Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 18, 35 Ton Bawang Bombay di Aceh Tamiang

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Sebanyak 1.835 karung atau 18, 35 ton bawang bombay berhasil disita petugas Kanwil Bea Cukai Aceh dan Bea Cukai Kuala Langsa di daerah Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada Senin (16/3/2020) pukul 02.00 WIB.

Dalam siaran persnya yang dikirim ke aceHTrend, Rabu (18/3/2020) Isnu Irwantoro, Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh, menjelaskan bawang bombay tersebut dimuat tiga sarana pengangkut darat, yaitu truck Mitsubishi Colt Diesel, dumtruck Mitsubishi Colt Diesel dan Mitsubishi L-300 pickup.

“Total karung yang disita oleh petugas Bea Cukai sebanyak 1.835 dengan masing-masing karung seberat 10 kilogram dan total berat barang ilegal adalah 18,35 ton. Bawang bombay hasil sitaan Bea Cukai tersebut ditaksir sebesar Rp.917.500.000,dan potensi kerugian negara sebesar Rp 155.975.000,” terang Isnu.

Isnu juga menjelaskan, keberhasilan penyitaan bawang bombay ilegal ini atas sinergi Kanwil Bea Cukai Aceh, Bea Cukai Kuala Langsa, dan Direktorat Pembekalan Angkatan Darat Tepbek 00-44-02.b/Langsa.

Terkuaknya aktivitas penyelundupan itu, berawal dari informasi yang diperoleh dari masyarakat, bahwa ada sarana pengangkut darat bermuatan bawang bombay ilegal di daerah Rantau. Atas informasi tersebut, tim gabungan menindaklanjuti dengan melakukan pencarian dan pengejaran dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

“Dari informasi yang didapat, mobil dengan ciri-ciri yang telah diketahui berhasil ditemukan dan langsung dilakukan pengejaran. Setelah mobil berhasil diberhentikan, petugas memeriksa muatan yang dibawa oleh mobil tersebut dan petugas mendapati mobil tersebut penuh dengan muatan bawang bombay tanpa dilengkapi dokumen pendukung,” kata Isnu.

Ketika diperiksa dan diteliti lebih lanjut, bawang bombay tersebut merupakan barang yang berasal dari luar daerah pabean dan tidak memiliki dokumen impor. Kata Isnu, menurut pengakuan sopir sarana pengangkut yang memuat bawang bombay, barang illegal tersebut akan diselundupkan ke wilayah Indonesia melalui perairan Aceh Tamiang, tepatnya di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

“Petugas telah mengamankan sopir beserta kernet sarana pengangkut darat yang mengangkut barang illegal tersebut.”

Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana penyelundupan barang impor diatur dalam Pasal 102 huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan “Setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah).