Reportase Maria (10): Petra, Kota Dagang yang Sempat Hilang Berabad-Abad

Maria Karsia dan suami. Bersiap menjelajahi Kota Petra yang berjaya di masa lampau. [Koleksi Maria Karsia]

Laporan Hj. Maria Karsia, MA

Ketika mendengar kabar dari travel Al Amien Tours, soal 3 negara paket tour ke Palestina, salah satunya adalah Jordania, membuat saya bahagia. Satu kata yang terbayang ketika disebut Jordan adalah kota Petra, kota yang hilang berabad lamanya, kota perdagangan yang telah eksis ratusan tahun sebelum masehi yang dibuat dengan cara memahat di dinding batu cadas. Adegan seru di film Indiana Jones, petualangan ilmuan arkeolog nyentrik, juga telah menambah rasa penasaran ingin ke sana . Petra sendiri ditetapkan sebagai salah satu dari keajaiban dunia, baru pada tahun 2007.

Sebetulnya ada kesempatan bagus untuk liburan ke sana, ketika tinggal di Berlin, selama 3 tahun karena jarak yang tak terlalu jauh dari Berlin ke Amman. Namun, kesempatan itu selalu terlewatkan, sampai akhirnya masa tugas suami berakhir dan kembali ke tanah air. Namun impian ke Petra tak pernah lekang dimakan waktu.

Jadi kenapa saya penasaran harus melihat Petra, ada apa di sana?

Kota Petra dibangun dengan cara memahat gunung batu yang diubah menjadi bangunan-bangunan cantik dan mewah. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Petra artinya kota batu. Ya, memang kota itu dipahat di dinding batu dengan ketinggian kurang lebih 40 meter. Petra yang mendapat julukan “Kota Mawar Merah”, ini berjarak 233 km ke selatan dari Ibukota Jordania, Amman atau ditempuh kurang lebih 3 atau 4 jam, tergantung dari wilayah mana kita bergerak. Kota ini terletak di propinsi Ma’an, selatan Jordan. Pejalanan kami pagi hari dimulai jam 7 pagi dari Amman dan tiba di Petra kira-kira pukul 11.30, karena sempat berhenti di wilayah bersalju untuk mengabadikan foto di sana.

Tiba di pintu gerbang “welcome to Petra”, ternyata sudah berkerumun ratusan turis, padahal suhu udara dingin 4°C, tapi tak menyurutkan minat turis untuk berkunjung ke sini. Situs ini dibuka sejak pukul 6 pagi. Antrian bis-bis travel berjajar rapi di halaman parkir menuju situs kota batu itu. Diinformasikan oleh guide kami, Petra dibangun antara tahun 400 sebelum masehi hingga 106 Masehi.Kota itu dulu adalah sebuah kota pusat perdagangan dan merupakan Ibukota kerajaan Nabath.

menelusuri labirin “kota” berupa gunung-gunung baru raksasa. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, masyarakat Nabath mulai mendiami kota Petra sejak tahun 312 sebelum Masehi. Kota ini menjadi pengendali jalur perdagangan sepanjang dari tepi Barat Jordania sampai menuju perbatasan utara semenanjung Arab.

Pada masa itu, sistem irigasi dibangun dan berfungsi dengan baik. Bekas ceruk got kecil sepanjang jalan alurnya masih bisa kita lihat sampai sekarang. Bekas jalan air di sepanjang alur dinding bebatuan itu memperlihatkan bekas tanda kehidupan ribuan tahun lalu. Kota ini dibangun dibebatuan cadas berwarna pink kecoklatan, dengan mengukir atau mungkin tepatnya memahat dinding batu dan gunung. Spektrum warna bebatuan yang berwarna agak coklat tanah dan merona merah jambu atau kadang seperti oranye, sulit untuk dideskripsikan dengan hanya satu kalimat, menakjubkan. Hanya decak kagum tak habis sepanjang mata memandang.

Sebetulnya jika ingin menjelajahi Petra, waktu yang dibutuhkan bisa 2 sampai 3 hari, itu sebabnya banyak turis yang bermalam di Petra. Kawasan wisata menjual dua jenis tiket, tiket sekali kali kunjung dan tiket terusan. Tiket terusan dapat digunakan untuk turis yang menginap di Petra. Begitu banyak lokasi situs yang menarik. Ada 18 point setidaknya menurut guide kami untuk mengunjungi seluruh wilayah seluas 264 km persegi ini. Namun dengan waktu sekitar 2 jam, kami hanya bisa sampai di point ke 4, lokasi keberadaan The Treasury atau Al Khazneh, istana batu yang berwarna merah jambu. Itulah yang menyebabkan kota Petra disebut The Red Rose City. Ada beberapa alternatif cara menikmati Petra. Berjalan kaki, pergi pulang dari gerbang masuk menuju point ke 4, naik delman, dengan unta atau dengan golf car (buggy).

Jejak kaki manusia dan unta di salah satu bagian Kota Petra. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Kebanyakan wisatawan terlihat asik menikmati keindahan dengan berjalan kaki.

Setelah melewati Petra visitor center, dan berjalan di tengah gurun yang dikelilingi bukit batu, wisatawan disuguhi pemandangan seperti memasuki masa purbakala dari dunia lain yang unik.

Objek – objek yang terlihat pertama masuk adalah makam obeliks dan rumah- rumah yang terpahat di bukit-bukit batu. Meski sudah lekang dimakan waktu, tapi sisa-sisanya masih dapat kita nikmati.

Setelah melalui lokasi ini, kemudian, wisatawan akan masuk ke sebuah lorong panjang dan cukup lebar, dinding batu kiri kanannya seperti menghimpit lorong. Tinggi bebatuan mencapai kira-kira 40 meter. Seolah membuat kesan lorong meliuk-liuk sepanjang ini seperti tak ada ujungnya. Salah satu pahatan raksasa di dinding cadas adalah kaki manusia raksasa, dan untanya. Saya menikmati betul, setiap liukan batu, alur dinding yang seperti terukir, bekas jejak air.
Decak kagum, terpana dan tak bosan saya mengabadikan pemandangan yang kami nikmati ini. Ketika berkelok di lorong ke depan, selalu mengharapkan kejutan bentuk apa batu cadas yang ada di depan. Warna batu cadas seperti kecoklatan dengan semburat jingga, di beberapa tempat merona merah.

Di ujung lorong yang meliuk-liuk, sepanjang 2 km, lorong itu berakhir dengan mempersembahkan ruang terbuka dan di sanalah letak The Treasury atau Al-Khazneh, istana batu yang merona merah jambu.

Di sinilah kami rehat sambil menikmati keindahan Al-Khazneh selama 20 menit. Udara dingin tak kami hiraukan, semua sibuk dengan mengabadikan kehadiran kami di sana, dari berbagai sudut.

Apa sebetulnya Al-Khazneh? Al-Khazneh pada awalnya dibangun sebagai sebuah mausoleum dan ruang penyimpanan pada awal abad pertama Masehi selama masa Pemerintahan Aretas IV Philopatris. Ruang harta berasal dari legenda. Para penyamun atau bajak laut konon menyembunyikan harta jarahan mereka di dalam sebuah wadah batu yang berada tinggi di lantai dua. Wadah tersebut terpahat di bangunan, sebuah dekorasi relief dan terbuat dari batu pasir yang padat. Konon, Al-Khazneh difungsikan sebagai sebuah kantor keuangan di masa Firaun Mesir pada zaman Nabi Musa.

Seorang lelaki Baduy terlihat rehat di sela-sela batu di Petra. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Banyak dari bagian pahatan bangunan telah terkikis selama lebih dari 2000 tahun keberadaannya. Ada legenda yang menyebutkan, di bagian atas, terdapat empat elang yang akan membawa nyawa manusia ke akhirat. Terdapat pula orang Amazon yang sedang menari dengan memegang kapak ganda. Bagian pintu masuk dihiasi dengan patung saudara kembar Castor dan Pollux yang hidup di Olympus dan dunia bawah. Itulah keterangan yang kami dapatkan dari guide lokal kami tentang Al-Khazneh, Petra.

Jika ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke Jordan, sepertinya saya akan menginap tiga malam untuk menjelajahi Petra, mungkin akan naik kuda sambil membayangkan Indiana Jones memburu artefak harta karun Petra.

Maria karsia adalah seorang traveller. Pecinta kuntum mekar serta penikmat keindahan alam Indonesia dan dunia. Juga seorang penulis buku.