Jangan Lockdown Warung Kopi & Inspirasi Hollywood

Teuku Murdani.

Oleh T. Murdani

“Kondisi pengembangan teknologi umat Islam saat ini sangat lemah, sangat rendah. Jauh sekali berbeda dengan dunia Barat yang sangat pesat perkembangannya. Abang tahu tidak darimana inspirasi perkembangan teknologi Barat?”.

Saya mengeleng kepala sedikit untuk menunjukkan bahwa saya tidak tahu. Walau sebenarnya saya kurang mengikuti apa yang sedang didiskusikan, karena saya dari tadi sibuk dengan handphone.

Kemudian teman saya melanjutkan, Hollywood! Dengan nada sedikit ditekankan sepertinya dia ingin meyakinkan saya.

“Mereka membuat fiksi menjadi nyata, Hollywood-lah yang pertama sekali meramal manusia bisa menjajakan kakinya di bulan, kemudian National Aeromantic and Space Association (NASA) mewujudkannya. Kita umat Islam saat ini bermimpi saja takut,” pungkasnya dengan raut sedikit kecewa.

Kurang lebih dialog itu terjadi tahun 2015 di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Seperti biasa, dialog seperti itu merupakan diskusi pelengkap ketika menikmati segelas kopi dengan kolega. Saya menganggap diskusi tersebut seperti diskusi-diskusi lainnya dan akan menguap dengan sendirinya ketika keluar dari warung kopi.

Namun kalau dipikir-pikir ada benarnya juga cerita teman tersebut. Ketika kita belum sadar bahwa ada pesawat tempur yang terbang tidak bisa dilihat oleh mata, dan tidak mampu dideteksi oleh radar, Hollywood sudah memproduksi film tersebut dengan judul Stealth . Begitu juga dengan berbagai teknologi lainnya.

Saya bukanlah paramedis atau ahli kontra intelijen. Tetapi anggaplah tulisan ini sebagai sebuah konsumsi ringan sambil menghirup secangkir kopi sebelum warung kopi di Aceh di larang buka untuk beberapa minggu ke depan. Inisiatif menulis cerita ini muncul ketika saya berbelanja di salah satu supermarket di Canberra, Australia, dan saya kaget ketika melihat hampir semua barang habis diborong oleh pembeli. Kemudian manajemen supermarket membuat aturan batasan barang yang boleh dibeli oleh seseorang dalam sekali belanja.

Seketika saya terperangah, ternyata ancaman virus corona benar-benar telah mewabah ke berbagai negara termasuk Australia. Masyarakat Australia sudah mulai panik dengan memborong berbagai persediaan untuk berjaga-jaga seandainya Pemerintah Australia memberlakukan lockdown. Walau secara formal belum ada aba-aba lockdown tetapi mengikuti perkembangan di belahan dunia lainnya, masyarakat negeri kangguru sudah mengambil langkah antisipasi terlebih dahulu dengan menyetok berbagai kebutuhan.

Sedikit membingungkan memang, karena barang yang pertama langka di supermarket adalah toilet paper (tisu toilet). Saat ini stok beras, roti, telur dan lain-lain sedikit demi sedikit mulai menghilang. Sebelumnya saya agak pesimis cerita yang tidak jelas dengan gampangnya berseliwaran di medsos khususnya menyangkut perkembangan situasi di Aceh dengan berbagai teori, asumsi, komentar dan sebagainya.

Tiba-tiba saya teringat sebuah film Hollywood yang diproduksi tahun 2011 dengan judul “Contagion” kemudian saya cari dan nonton ulang cerita dalam film tersebut. Mungkin hanya kebetulan atau apa, namun cerita di film saya pikir sangat mirip dengan apa yang terjadi saat ini, wabah virus corona. Virus berasal dari sebuah tempat di China, menggemparkan seluruh dunia.

Dalam film tersebut juga digambarkan bahwa virus tersebut berasal dari China, sebuah desa yang tidak disebutkan tepatnya di mananya dan China merupakan daerah yang paling parah terserang virus tersebut. Kemudian diikuti oleh Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Centre for Desease Control and Prevention (CDC) yang dalam film tersebut sebagai sebuah institusi pengendali wabah penyakit di Amerika memprediksikan bahwa sumber virus tersebut berasal kelelawar dan babi. Virus tersebut kemudian dapat menular orang lain dengan bersentuhan tangan atau menyentuh sesuatu yang sudah pernah disentuh oleh orang yang sudah terinfeksi. Namun tidak semua orang dapat tertular oleh virus tersebut, khususnya terhadap orang-orang yang memiliki kekebalan tubuh yang baik.

Dalam film itu juga mengisahkan otoritas Amerika meliburkan sekolah dan me-lockdown beberapa negara bagian untuk menghentikan peredaran virus. Sebagai gantinya sekolah dilakukan online. Begitu juga dengan berbagai pekerjaan. Sementara CDC terus bekerja untuk mendapatkan vaksin sebagai senjata melawan virus tersebut.

Sepintas film itu seperti sebuah pesan yang dibuat pada tahun 2011 tentang virus corona, bagaimana penyebarannya, darimana sumber virusnya, bagaimana mengantisipasi penyebarannya, dan akhirnya ditemukan vaksin penangkalnya.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi atau apapun spekulasi yang mungkin bias dinarasikan, yang jelas waktu dan tempat kejadian perkara dalam film tersebut mungkin hanya kebetulan semata. Atau film tersebut sebagai bentuk spekulasi seorang penulis skrip yang memiliki imajinasi luar biasa, apa yang akan terjadi dalam 10 tahun ke depan di dunia ini.

Tiba-tiba saya teringat kembali kepada teman yang menceritakan kepada saya lima tahun silam bahwa Hollywood adalah inspirasi bagi teknologi Barat di sebuah warung kopi. Mungkin memang sudah tepat kalau Aceh melakukan lockdown, tetapi jangan warung kopi. Karena saya khawatir kalau warung kopi di lockdown juga maka tidak ada lagi inspirasi di Aceh. Karena warung kopi adalah sumber inspirasi di Aceh, sama seperti Hollywood di Amerika. Wallahu’alam.

Penulis adalah akademisi UIN Ar-Raniry. Penikmat diskusi dan peminat kajian sosial politik.

KOMENTAR FACEBOOK