Ervan Ceh Kul: Musisi Daerah Merambah Era Digital

Ervan Ceh Kul

ACEHTREND.COM, Takengon – Penyanyi dan pencipta lagu asal Takengon, Aceh Tengah, Ervan Ceh Kul (28), sadar betul bahwa dunia sedang berada di tengah-tengah arus industri era digital. Ia merasa tinggal di mana pun bukanlah suatu masalah, selama bisa terhubung dengan teknologi informasi. Memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, semisal untuk menunjang karier dan pekerjaan, selama positif dan tidak merugikan orang lain, kenapa tidak, begitu ungkapnya.

Ervan, demikian ia disapa, berpendapat, ketika berkarya akan mampu membuat seseorang ke dalam perjalanan panjang yang mengasyikkan. Siapa pun yang haus akan berkarya, pasti akan menemukan langkah-langkah itu, kata Ervan. Langkah-langkah untuk berinovasi dan berkembang, sebagaimana tujuan dan rencana.

Bicara tentang perjalanan karier, tentu saja sosok pemuda produktif ini, sudah kenyang dengan pengalaman panjang bermusiknya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan menggunakan wadah digital platform, sebagai jalur mengekspresikan caranya berkarya.

“Dulu zamannya punya karya, direkam dalam bentuk cassette. Merekamnya itu perlu perjuangan panjang, mulai rekaman ke Jakarta, Medan, dan beberapa kota besar di Indonesia”, kata Ervan. Tak jarang mendapat kendala di lapangan, dari mulai dana sampai waktu. “Berkarya dulu, sangat besar di-ongkos,” kata Ervan saat berbincang pada Sabtu, 21 Maret 2020 di Takengon.

Sepanjang waktu itu pula, bukan saja mengalahkan waktu dan uang, perjuangan Ervan termasuk mengalahkan rasa agar tidak patah semangat, yang kadang suka berhenti di perjalanan. “Mood itu kan harus kita kelola, agar semangat tetap sampai tujuan akhir kita,” kata Ervan lagi.

Namun mulai tahun 2016, Ervan memutuskan menghentikan cara-cara zaman itu, dengan membangun home studio milik sendiri di rumahnya, di Kawasan Bebesan, Kabupaten Aceh Tengah. Ervan sadar, karier bermusiknya tidak boleh berhenti. Pekerjaaan yang sesuai dengan bakat kita pasti sangat menyenangkan dijalani, kata Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih, Takengon itu. Berkesenian tetap jalan, karier bermusik dan berkesenian yang juga menjadi bisnisnya tetap berjalan baik.

Bicara berkesenian, Ervan memulai kegiatan berkesenian sebelum masuk sekolah. “Bapak saat itu yang mengajarkan saya bermusik, dan diikutkan perlombaan musik dan bernyanyi,” kata Ervan. Kelas 3 SD suaranya sudah direkam dalam bentuk kaset tape, tambah Ervan mengurai kenangannya di awal bermusik. Ia mulai aktif bermusik sejak SMA dan mulai menulis lagu.

Saat itu, ayahnya Abadi Yus, mengajaknya rekaman lagu daerah berbahasa Gayo. Darah seni ayah Ervan turun dari kakeknya M Des Lakiki, yang saat zaman perjuangan RI dulu terkenal sebagai ceh didong (sebuah kesenian tradisonal asal Aceh Tengah).

Semangat kakeknya membangun semangat baru bagi Ervan, untuk membangun kembali identitas musik Gayo, untuk bisa bersaing di tengah derasnya persaingan musik modern. Tetap cinta dengan tradisi Gayo-nya, membangun budayanya kembali lewat lagu, kata Ervan. “Kita masing-masing punya karakter dan ciri khas, jadi pasti akan membuat kita berbeda antara satu sama lain,” kata Ervan. Namun ia sepakat berkesenian haruslah menyatukan tidak memisahkan.

Ervan, juga menguasai kemampuan berdidong dengan baik. Dulu sebelum ada wadah digital platform seperti YouTube, Ervan juga memulai karier dari panggung ke panggung, tak jarang ia harus masuk ke pelosok desa paling jauh, untuk bisa membahagiakan orang-orang yang mengundangnya, tanpa memilih-milih siapa yang mengundang

Sebelum berada di panggung musik pop, Ervan sudah memulai merambah pentas tradisi didong dengan grup Kemara. Tak jarang ia juga bertandang ke desa-desa di Takengon untuk sebuah pertunjukan didong jalu (didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah).

Ervan pun kini menjelma menjadi seniman yang menggunakan media digital sebagai seperti YouTube, sebagai wadah untuk menampilkan karyanya. Ervan yang memiliki akun Ervan Ceh Kul Official menampilkan lagu-lagu daerah Gayo karyanya, dan juga lagu-lagu berbahasa Indonesia. Kini Ervan sudah memiliki 66 konten hasil karyanya yang bisa ditonton. Rata-rata penonton dalam setiap video nyaris 864 K atau 864 ribu penonton.

Ervan kini menjelma menjadi seniman digital, yang tetap tidak meninggalkan sisi tradisional yang terus ia gali sebagai inspirasi dalam konten-konten barunya di YouTube. Meski demikian, Ervan juga pernah merasakan era bagaimana lagu-lagunya dalam album Muniru bisa dibeli di platform iTunes Store di tahun 2013. Namun kini Ervan merasa lebih leluasa menggunakan media YouTube untuk mempercepat karyanya hadir di tengah-tengah penggemarnya. Begitulah Ervan, sangat rendah hati dan sederhana, tetapi mendunia.

“Kita isi ruang-ruang kosong agar tetap bisa terisi dengan indah,” kata Ervan menutup obrolan kami.[]

Editor : Ihan Nurdin

.