Ujian dari Covid-19

Muhajir Juli. CEO aceHTrend. Peminat kajian politik, hukum dan sosial budaya. [Teungku Hendra Keumala/aceHTrend]

Oleh Muhajir Juli

Sebelum Pemerintah Aceh mengambil keputusan meliburkan sekolah, banyak orang meminta agar sekolah diliburkan. Mereka beralasan bila tidak diliburkan, akan banyak orang tertular covid-19. Kini sekolah diliburkan 14 hari, dengan catatan siapapun, bila tidak ada hajat yang sangat penting, tidak perlu keluar rumah.

Tapi, persoalan tidak selesai. Justru muncul persoalan baru. Sejumlah orang di grub-grub WA mulai bertanya mengapa liburnya 14 hari? Mereka butuh penjelasan. Di internet penjelasan itu tersedia. Tapi mereka sepertinya masih enggan mencari jawaban. Mereka hanya butuh pertanyaan, tepatnya soal untuk mem-bully pemerintah.

Sejumlah guru pun menyayangkan keputusan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, yang meliburkan sekolah dan mengimbau siswa dan pelajar belajar di rumah. Belajar online atau apalah namanya. Para cikgu itu, menilai anak-anak yang mereka asuh tidak akan maksimal belajar di rumah. Mereka butuh guru dan bertemu secara tatap muka.

Saya kira, guru model ini, benar-benar telah gagal memahami pendidikan. Betapa sialnya para murid yang dididik oleh mereka yang tak bisa membedakan skala prioritas. Ini merupakan wujud nyata illiterate oknum pendidik. Ternyata benar kata seorang pejabat pada suatu ketika di Umuslim,saat wisuda: “Zaman sekarang orang buta huruf bukan lagi yang tidak mengenal aksara. Tapi yang gagal memahami fungsi pendidikan di tengah kemajuan teknologi.”

Belajar di rumah, adalah bahasa kias saja. Sejak dahulu hingga zaman kembali ke era purba–bila saja ada, belajar di rumah bukanlah seperti di dalam kelas. Itu hanya permainan kata. Bahasa sebenarnya: operasional sekolah untuk sementara waktu ditiadakan. Silahkan berdiam diri di rumah. Belajar menahan diri, juga bentuk dari belajar. Di luar rumah sedang tidak aman. Covid-19 sedang mengintai. Bila tertular peluang untuk mati terbuka lebar. Mati dalam keadaan menyakitkan.

Dalam konteks mitigasi, langkah Nova Iriansyah sudah tepat. Keputusannya meliburkan sekolah, sebagai upaya mengurangi jumlah sebaran massa yang berkonsentrasi di sebuah tempat, yang patut diduga akan menjadi tempat tertularnya covid-19. Ini hanya ikhtiar manusia. Jeda 14 hari juga ikhtiar. Karena biasanya orang yang tertular corona, akan terdeteksi dalam waktu demikian. 14 hanya rentang masa, sebagai upaya manusia. Nova telah mengupayakannya.

Aceh belum di-lockdown (karantina). Semua masih dalam batasan normal. Jakarta juga belum lockdown. Hanya ada pembatasan tertentu saja. Belum waktunya pun untuk lockdown. Demikian pendapat sebagian yang lain. Lagian, siapa yang akan mampu mengatur orang Aceh ketika negeri ini dikunci untuk sementara waktu. Orang di sini dikenal no peureuman seupay, hana peureumeun sapu. Kalau sudah bicara lockdown, maka militer-lah yang pantas diberi mandat mengawal. Nah, nanti akan muncul protes lain lagi.

Bila ditanya kepada saya, tentu lockdown belum perlu. Karena itu pilihan terakhir. Tapi, sejumlah orang sudah mulai menyuarakan lockdown. Di dalam demokrasi, semua suara boleh diteriakkan. Tapi tidak semuanya perlu didengar.

Tertularnya menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf menjadi pelajaran penting bahwa covid-19 bukan virus yang bisa dianggap enteng. Virus ini “ramah” bagi siapapun. Tak mengenal kasta, tak mengenal sekat negara. Bermula dari Wuhan, Cina yang sudah berhasil melawannya, hingga ke Eropa, Amerika, Auatralia, Asia, juga ke Indonesia. Covid-19 tidak mengenal agama. Apalagi kelompok ormas. Semua akan dihajar, bila mendapat sial bersinggungan dengan orang yang telah terpapar.

Tak perlu bandel. Ikuti saja anjuran pemerintah. Cuci tangan pakai sabun, tunda bersalaman, menjauh dari keramaian bila tidak perlu, hindari orang yang baru tiba dari tempat jauh. Juga jangan berkumpul di tempat pariwisata. Jangan pulang kampung serta jangan sebar hoaks.

Di tengah minimnya alat pelindung diri seperti masker dan cairan pencuci tangan, semua yang menyadari bahaya covid-19 menjadi khawatir. Tenaga medis juga khawatir. Ini juga menyangkut komptensi dan kesiapan fasilitas. Kita belum benar-benar siap bila covid-19 menyerbu dari segala penjuru. Makanya, pembatasan interaksi menjadi penting. Sebagai penangkal yang paling masuk akal.

Covid-19 adalah wabah, yang pasti datang di tiap zaman. Ini penyakit, tapi belum tentu kutukan. Jangan melampau Tuhan ketika bicara wabah. Karena sejak zaman para anbiya, wabah selalu ada. Wabah adalah ujian, siapa tahu setelah badai ini selesai, kita akan menjadi bangsa yang luar biasa hebat. Hanya saja, apakah kita akan berhasil lulus dari ujian ini?

Dari Wuhan, Cina, dilaporkan bahwa covid-19 sudah berhasil ditangani. Memang ada yang meninggal dunia. Tapi banyak juga yang berhasil diselamatkan. Bagaimana dengan Indonesia? Kita baru memulainya. Kita baru masuk ujian itu. Siapkah pemerintah kita? Semoga saja.

CEO aceHTrend