Antara Lockdown dan Ketahanan Pangan Masa Depan

Ilustrasi

Oleh Furqan*

Beberapa hari yang lalu, isu akan diterapkan kebijakan lockdown oleh pemerintah sontak menimbulkan banyak kritikan oleh beberapa ekonom, sebut saja salah satunya ekonom INDEF, Bima Yudhistira. Kebijakan ini menurutnya akan memperparah ekonomi Indonesia dan yang paling terdampak adalah si miskin. Di tengah keterbatasan keuangan untuk memperoleh kebutuhan pangan, sangat beda antara si miskin dengan si kaya yang sanggup membeli apa pun dan mampu menyetok kebutuhan dalam waktu yang lama.

Pertanyaan terbesar kita saat ini adalah apakah pangan kita cukup untuk menghidupi 264 juta jiwa jika diberlakukannya lockdown?

Bagi penduduk yang hidup di perdesaan dengan mata pencaharian sebagai petani, penerapan lockdown tidak terlalu berpengaruh karena setiap petani pasti memiliki tempat penyimpanan makanan seperti “krong pade”(tempat penyimpan padi: Aceh), di mana biasanya akan mencukupi kebutuhan padi selama beberapa bulan ke depan sampai panen padi berikutnya.

Penduduk di perdesaan juga kebanyakan memiliki kebun yang mampu mencukupi kebutuhan dapur seperti singkong, ketela, kelapa, pepaya, labu, cabai rawit, bahkan beberapa petani juga memiliki kebun rempah yang digunakan seandainya tidak sempat membeli ke pasar seperti kunyit, jahe, dan lengkuas.

Petani juga memiliki kebiasaan memelihara beberapa ekor ayam, kambing, domba, dan lembu. Walaupun untuk hewan jenis terakhir tidak semua petani memilikinya, setidaknya setiap rumah pasti memelihara ayam atau bebek.

Nah jika terjadi lockdown, maka desa yang memiliki kesediaan pangan yang beragam mulai dari padi, sayuran, dan rempah, kemungkinan untuk menderita kelaparan sangat kecil sekali. Hanya saja jika desa tersebut tidak memiliki persediaan ikan, harus mencari alternatif lain seperti seperti ayam, kambing, dan lembu.

Berbeda dengan desa yang terletak di daerah perdesaan, kondisi desa yang terletak di daerah perkotaan  yang didominasi oleh gedung, rumah susun sampai, dengan perindustrian bisa dipastikan desa yang seperti ini sangat rentan terhadap krisis pangan jika terjadi pandemi corona. Hal ini sesuai dengan kondisi daerah perkotaan yang tidak tersedia lahan untuk bercocok tanam dan memelihara ternak sebagai sumber protein hewani.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah berapa ribu desa yang mandiri pangan? Dan berapa persen penduduk yang tinggal di daerah yang mandiri pangan?

Pertanyan tersebut sampai saat ini, penulis belum menemukan jawabannya. Apakah memang setiap desa sudah mandiri pangan, khususnya daerah perdesaan yang sumber daya alamnya melimpah.

Bila memang wabah corona lebih parah dan sebelum terjadinya lockdown,berikut beberapa hal yang harus kita lakukan, yaitu:

1.      Kita harusnya memanfaatkan minggu tanpa keramaian untuk belajar bagaimana menyediakan pangan dari rumah kita sendiri. Anak-anak yang diliburkan seolah oleh pemerintah, seharusnya diajarkan bagaimana memenuhi pangan dari rumahnya sendiri.

 Bagaimana cara bertahan hidup di tengah wabah dan seterusnya mengingat wabah seperti ini pasti akan berulang. Jadi menyiapkan generasi masa depan yang siap menghadapi wabah penyakit menjadi tugas utama kita.

2.      Mulailah menghubungi keluarga terdekat atau teman yang memiliki relasi dengan masyarakat perdesaan, komoditas berupa beras, kacang-kacangan bisa didatangkan dari desa. Tujuannya meminimalisir kelangkaan kebutuhan pokok di perkotaan. Dengan begitu kita memberikan kesempatan bagi mereka yang hidup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

3.      Memanfaatkan setiap ruang kosong untuk menanam beberapa jenis sayur-sayuran baik langsung menggunakan tanah atau menggunakan sistem hidroponik, aquaponik, dan aquakultur. Beberapa batang cabai rawit, sawi, kangkung, dan bayam, terong dan lainnya bisa menjadi pilihan.

4.      Memelihara beberapa ekor ternak sesuai dengan ruang yang kita miliki juga lebih baik daripada hanya menyetok daging dalam fertilizer. Selain lebih segar pastinya kita mengurangi terjadinya lonjakan permintaan daging.

Local economy is the best solution

Mulai hari ini kita harus mulai menjadikan setiap keluarga memproduksi pangannya sendiri, paling tidak setiap satu keluarga memiliki satu komoditas yang dibudidayakan. Ke depannya desa harus memiliki kesediaan pangan sendiri, seandainya tidak sanggup juga setidaknya setiap kecamatan wajib swasembada pangan.

Mungkin untuk saat ini kita lebih suka menggantungkan pangan kita pada perusahaan besar, memanjakan lidah dari hasil produksi yang berbahan penyedap. Tak aneh jika kata “generasi micin” menjadi kata pamungkas yang menggambarkan bagaimana gaya hidup sebahagian orang sangat dekat dengan bumbu penyedap berbahan baku kimia sintetis ini.

Menganggap bahwa mengonsumsi pangan dari perusahaan besar berlabel dan bergambarkan desain yang cantik lebih mencerminkan kemoderenan dan prestise. Kondisi seperti sangatlah berbahaya, ada salah satu pepatah yang terkenal yaitu “who control the food, control peoples”. Ini menggambarkan betapa ngerinya struktur ekonomi sosial kita ketika pangan yang merupakan hajat orang banyak dikuasai oleh segelintir orang. Sama halnya kita memberikan 80 % kehidupan kita dikontrol oleh penguasa pangan.

Cara hidup masyarakat harus diubah untuk mandiri pangan. Kampanye tentang mandiri pangan harus terus digaungkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya kemandirian pangan. Hari ini kita tidak berbicara berapa banyak uang dan emas yang kita miliki, tetapi berapa banyak lumbung pangan yang kita punya. Sebanyak apa pun uang dan barang berharga lainnya tidak akan lebih berharga dibanding dengan pangan saat kita sedang kelaparan. Di masa depan kita akan berkompetisi hanya untuk memperoleh pangan.

Model ekonomi seperti ini yang memberdayakan masyarakat lokal untuk memproduksi pangan sendiri, sebenarnya memberikan banyak sekali keuntungan, di antaranya:

  1. Tidak adanya biaya transportasi yang membuat harga kebutuhan pokok naik bahkan lebih tinggi dari biaya produksi sendiri.
  2. Dengan kecilnya biaya pengangkutan pangan atau bahkan tidak ada sama sekali, kita telah menghemat penggunaan minyak bumi, kebutuhan angkutan, oli mesin dst sehingga tranportasi yang kebanyakan memakan hasil bumi ektraktif bisa diminimalkan.
  3. Kebutuhan pangan yang tersedia di sekitar kita, akan terasa lebih segar dan tentunya tidak memerlukan penggunaan bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
  4. Dan tak kalah pentingnya kita tidak perlu memakai kemasan yang berbahan plastik, karena dalam waktu relatif singkat produksi pangan akan dibeli oleh masyarakat sekitar.
  5. Kita bisa memastikan bahwa setiap pangan yang kita konsumsi berasal dari petani yang ramah lingkungan sehingga aman dikonsumsi.
  6. Terbukanya lapangan kerja karena umumnya masyarakat desa yang memiliki ikatan persaudaran yang kuat akan lebih mengutamakan kerbersamaan dalam aktivitas ekonominya, otomatis penggunaan mesin sangat minim, dengan begitu masyarakat mendapat pekerjaan semuanya. Beda dengan perusahan besar yang mengutamakan profit pasti lebih memilih menggunakan tenaga mesin yang lebih murah dan efisien. Padahal dampak dari penggunaan mesin  yang masif hanya akan menyisakan permasalahan sosial seperti banyaknya pengangguran dan selanjutnya bermuara pada tingginya tingkat kriminalitas.

Intinya model ekonomi ini lebih pada memberdayakan masyarkat, menumbuhkan rasa cinta sesama, menenggelamkan rasa benci dan permusuhan bahkan persaingan yang tidak sehat.

Desa Bencana

Tahun lalu saya sempat berdiskusi dengan seseorang bernama Muhammad Arifin, mahasiswa Pascasarjana Kebencanaan Unsyiah. Diskusi yang panjang itu membahas tentang bagaimana seharusnya daerah yang rawan bencana seperti Aceh memiliki satu komoditas atau makanan yang mampu bertahan lama ketika bencana terjadi, sehingga masyarakat yang terkena bencana langsung bisa mengakses makanan tanpa harus menunggu bantuan dari luar daerah. Beliau pernah bercerita bahwa di negara Jepang misalnya, memiliki bunker yang menyimpan makanan untuk persediaan jika bencana terjadi secara tiba-tiba. Makanan berbentuk roti tersebut diganti setiap tiga bulan sekali untuk memastikan tetap dalam kondisi layak konsumsi.

Diskusi ini juga mengarah pada potensi pangan lokal yang tahan lama tanpa pemakain bahan pengawet. Misalnya di Provinsi Sumatra Barat memiliki pangan daging rendang yang mampu bertahan sampai satu bulan. Lalu bagaimana dengan Aceh?

Mungkin sebenarnya Aceh memiliki beberapa makanan khas yang bisa dijadikan untuk persediaan saat bencana terjadi. Salah satunya yang diketahui penulis adalah lepat Gayo yang berbahan dasar beras ketan dan gula merah, ini bisa bertahan sampai dua minggu.

Dengan kondisi alam dan sosial masyarakat sekarang, setiap keluarga seharusnya menjadikan sebuah kebiasaan baru dengan menginvestasikan sebagian dana untuk pangan seperti memelihara beberapa ekor ayam atau kambing, domba, sapi, dan kerbau. Bagi yang memiliki lahan sempit ayam bisa jadi pilihan, jika memang  tidak memungkinkan, kita bisa mengajak bermitra dengan saudara yang dipercaya atau teman yang mampu memeliharanya.

Bagi penulis, menginvestasikan dana untuk pangan bukan hanya karena motif ekonomi, tetapi lebih kepada motif swasembada pangan yang harus kita selesaikan. Setidaknya dana yang kita investasikan bisa mewakili kebutuhan keluarga kita masing-masing. Misalnya setiap orang mengonsumsi 2,6 kilogram/perkapita setiap tahunnya. Jika satu keluarga berjumlah lima orang, maka kita wajib berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan daging seberat 13 kilogram per tahun. Walaupun misalnya ternak yang kita investasikan tidak dikonsumsi sendiri tetapi dijual ke pasar hewan, setidaknya secara pemenuhan kebutuhan pasar sudah terpenuhi. Berhubung kita tidak langsung mengonsumsi 13 kilogram, tetapi kita sudah menyiapkan daging pengganti dari konsumsi daging yang berasal dari pasar hewan tadi. Begitu juga dengan komoditas lainnya, apalagi komoditas yang masih impor.

Memang mengubah cara hidup masyarakat yang sudah terklasifikasi menjadi berbagai profesi di mana seakan-akan saat berprofesi sebagai karyawan korporasi dan seterusnya, permasalahan pangan bukanlah menjadi tanggung jawabnya tetapi itu dibebankan kepada petani dan peternak saja. Padahal masalah pangan adalah masalah kita. Pangan adalah masalah keberangsungan hidup, tanpa pangan yang cukup dan sehat, kita tidak mampu melaksanakan kegiatan yang lain.

Oleh karena itu, wabah korona yang sedang menyerang banyak negara arus menjadi momentum kebangkitan menuju swasembada pangan. Setiap dari kita wajib mengambil bagian menjaga ketersedian dan keamanan pangan.[]

Penulis adalah Founder Meusigrak for Better World (MBW)

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK