Indonesia Dilema Lockdown, Derita Corona di Tengah Ancaman Krisis Moneter

Hidayatullah

Oleh Hidayatullah

Wabah Corona (Covid-19) ibarat petir yang menyambar bagi setidaknya 150 negara dunia. Sejumlah negara sudah melakukan lockdown sebagai upaya pengendalian penularan covid-19. Dengan melakukan lockdown, artinya semua akses masuk dan keluar sama sekali tidak boleh dilakukan.

Di Indonesia, kasus positif corona melonjak drastis yakni sudah mencapai 172 orang selang beberapa hari sejak diumumkan kasus pertama yang hanya menjangkit 2 orang. Saat ini juga ribuan orang sedang dalam pemantauan dan sebagian besar sedang di rawat dengan status suspect corona. Kita semua berharap hasil pengujiannya negatif.

Di tengah berkembangnya infeksi virus corona yang begitu agresif, muncul pro kontra dan tolak tarik kebijakan mengenai apakah sudah saatnya Indonesia melakukan lockdown, terutama antar kebijakan pusat dan daerah.

Lantas, apa akibatnya jika Indonesia melakukan lockdown ataupun tidak?

Lockdown

Seandainya Indonesia melakukan lockdown, ada konsekuensi yang harus diterima oleh Indonesia. Konsekuensi ini bisa jadi salah satu alasan pemerintah belum melakukan lockdown hingga saat ini, yaitu: ‘krisis moneter’. Ya, krisis moneter tentu saja menjadi bom waktu yang sangat diantisipasi, apalagi di tengah sangat loyonya ekonomi Indonesia. Terlebih lagi, kita masih belum begitu bisa begitu move on dengan krisis moneter yang terjadi menjelang reformasi yang begitu banyak menyisakan catatan hitam.

Indonesia masih menjadi negara konsumtif yang mana masih sangat banyak kebutuhan mendasar yang masih tergantung dengan impor. Dengan melakukan lockdown, artinya Indonesia juga menutup keran Impor yang akibatnya semakin meningkatkan kelangkaan. Efeknya adalah harga kebutuhan pokok menjadi sangat melambung tinggi hingga puluhan kali lipat.

Indonesia juga negara yang indeks pembangunannya masih banyak bergantung kepada investasi luar negeri, baik melalui utang luar negeri maupun hibah. Dengan melakukan lockdown sama juga artinya dengan membatasi para investor untuk melakukan investasi di Indonesia. Hal ini juga tentunya mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dari modal investasi luar negeri juga berkurang atau malah terhenti.

Semua analisa di atas mengarah semakin mendekat kepada krisis moneter yang begitu kita cemaskan.

Tidak Lockdown

Penyebaran virus corona yang begitu cepat seakan memberikan kesan bahwa Indonesia semakin kewalahan mengendalikannya. Apalagi per hari puluhan kasus baru yang dilaporkan positif dan ratusan lainnya dalam pemantauan. Di tengah kekhawatiran yang mencekam ini, kita dikejutkan lagi dengan kedatangan tenaga kerja asing yang dikabarkan tanpa karantina. Padahal, Indonesia memang sudah membatasi penerbangan dari beberapa negara yang kasus corona paling tinggi. Namun, tanpa status lockdown dianggap belum cukup bentuk keseriusan pemerintah dalam mengendalikan penyebaran corona.

Dengan status belum lockdown, dikhawatirkan penyebaran corona dari penderita di dalam negeri susah dihentikan, karena memungkinkan terinfeksi untuk bebas ke mana saja setelah menginfeksi yang lainnya. Di tambah lagi, potensi terinfeksi baru yang lolos dari bandara saat pengecekan karena belum menunjukkan gejala karena masa inkubasi masih muda.

Dengan analisa demikian, pemerintah akan sangat kesulitan, karena harus mngendalikan penyebaran virus dari dua arah, belum lagi jika penyebaran virus sudah mencapai pedalaman Indonesia dan menginfeksi semua semua lapisan. Hal ini menyebabkan kasus terinfeksi corona seperti fenomena gunung es, yang hanya sebagian saja yang terpantau karena keterbatasan media, apalagi sampai sekarang, pengujian corona masih satu titik di pusat. Fenomena ini menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Akibatnya adalah, akan banyaknya korban dari infeksi virus corona, mengingat persentase kematian di Indonesia mencapai 4 persen, walaupun persentase kesembuhan lebih tinggi. Namun perlu diingat, jumlah penduduk Indonesia sangat banyak bahkan terbesar di Asia Tenggara. Artinya, dengan tidak melakukan lockdown, ratusan juta jiwa penduduk Indonesia terancam dengan peluang terjangkit corona lebih tinggi.

Dengan memperhatikan analisa di atas, yaitu antara lockdown ataupun tidak, kita memahami bahwa Indonesia sedang berada dalam tuntutan pengambilan keputusan yang sulit. Jika pemerintah masih percaya diri mampu mengendalikan penyebaran corona tanpa melakukan lockdown, maka risikonya sangat besar jika di luar perkiraan. Sebaliknya, jika terpaksa lockdown, Indonesia sudah bisa bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari gejolak ekonomi bangsa.

Jika akhirnya keputusan lockdown akhirnya terlaksana, saatnya Indonesia memaksimalkan potensi internal, khususnya untuk menghadapi krisis ekonomi. Indonesia Harus mampu menyediakan semua kebutuhan pokok warganya tanpa tergantung kepada luar, setidaknya sampai badai corona berlalu.

Namun jika lockdown tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, pemerintah harus memastikan dan bertanggung jawab penuh terhadap pengendalian Covid-19. Indonesia harus mampu mendeteksi infeksi secara detail, dan mempunyai alat pendeteksi dan fasilitas pengujian di seluruh Daerah di Indonesia. Juga pemerintah harus memastikan ketersediaan SDM yang layak dan cukup.

Terlepas dari itu, kita mengharapkan komunikasi yang kooperatif  dan transparan dari pemerintah, sehingga tidak menimbulkan polemik baru. Semoga badai cepat berlalu.[]

Penulis Warga Peusangan, Bireuen.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK