telah dibuat untuk penanganan masalah. Bukan justru menjadi contoh buruk betapa aturan yang dibuat tidak pernah berlaku untuk pejabat besar.

Manusia tidak pernah bisa mengubah masa lalu. Tapi bisa menyiasati masa depan dengan melakukan langkah kebaikan di masa kini. []