Viralnya Virus

Ilustrasi

Oleh Dian Guci*

Virus itu makhluk Tuhan paling ajaib. Sampai abad 21 ini, manusia masih bersengketa soal kedudukan virus di dunia. Entah makhluk hidup dia ini, entah nonmakhluk. Ilmuwan sedunia masih belum sepakat tentang si dia.

Dibilang makhluk hidup, dia bisa dikristalkan. Tidak ada makhluk hidup lain yang bisa. Makhluk hidup, kalau dikristalkan, ya sudah, tak bisa hidup lagi. Tapi virus bisa bangkit lagi setelah dikristalkan. Berkembang biak lagi. Aktif lagi.

Virus bisa lisis, masuk ke sel-sel makhluk lain. Dia makhluk sel tunggal yang bisa dengan cepat menyesuaikan RNA (ribonucleic acid, asam ribonuklet) atau DNA-nya agar bisa menembus makhluk lain. Hanya perlu reseptor[i]. Seperti anggota tim Mission Impossible yang bisa masuk mulus ke ruang brankas yang disorot laser di mana-mana. Kemampuan virus yang paling mengerikan adalah kepiawaiannya menipu: dia bisa memaksa sel makhluk hidup yang dimasukinya, untuk segera mengopi RNA atau DNA (deoxyribo nucleic acid, asam deoksiribo nukleat) sang virus (tergantung virusnya) dan melipatgandakannya menjadi jutaan virus baru—dalam sekejap mata. Virus juga punya gen, yang menyebabkan mereka sanggup bermutasi dan berevolusi. Virus yang punya RNA kemampuan bermutasinya super duper cepat. Virus model begini termasuk virus defisiensi imunitas manusia alias HIV.

Kelakuan virus yang mampu dengan cepat mereduplikasi diri itu menjadi akar kata “viral”. Viral artinya serupa atau berkelakuan macam virus. Cepat bertambah dan cepat menyebar.

Sedihnya, manusia yang multisel dan Klas-nya lebih tinggi dalam Kingdom Animalia, memerlukan waktu panjang untuk memahami makhluk sel tunggal penuh misteri ini. Jangankan paham apa itu virus. Dari mana virus itu berasal pun manusia masih gagal paham. Entah dari plasma, entah dari bakteri. Atau entah dari sel mini yang kemudian bermutasi.

Virus, dari bahasa Latin vīrus (berarti racun) sangat menarik. Terutama kemampuan bermutasinya yang cepat, dan kemampuan merusaknya yang hebat. Dua kualitas yang menobatkan virus sebagai kandidat senjata biologis yang sungguh ampuh. Lebih ampuh daripada bakteri, seperti bakteri anthrax misalnya. Kemampuan mutasinya menyebabkan, misalnya, virus inosen seperti virus pilek (common cold), akan berubah bila pindah inang dari manusia ke makhluk lain. Codot misalnya. Atau kampret.

Celakanya, kalau virus yang sudah bermutasi dalam darah kampret itu pindah lagi ke manusia. Dan bermutasi lagi. Maka si inosen itu bisa jadi garang. Ganas tak terkendali. Sel-sel darah putih manusia yang, tadinya, sudah paham bagaimana menghadapi virus pilek, bakal terkejut dan keteteran menghadapi virus pilek yang sudah sempat menginap dalam darah codot. Seterusnya adalah sejarah lahirnya penyakit baru.

Masih ingat bagaimana HIV lahir? Awalnya dia adalah penghuni tubuh monyet di Afrika, yang ditransmisikan ke dalam darah manusia pekerja perkebunan via sengatan nyamuk. Virus yang di dalam sel monyet sikapnya sopan dan baik-baik saja, begitu masuk sel manusia berubah jadi ganas.

Dengan kemampuan adaptasinya yang sangat “cerdas”, virus adalah ciptaan Tuhan yang paling taat. Dalam bahasa kitab-kitab tata negara, virus bukan makhluk merdeka. Makhluk merdeka memiliki kebebasan untuk memilih dan memutuskan apa yang akan dilakukannya. Virus tidak. Meski pun kemampuan bermutasinya mencengangkan, tapi itu selalu sesuai dengan SOP-nya.

Berbeda dengan manusia, ciptaan Tuhan yang disempurnakan dengan hadirnya akal. Karena punya akal, manusia dapat memilih keputusannya sendiri. Dan kalau keputusannya itu membuat dia terjerumus ke dalam kesulitan, itu salahnya sendiri. Seperti yang dizikirkan Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan nun, “Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dhallimiin”, Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau (yaa Allah), Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim.

Ironisnya, manusia yang punya akal, dan kreatif dalam mengambil keputusan ini, selalu kalah oleh makhluk dengan kedudukan belum jelas dalam Kingdom Animalia, yang selalu taat SOP. Sejarah penuh dengan bukti kekalahan ini. Wabah Flu Spanyol 1918, menginfeksi 500 juta manusia di seluruh dunia dan membantai seperlimanya. Flu Asia (flu Hong Kong) 1957-1958 membantai satu juta orang. Pandemi AIDS membantai 35 juta nyawa. Flu babi H1N1 menjagal 500 ribu. Semuanya kelakuan virus yang bersaudara dengan virus pilek.

Virus nyaris tidak punya musuh. Kepandaiannya menipu sel hidup makhluk lain itu menjadikannya tak terkalahkan. Dia hidup di mana saja dalam sistem ekologi yang dikenal manusia. Bahkan di tempat tanpa oksigen. Dan spesiesnya ada jutaan. Dari jutaan itu, baru sekitar 5.000 yang sudah berhasil teridentifikasi.

Mengapa Tuhan menciptakan virus, adalah misteri berikutnya yang menarik untuk dipikirkan. Dalam Alquran, hukuman yang ditimpakan Allah kepada manusia tercatat berupa bencana air dan api. Kecuali bencana spesifik yang menimpa bala tentara Abrahah.

Zaman dulu, almarhumah Mamak berpikir bahwa yang menimpa Abrahah adalah senjata biologis. Alias virus. Karena penggambaran kehancuran Abrahah menunjukkan karakteristik kelakuan virus. Maka Mamak mengajarkan anak-anaknya untuk rajin-rajin membaca surah Al Fiil bila tengah ada pageblug (wabah). Lepas dari benar atau tidaknya, mengingat anjuran Mamak itu, kini, terasa seperti pelukan kasih sayang yang dikirimkan dari alam sana. A reassurance hug from beyond. Terasa menenangkan, di tengah semakin santernya badai berita seram dan sedih yang mengepung negeri ini.

Menurut Sun Tzu dalam The Art of War, untuk mengalahkan musuh kita harus memahami cara berpikir dan caranya bergerak. Toyotomi Hideyoshi, jenderal jenius Jepang, memenangkan pertempuran dengan menjaga moral pasukannya agar tetap optimis dengan memberikan bonus. Dia yakin bahwa mengenali kebutuhan prajurit dan memperlakukan mereka dengan baik akan membantunya memenangkan peperangan. Kesimpulannya, kalau kita anggap virus itu musuh, kita harus memahaminya.

Masalahnya, dalam hal virus, bahkan ahli virologi sekali pun masih belum paham benar, apa sebenarnya virus itu. Mereka mengetahui virus itu terdiri atas apa dan bagaimana cara kerjanya, tapi selalu mentok lagi saat virus mengubah diri menjadi entitas lain. Seperti ninja yang mendadak jadi tanaman dalam pot, di film-film kartun.

Mungkin suatu saat para ilmuwan akhirnya akan cukup memahami jati diri virus, sehingga bisa memutuskan tergolong apakah si dia ini. Supaya bisa menyusun strategi yang tepat untuk mengalahkannya. Sementara menunggu tibanya masa ketika AIDS, SARS, flu babi, flu burung, flu Spanyol, flu Hongkong bisa diatasi dengan obat warung, maka lebih baik kita hindari hal-hal yang sudah jelas memudahkan virus untuk beraksi. Jauhi keramaian. Jaga tangan, jangan gratilan, segala macam dipegang.

Sementara, jadilah rakyat yang manis dan penurut. Kalau burung ababil sudah masuk kandang lagi (barangkali), silakan kembali jadi rakyat yang progresif dan revolusioner. Memenuhi jalan-jalan dan kendaraan umum dalam perjalanan jihad mencari rezeki bagi keluarga. Wallahualam.[]


Reseptor = molekul protein yang menerima sinyal kimia dari luar sel.

Penulis adalah praktisi pendidikan. Berdomisili di Banda Aceh.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK