Membuka tapi Membatasi

Tuanku Muhammad @ist

Oleh Tuanku Muhammad*

Sesuai dengan surat yang dilayangkan oleh Plt. Gubernur Aceh kepada Wali Kota Banda Aceh yang berisi perintah untuk menutup seluruh warung kopi dan kafe, maka sejak malam ini seluruh warung kopi dan kafe di Banda Aceh sudah diperintahkan untuk ditutup. Jika masih melanggar maka bersiap-siap berhadapan dengan Satpol PP.

Pada dasarnya, langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona agar tidak mewabah di Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Saat ini, siapa pun pemimpin akan mencoba untuk mengambil langkah pasti agar di daerahnya tidak tersebar virus Corona.

Baca: Plt Gubernur Aceh Minta Walikota Banda Aceh Tutup Warung Kopi

Ternyata kebijakan menutup warung kopi dan kafe ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kota yang katanya ‘Kota Seribu Warung Kopi’ ini. Ada banyak warga Kota Banda Aceh yang menggantungkan hidupnya dan keluarganya melalui usaha ini. Mulai dari tukang saring kopi, pramusaji, pembuat kue, penjual mi, martabak, hingga tukang parkir. Di antara mereka terkadang dibayar per hari. Artinya, jika warung kopi tutup total maka mereka tidak ada pemasukannya. Bisa dibayangkan bagaimana kesusahan yang akan dialami oleh mereka?

Belum lagi saat ini harga bahan pokok mulai menanjak dan bantuan dari pemerintah belum bisa dipastikan ada atau tiada sama sekali.

Memang stok bahan pokok masih tercukupi kata Bulog, tapi stok uang di masyarakat tentu tidak semua memilikinya. Untuk apa bahan pokok banyak tapi uang tidak ada. Itulah sekelumit masalah yang mulai terjadi di tengah masyarakat ini.

Saya memprediksikan, untuk beberapa saat ini masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha kecil-kecilan masih sanggup bertahan karena mungkin masih ada sisa uang sebelumnya. Tapi jika situasi ini bertahan lama dan pemerintah tidak punya solusi konkret dan nyata maka ini bisa berbahaya.

Contoh terkecil saat ini yang mulai mengalami kesusahan adalah para penjual jajanan di sekolah. Sejak sekolah tutup mereka sama sekali tidak ada penghasilan. Bahkan ada di antara mereka ada yang memang total pemasukan hariannya dari usaha jajanan. Bisa dibayangkan selama seminggu ini mereka tidak memiliki penghasilan sama sekali. Belum lagi ada di antara mereka yang hidup miskin dengan penuh kredit di sana-sini. Terbayang sudah bagaimana bingungnya kehidupan mereka saat ini.

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada pemerintah agar dalam situasi serba sulit seperti ini untuk benar-benar mengkaji setiap kebijakan dengan penuh pertimbangan sana dan sini secara matang.

Solusi khusus untuk masalah di awal tadi, saya menyarankan agar larangan menutup warung kopi dan kafe tidak mutlak tutup total. Namun, ditutup untuk keramaian. Artinya, warung kopi dan kafe untuk saat ini tidak lagi melayani minum kopi dengan menikmati di warungnya. Namun, melayani pesan dan bawa pulang sehingga masyarakat yang menggantungkan hidupnya di warung kopi masih tetap bisa bertahan, meskipun situasi perekonomiannya sedikit melambat. Terima kasih.[]

Penulis adalah penikmat kuphi khop

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK