Corona dan Jejak Sepatu Lars di Kampung Kami

Di tahun 2000-an, saat konflik sedang panas-panasnya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang di kampung kami. Saat itu jalan lintas utama di desa kami belum diaspal. Dalam situasi tak kondusif seperti pada masa itu, kondisi jalan seperti itu bisa dibilang “menguntungkan” juga.

Ya, kondisi jalan yang berdebu saat musim kemarau dan becek saat musim penghujan bisa menjadi “cetakan” alami untuk mendeteksi sesuatu, apakah semalam ada orang-orang yang memakai sepatu lars melewati jalan kampung. Tentu mudah sekali untuk menebak, siapa orang-orang yang memakai sepatu lars tersebut.

Pagi-pagi sekali, sebelum ada kendaraan yang lewat, orang-orang akan keluar rumah dan memeriksa permukaan jalan. Apakah terdapat cetakan-cetakan yang mengindikasikan bekas pijakan sepatu yang lazimnya digunakan oleh awak militer. Bila ada, arahnya ke mana? Ke utara atau ke selatan? Bila ke utara, itu artinya pertanda baik. Kaum sepatu lars itu sudah turun ke kota. Aman.

Sebaliknya, bila arah cetakannya menuju ke selatan, itu alarm yang harus diwaspadai. Kalau sudah begitu, warga yang punya kebun di luar kampung harus menahan diri untuk tidak pergi ke kebun. Mereka tidak mau berjudi dengan mempertaruhkan nyawanya.

Kemudian, informasi dari mulut ke mulut juga berkembang sangat cepat. Warga saling mengingatkan untuk tidak ke kebun dulu karena situasinya sedang tidak kondusif. Saat itu belum ada ponsel, tapi informasi bisa bergerak dengan sangat cepat. Warga mengunci mulutnya dari membicarakan hal-hal nirfaedah.

Kondisi itu bisa sampai berhari-hari, tergantung kapan “cetakan” yang sebelumnya mengarah ke selatan itu menunjukkan arah kembali ke utara. Warga patuh. Tidak ada yang berani melawan keadaan dengan peubeuhe-beuhe droe.

Mereka tahu, konsekuensinya jelas: nyawa taruhannya.

Konflik juga tidak memandang korban, tidak pilih kasih dengan hanya menyasar mereka yang berseteru saja. Kenyataannya, malah sering kali masyarakat sipil yang menjadi korban. Laki-laki, perempuan, anak-anak, tua, muda, siapa saja.

Ada benang merah antara apa yang terjadi satu dekade silam itu dengan kondisi saat ini. Saat ini kita juga sedang dalam kondisi perang. Bedanya, saat ini bukan perang antara gerilyawan dengan pemerintah/militer dan menggunakan senjata berpelurukan bubuk mesiu, melainkan perang antara manusia dengan virus. Corona!

Bedanya lagi, dulu masyarakat dengan mudahnya bersikap waspada “hanya” karena melihat cetakan sepatu di permukaan tanah, yang belum tentu benar adanya. Atau, hanya karena semalam mendengar lolongan anjing yang cukup intens. Namun, tidak dengan kondisi saat ini. Masyarakat justru mengabaikan dan cenderung bersikap masa bodoh, padahal korban akibat serangan virus itu benar-benar sudah nyata. Imbauan telah dikeluarkan berkali-kali. Pesan-pesan berantai dengan mudahnya didapat dari telepon pintar.

Saya menduga, di tengah pandemi corona saat ini dan kita masih bisa bersikap anteng-anteng saja, tak lain karena virus yang bisa menular dengan cepat itu tidak meninggalkan “cetakan” sebagaimana bekas sepatu lars di jalan-jalan di kampung kami . Tak terlihat fisiknya dengan mata telanjang saking halusnya. Sehingga menimbulkan keragu-raguan, percaya tidak percaya, buktinya mana?

Padahal, cara kerja virus yang tidak terdeteksi ini justru lebih parah. Karena keberadaannya yang tidak terdeteksi itu, ia bisa dengan mudah masuk bukan cuma ke kampung kita, melainkan hingga ke rongga-rongga tubuh kita yang sangat sensitif seperti rongga hidung, telinga, mata. Lalu masuk ke organ-organ vital seperti paru-paru. Sesuatu hal yang mustahil bisa dilakukan oleh kaum sepatu lars, tapi mampu membuat kita ketakutan, bahkan terkencing-kencing saat tahu mereka sedang mendekati pemukiman kita.

Padahal, bila kita mampu menerawang bentuk virus yang sangat sangat kecil itu, kita akan bergidik ngeri. Itulah monster tak kasatmata, tapi benar-benar ada, dan kapan saja bisa menggerogoti kita bila tak waspada.

Kabar buruknya lagi, perang ini sedang dihadapi miliaran umat manusia di seluruh planet Bumi. Tidak ada tempat yang aman untuk kita mencari suaka. Namun, bukan berarti perang ini tidak bisa diakhiri. Para ahli telah menganjurkan beberapa hal untuk memutuskan rantai penyebaran virus. Salah satunya dengan tetap berdiam di rumah atau menghindari keramaian kecuali untuk kepentingan yang mendesak. Namun, amaran ini justru diabaikan. Orang Aceh bilang, maken tatham, maken ditajoe, wate ka keumah baroe kathe droe.

Apa salahnya menurunkan sedikit kadar kebebalan kita di tengah kondisi mengkhawatirkan seperti ini. Bila di masa konflik dulu kita sanggup menahan diri untuk tidak berkumpul-kumpul karena takut terjadi sesuatu, mengapa sekarang tidak mampu? Apakah karena si corona tidak memakai sepatu lars, tidak berbaju loreng, tidak berhelm antipeluru, dan tidak berkendaraan lapis baja?[]

KOMENTAR FACEBOOK