Drama untuk Mahar

The power of kepepet. Istilah ini akrab sekali dengan telinga saya. Banyak ide-ide kreatif lahir dari situasi-situasi yang tak terduga sama sekali. Salah satu market place terbesar di Indonesia, Tokopedia, lahir dari situasi kepepet. Ah, tak usah jauh-jauh. Salah seorang teman saya yang berdomisili di Kota Lhokseumawe, kini berhasil mengembangkan usaha kacang kulit. “Kondisi kepepet. Tak ada pilihan,” ujarnya saat kami bertatap muka dua dua tahun lalu.

Namun, apa yang dilakukan oleh Kahar Muzakar tentu sebuah pengecualian. Pemuda asal Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur itu sedang berada dalam situasi kepepet. Sebelas mayam mahar mendesak untuk dilunasi karena hari H untuk ijab kabul semakin dekat. Alih-alih mencari jalan “waras” untuk mengumpulkan mahar, pemuda yang usianya pun belum genap serempat abad itu malah merekayasa seolah-olah dirinya menjadi korban perampokan.

Baca: Terdesak Mahar Belum Lunas, Pria Aceh Timur Rekayasa Jadi Korban Perampokan

The power of kepepet yang satu ini tentu tidak untuk ditiru. Ide kreatif yang muncul dalam situasi kepepet ini bukan cuma membuat niatnya melangkah ke pelaminan gagal total, melainkan memendekkan jarak antara langkahnya dengan jeruji besi. Anak muda itu bermain-main dengan hukum. Ia berani membuat keterangan palsu.

Saya bersuuzan, ada banyak Kahar Muzakar lain yang rela melakukan tindakan-tindakan konyol demi memuluskan niatnya mempersunting calon istri.

Sebagai pemudi, saya tentu tidak bisa merasakan bagaimana sulit dan gelisahnya menjadi seorang Kahar Muzakar (baca: pria) yang tengah berjuang mati-matian demi mengumpulkan mahar. Maklum, sebagai pemudi, notabenenya saya adalah yang menerima mahar.

Namun, bukan berarti saya buta dengan situasi tersebut. Banyak kok kejadian-kejadian “lucu” yang memperlihatkan betapa mahar telah menjadi momok yang begitu mengerikan bagi pria-pria yang ingin menikah, tapi tak didukung oleh isi dompet. Kadang-kadang, ada yang untuk kebutuhan sehari-hari saja masih disubsidi orang tua tapi sudah kebelet ingin menikah. Alhasil, hebohlah sekeluarga besar. Dipaksa untuk urunan demi memenuhi hajat yang ingin menikah. Saya benar-benar gemas kalau ada yang begini.

Di lain sisi, saya juga gemas, kenapa untuk menikah harus dibuat rumit sedemikian rupa? Membebani seseorang dengan mahar yang di luar kemampuannya. Apakah, seseorang akan merasa sangat rendah bila maharnya minimalis? Apakah dengan mahar yang minimalis itu nikahnya menjadi tidak sah?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saya lontarkan pada seorang teman saat “menggunjingkan” si Kahar Muzakar. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian saya jawab sendiri. Bila keduanya saling mencintai, bukankah seharusnya bisa dikomunikasikan sejak awal terkait mahar agar tidak memberatkan salah satu pihak?

Akan tetapi, untuk mengantisipasi bila komunikasi seperti di atas tidak memungkinkan, berarti ya harus dicari solusi lain jauh-jauh hari. Bahkan ketika rencana untuk menikah itu belum terlintas di dalam diri mereka. Toh, nanti akan menikah juga, kan?

Saya terpikir dengan ide menabung produktif. Memelihara ternak misalnya. Cara ini paling mudah dan terhitung low risk. Kalau punya tabungan cukup bisa membeli lembu atau kerbau. Tapi kalau modalnya pas-pasan, kambing juga oke kok. Cukup dengan modal Rp2 jutaan. Kalaupun kurang-kurang sedikit minta talangan dari orang tua atau paman pasti juga diberikan. Apalagi dengan visi masa depan yang jelas dan mulia itu, mereka pasti tidak tega untuk menolak. Tinggal bagaimana merayu mereka saja, tapi itu tidak lebih menyeramkan ketimbang merayu calon mertua agar maharnya bisa didiskon.

Dengan modal satu atau dua ekor kambing, tentunya akan menjadi beranak-pinak dalam tempo lima atau tujuh tahun ke depan. Kalau itu dilakukan sejak tamat sekolah menengah atas, kira-kira berapa ekor kambing yang bisa dipunyai setelah tamat dari perguruan tinggi? Tergantung seberapa produktifnya kambing-kambing itu untuk menghasilkan kambing baru. Tapi yang pasti, tidak akan menambah gegana. Gelisah galau merana.[]

KOMENTAR FACEBOOK