Tak Hanya Rumah Sakit, Semua Pihak Bisa Berperan Melawan Corona

Direktur RSUDZA dr Azharuddin @aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Respiratory Intensive Care Unit (RICU) RSUDZA saat ini menangani enam pasien dalam pengawasan (PDP) sehingga totalnya menjadi 25 PDP yang dirawat di rumah sakit rujukan corona tersebut.

“Kita menggunakan panduan SOP yang kita buat, ada yang disepakati dengan pasien yang orang dalam pengawasan (ODP) dan ada pasien dalam pengawasan (PDP). Yang ODP artinya ketika ditanya oleh dokter, ada keluhan-keluhan dan itu ringan maka pasien tersebut bisa dirawat di rumah saja, kemudian kita berkomunikasi tiap hari, apakah gejala-gejalanya membaik atau memburuk, kalau memburuk, jadi akan dirawat dan disiolasi diruang PDP atau suspect,” kata Direktur RSUDZA, dr Azharuddin, kepada wartawan usai menerima kunjungan DPRA, Kamis (19/3/2020).

Menurutnya, sejauh ini protokol yang digunakan sudah tepat dalam melakukan sesuatu. Bila semua ODP atau orang yang hanya mencurigai diri sendiri itu dilakukan pemeriksaan berlebihan, ditakutkan akan kehabisan alat saat sudah betul-betul diperlukan.

“Kalau digunakan berlebihan bagi pasien yang mencurigai diri sendiri dan belum tentu positif, takutnya ketika itu perlu sudah tidak ada lagi barangnya untuk digunakan, apakah itu baju pelindung diri atau lainnya. Yang kita rawat sekarang ini ada enam orang lagi pasien yang memang dalam pantauan kita, mudah-mudahan hari ini ada yang bisa kita pulangkan, dan keenamnya itu sudah kita kirim spesimennya ke Jakarta, dan itu perlu waktu pendek selama empat hari,” katanya.

Ia berharap enam PDP yang masih dirawat tersebut negatif dan bisa langsung dipulangkan dengan tetap melanjutkan istirahat di rumah. Jadi tidak pergi ke mana-mana dulu sampai minimal dua minggu.

“Jadi selama ini kita bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, melakukan up date satu data yang akan selalu dilakukan pada pukul sepuluh pagi. Satu informasi dan satu sumber data. Kemudian untuk ruangan yang sudah ada, kita sebut dengan ruang RICU, ada enam kamar isolasi, saat ini terisi penuh dengan pasien,” katanya.

Ia menambahkan, pasien tersebut sangat terbatas untuk melakukan kontak dengan siapa pun, termasuk petugas dan dengan keluarga sama sekali tidak boleh. Paramedis, dokter, memantau pasien lewat CCTV, dan komunikasi melalui telepon untuk meminta kebutuhan. Dan dokter secara reguler memeriksa suhu tubuh.

“Kalau kita melihat apa yang dilakukan oleh RSUDZA, di dunia ini belum ada obat untuk virus corona tersebut, yang ada cuma beristirahat, memberikan obat sesuai dengan yang diperlukan, kalau sesak diberikan oksigen, obat daya tahan tubuh, kita observasi perkembangan. Kalau memang sudah parah, terjadi infeksi paru yang serius, ini malah perlu masuk ke respirator, itu pada kondisi yang memang sangat berat. Namun hingga saat ini pasien di Aceh belum ada satu pun yang positif.”

dr Azhar mengatakan, total pasien yang sudah dirawat itu sudah mencapai 25 orang termasuk yang masih dalam pantauan enam orang ini. Untuk pasien yang sudah pernah dirawat dan yang sedang dirawat itu, umumnya baru kembali dari luar negeri.

“Ada yang pulang umrah, pulang belanja di Bangkok, Thailand, pulang dari Malaysia, yang pulang dari negara yang dianggap terpapar dengan virus corona,” katanya.

Untuk ruang pasien rujukan daerah, lanjutnya, itu juga masih dalam persiapan, dan bukan hanya RSUDZA saja, tapi Kodam IM juga sedang mempersiapkan rumah sakit mulai dari Banda Aceh sampai ke daerah.

“Di Banda Aceh ada tim yang bekerja 24 jam untuk rujukan dari daerah, itu jika ada pasien dengan gejala tersebut, silakan berkomunikasi dengan kami sebelum pasien itu dirujuk, karena disitu ada form check list, jika memenuhi kriteria yang dimaksud, itu malah akan diminta untuk dirujuk kemari,” katanya.

Begitu juga sebaliknya, tambahnya, jangan memaksa diri untuk membawa pasien itu ke Banda Aceh, dan yang perlu diketahui jangan seolah-olah hanya RSUDZA saja yang bisa melakukan ini, semua bisa melakukannya, selama RS di daerah itu ada dokter yang ahli penyakit dalam, sehingga akan tahu kondisi penyakit.

“Maka tanpa ada ACC dari dokter di daerah, kita juga tidak akan sembarangan menerima pasien, itu dilakukan agar ada keteraturan, supaya tidak ada pasien datang secara mandiri, apalagi memang datang dan minta untuk diperiksa, dan juga minta untuk digratiskan, seperti kita tahu satu baju astronot itu harganya Rp1 juta, media virus itu 500 ribu, tiki pulang pergi 100 ribu, kemudian siapa yang bayar, sehingga kalau semuanya minta di check up seperti itu kan susah, sehingga kita menggunakan kriteria-kriteria yang digunakan oleh WHO.”

“Maka kita minta masyarakat memahami itu seperti apa, sebenarnya kita semua bisa berperan, orang mengunci diri dengan tidak ke mana-mana itulah perannya, supaya tidak mengantar virus itu ke mana-mana. Seperti misalnya orang dikarantina selama dua pekan, itu tujuannyan untuk melemahkan virus, virus itu paling disukai perantaranya melalui kita manusia, kalau memang virus itu lama lama tidak ada media lain, maka virus itu akan melemah, ketika lemah maka akan jadi flu batuk biasa saja, sehingga lockdown selama 14 hari merupakan langkah untuk melemahkan virus tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika nanti suatu saat angkanya sudah mulai turun, maka lama-lama virus itu akan menjadi penyakit batuk pilek biasa, maka Covid-19 ini diharap suatu saat bisa lemah, dengan semua masyarakat mau peduli, dengan melakukan seperti imbauan yang sudah disuarakan oleh pemerintah, maksudnya adalah untuk melemahkan virus.

“Maka sangat perlu kontribusi masyarakat, satu orang positif, itu artinya ada 27 lainnya yang tidak terdeteksi, dan ini merupakan rumus dunia yang mangatakan begitu, itu yang muncul aja satu, yang lainnya merupakan perantara. Jadi jangan kita menganggap spele, yang paling penting kita selalu waspada,” sebutnya.[]

Editor : Ihan Nurdin