[CERPEN]: Hanya Dialah Temanku Satu-satunya

Ilustrasi

Oleh Miralda Salsabilah*

Amira, Amira adalah namaku. Sekarang aku belum sekolah, usiaku enam tahun. Aku suka menyendiri di kamar, karena hanya sedikit orang yang ingin berteman denganku, karena mereka rasa aku ini aneh dan aku tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Kata mereka, aku suka ngomong sendiri dan enggak jelas.

Di rumah, aku sering ditinggal sendirian, sebab mamaku, Arina, sibuk dengan pekerjaannya dan begitu juga dengan ayahku, Adi, dia sangat sibuk dengan urusan pekerjaannya yang ada di luar kota.

Aku anak ke-3 dari tiga bersaudara. Aku memiliki abang yang bernama Faidi yang sekarang berusia 11 tahun dan aku juga memiliki kakak yang bernama Rani berusia 8 tahun, mereka sering diperintahkan oleh Mama dan Ayah untuk menjaga dan bermain bersamaku, tapi aku yang tak menginginkan itu. Mereka sering ketakutan saat melihatku mengobrol dengan seorang temanku yang bernama Karina. Kutak tahu mengapa mereka begitu ketakutan. Karena aku tak tega melihat mereka ketakuatan, aku berusaha agar Mama dan Ayah berhenti memerintahkan mereka untuk menjagaku.

Aku bingung bagaimana caranya menceritakan kepada Mama dan Ayah agar mereka tak memaksa kakak dan abangku untuk menemaniku.

Di malam hari sekitar pukul 21.30 WIB, aku bermain dengan temanku yang bernama Karina, dia sangat baik kepadaku sampai malam pun dia tetap ingin menemaniku dan bermain denganku, tidak seperti Ayah dan Mama yang tak pernah ada waktu untukku, begitu pun abang dan kakakku.

Aku banyak bercerita dengannya, “Karina, kamu tahu enggak, kalau Amira ingin sekali punya adik, ya adik untuk Amira, agar kita bisa bermain bersama adik Amira. Tapi, dulu Amira pernah bilang sama Mama, kalau Amira ingin punya adik, ehh… malah Mama bilang kalau Amira enggak pantas punya adik. Amira sedih, tahu, kalau Amira enggak bisa dipercaya sama Mama untuk menjadi seorang Kakak…”

“Amira jangan sedih dong, kan Amira masih punya Karina yang sering menemani Amira. Lagian, kan, kalau Amira tahu, jadi seorang kakak itu enggak gampang, lo. Misalnya nanti Amira ingin main-main sama Karina, ehh… tiba-tiba si adik rewel, pastikan nanti Amira enggak bisa main seperti biasanya,”  balas Karina menasihatiku agar tak menyesali ucapan mamaku.

Tiba-tiba tanpa disadari, Mama yang sedang berada di balik pintu, menguping pembicaraan kami yang barusan, tanpa kusadari, Mama membuka pintu kamarku. Mama sangat penasaran dengan siapa tadi aku berbicara, setahu Mama aku tak pernah memiliki seorang teman, apalagi berpikir ada orang yang sudah larut malam masih berada di rumahku. Aku terenyak ketika Mama membuka pintu kamarku dengan spontan bertanya, “Amira, Amira ngomong sama siapa, Nak?”

“Ini, Ma, Amira sedang ngobrol dengan teman Amira, Ma, kenalkan teman baru Amira, namanya Karina.” Jawabku

“Mana teman kamu yang namanya, Karina, Nak ?”

“Ini, Ma…” sambil kepalaku menoleh ke posisi  Karina. “Yah Karinanya mana Ma, kok hilang? Beneran, Ma, Amira enggak bohong, tadi memang ada Karina di depan Amira, Ma. Oooh iya, Amira lupa, Karina itu malu sama orang, makanya dia enggak ingin melihat Mama,” kataku untuk meyakinkan Mama agar percaya kepadaku.

“Ah kamu, Amira, sudah, enggak usaha dipikirkan lagi, mari sini biar mama antar kamu ke tempat tidur, lihat itu jam udah hampir pukul 12 malam, lo. Mari sini, Nak sama Mama.” Bujuk Mama kepadaku untuk mengikuti kemauannya.

Aku terlelap tidur di dalam pelukan Mama dan tak kusadari ternyata Mama telah kembali ke kamar tidurnya dan meninggalkan aku sendirian. Tiba-tiba aku tersentak dan kutatap jam dinding  yang pada saat itu menunjukkan pukul 02.31 WIB, di situlah aku baru menyadari bahwa Mama tidak ada lagi bersamaku. Saat itu, kulihat ke arah jendela, ternyata ada sosok perempuan yang cantik jelita, ternyata temanku Karina. Tak pernah persoalan ini timbul di benakku kenapa Karina tiba-tiba berada di kamarku dan sudah pukul dua malam dia masih di sini. Dari mana dia masuk sehingga telah berada di kamarku, tak kupikir persoalan itu, aku langsung menghampiri Karina yang sedang berdiri dan melihat indahnya malam saat itu melalui jendela.

“Karina, kenapa kamu berdiri di sini? Kenapa Karina enggak tidur saja dengan Amira? Karina, ayo sini, ayo tidur dengan Amira,” kataku  sambil menarik tangan Karina untuk membujuknya agar dia menuruti permintaanku.

“Sudah Amira, Amira tidur aja sana, Karina belum ngantuk, lagian kan, Karina bisa tidur kapan pun Karina mau, kan kita belum sekolah dan usia kita masih enam tahun, untuk apa coba, cepat-cepat tidur, kan besok enggak ada yang mau kita kejar,” jawab Karina yang membuatku menyesal atas mendengarkan perkataannya. Langsung saja aku tidur kembali dalam keadaan hati yang menyesakkan atas penolakan Karina.

Pagi hari, aku terbangun pukul 07.54 WIB, tak kungat lagi apa yang tadi malam terjadi denganku, sehingga aku bisa telat bangun pagi. Biasanya aku bangun pukul 06:20 WIB. Langsung saja aku bergegas turun dari tempat tidur, mencuci muka dan langsung aku beranjak ke meja makan yang berada di depan dapurku. Tapi apa yang kudapatkan di sana, aku hanya mendapatkan sepiring nasi yang ditemani oleh telur mata sapi. Kumakan dan kunikmati sendirian. Karena pukul segini, mamaku telah pergi kerja, kakak dan abangu sudah berada di sekolah dari tadi sejak pukul 06.30 WIB.

Setelah selesai makan, aku duduk di ayunan yang berada di taman rumahku, sambil aku memandangi bunga-bunga yang telah ditanam oleh Bik Ijah. Tak kusadari ada orang yang memanggilku dengan suara setengah berbisik. Kucari dari mana suara itu berasal, ternyata suara itu berasal dari tembok di samping rumahku, langsung saja aku berlari secepat mungkin dan kulihat ada siapa di sana. Sesampai di sana, aku hanya bisa melihat seorang anak kecil yang berbaju putih bersih seperti biasanya yang sering menemaniku di saat aku sedang kesepian.

“Hai, selamat pagi, Karina!” sapaku kepadanya.

“Iya, selamat pagi juga, Amira. Kamu sudah serapan belum? Kalau belum, biar aku temani,” tanyanya kepadaku.

“Sudah, kok, aku sudah makan. Kamu saja yang telat datang, tapi nggak apa-apa, deh, yang penting sekarang kamu sudah bersamaku. Eh bentar-bentar, wajah kamu kok pucat, kamu sakit ya? Kalau sakit, minum obat. Mari sini, aku ada obatnya. Mau nggak? Tapi pahit. Hehehehe…” sebentuk perhatian kuberikan ke Karina.

“Tidak apa-apa, Amira aku hanya telat tidur aja tadi malam,” jawabnya kepadaku, tanpa kusadari kalau tadi malam dia berada di kamarku.

“Amira, Karina pulang ke rumah boleh? Soalnya Karina ngantuk karena kurang tidur, itu pun tadi terbangun untuk samperin Amira.”

“Ah, cuma karena itu Karina bangun dan bela-belain kemari dengan keadaan yang masih ngantuk? Ya, sudah, nggak apa-apa kok. Malah Amira berterima kasih sekali sama Karina. Terima kasih, Karina,” jawabku sambil membawa rasa senang atas kepedulian Karina terhadapku.

Sore hari pukul 06.00 WIB, mamaku pulang dari tempat kerjanya. Setiba Mama di rumah, Mama melihatku dengan pandangan yang tidak biasa.

“Mama kenapa kok gitu kali lihat Amira?” tanyaku penasaran.

Jeh, kok kebalik ya, malah Mama yang harus bertanya kepada Amira. Memangnya ada apa yang terjadi dengan Amira hari ini, kok enggak seperti biasanya?”

Aku malah terdiam dan tak menjawab pertanyaan Mama, “Oh, ya sudahlah kalau Amira enggak mau cerita sama Mama.  Kalau begitu, Mama ke kamar dulu ya, Mama capek nih, baru pulang kerja. Dah, Sayang…” kata Mama yang sambil mengecup dahiku.

Malam hari pukul 09.30 WIB aku lelah menunggu kehadiran Karina yang dari tadi pagi tidak kulihat. Tapi aku tetap berpikir positif, mungkin saja dia tidak diberi izin oleh orang tuanya untuk menghampiriku disebabkan karena sudah terlalu malam, tapi aku sangat merindukannya. Dia sangat perhatian dan dia itu sudah kuanggap seperti saudaraku.

Aku tak tahu harus bagaimana, lagian kalau aku mencarinya, aku tak tahu di mana dia tinggal, tidak mungkin juga aku diberi izin oleh Mama untuk keluar jam segini, segera kuberanjak ke kamar dan berbaring di tempat tidur sambil menarik selimut yang  terletak di sisi bawahnya tempat tidurku. Langsung saja kupejamkan mata dan aku pun terlelap dalam kesedihan.

Kesokan harinya pun Karina tidak hadir ke rumahku, begitu juga hari-hari selanjutnya yang kulalui tanpa Karina. Aku pun belajar untuk melupakan Karina dan untuk mengikhlaskannya pergi dariku.

Sekarang aku berusia 12 tahun. Kulalui hari-hariku selama 6 tahun tanpa Karina, meskipun aku sudah lama tidak bersamanya, tapi pikiranku sering tertuju kepadanya. Di usia yang baru ini, aku akan menduduki kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat aku mendaftar sekolah di SMP Negeri 1 di Bandung Boarding School, aku melihat seorang wanita yang cantik jelita, wajahnya itu mengingatkanku kepada Karina. Saat aku menuju ke asrama yang telah diarahkan, aku melihat dirinya berdiri di depan teras asrama yang aku masuki.

Setelah sampai dari sana, tiba-tiba dia menyapaku, “Hai, Amira apa kabar?”

Aku sontak terkejut, bagaimana dia mengetahui namaku, padahalkan kami belum kenalan, tetapi aku tetap positive thinking, mungkin saja dia melihat biodataku yang berada di kantor sekolah.

“Hai!” sapaku balik kepadanya.

Saat aku menyapa dia yang anehnya, Mama dan Ayah melihatku dengan tatapan tajam, “Amira, Amira barusan sapa siapa? Mama dan Ayah enggak lihat siapa-siapa di sini.” tanya Mama keheranan.

“Itu, Ma, Amira ngomong sama di…a, lo mana ya, orangnya kok ngilang?” jawabku yang keheranan juga.

“Dia bukan ngilang Amira, tapi memang dari tadi enggak ada siapa-siapa,” jelas Mama padaku agar aku tak sering berhalusinasi.

Perasaanku langsung tidak enak pada saat itu, kenapa mama dan ayah tidak melihatnya? Dan kenapa juga dia tiba-tiba menghilang sebelum kutanya siapa namanya?” kataku dalam hati.

Mama dan Ayah pun beranjak pulang setelah membantuku untuk membereskan tempat tinggalku yang baru, yaitu asrama. Awalnya aku gugup dengan orang-orang yang ada di asrama, karena aku sangat takut kejadian di waktu kecil terulang kembali. Aku tidak  mempunyai teman,  hanya dia yang ingin berteman denganku pada saat itu.

Keesokan harinya, aku melihatnya kembali, wanita yang kemarin siang kutemui. Tiba-tiba dia memanggilku, aku heran dan kebingungan, mengapa dia memanggilku seakan-akan kami ini sudah akrab. Karena untuk menghargainya, aku pun segera menuju ke tempatnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Hai, Amira, aku senang berjumpa denganmu lagi,” jawabnya.

Maksudnya apa, ya? Kenapa dia berkata ‘lagi’, langsung saja aku bertanya,  “Apa kamu bilang? Memang kapan kita pernah berjumpa? Apa kita saling mengenal dan kenapa bisa kau mengenalku secara tiba-tiba?” cecarku atas kata-katanya yang sok akrab itu.

Dia terdiam sebentar, kumelihat di wajahnya ada terbesit sedih.

“Ih, kamu kenapa? Oh, mungkin kata-kataku terlalu kasar, ya? Maaf ya, aku memang begitu kalau belum kenal,” kataku untuk membujuknya kembali.

“Bukan karena kamu kasar, kamu masa enggak kenal denganku? Aku ini Karina teman kamu yang dulu. Oh, mungkin kamu sudah mendapatkan kawan baru, ya, dari dunia lain? Ups, maksudnya bukan….” katanya kesal kepadaku.

Aku heran padanya, memang wajahnya mirip Karina, tapi apa mungkin dia benar Karina? Percaya atau tidak percaya, sepertinya aku harus percaya, karena dia memang persis seperti Karina-ku

“Jadi… ini benar Karina?” Kataku yang langsung memeluknya, “ke mana saja kamu selama ini? Aku sangat merindukanmu, kamu tak memberikan alamat rumahmu kepadaku, aku selalu menunggu kehadiranmu di hadapanku, pokoknya aku sangat merindukanmu, Karina,” ucapanku membuat mata Karina meneteskan air mata.

“Iya, aku juga, maafkan aku, Amira karena meninggalkan kamu secara tiba-tiba.” katanya kepadaku.
“Iya, enggak apa-apa, enggak usah diingat lagi, yang penting kita sekarang bersama dan kita satu sekolah. Itu adalah mimpi yang aku tunggu-tunggu dari dulu,” kataku kepada Kirana.

Tak kami sadari, ternyata ada orang yang dari tadi memperhatikan kami berbicara, tapi anehnya mereka melihat kami seakan-akan ada sesuatu yang tidak beres dari kami, “Ih, jangan berteman dengannya, dia aneh, ngomong-ngomong sendiri..”  itu perkataan mereka yang kudengar sekilas.

Mendengar perkataan mereka, aku langsung heran, kan aku di sini berdua dengan Karina, kenapa perkataan mereka hanya tertuju kepadaku, sedangkan Karina tidak. Apa jangan-jangan selama ini Karina itu… agghhhh… apa  yang sedang kamu pikirkan tentang Karina, Amira? enggak mungkin Karina itu, agh… sudahlah. Lupakan saja perkataan mereka…” kata yang kuucapkan di dalam hati.

Langsung saja aku dan Karina pergi dari hadapan mereka dan aku mengajak Karina untuk melihat-lihat asramaku, begitu juga dengan Karina.

Kami memiliki asarama yang berbeda, tetapi jaraknya tidak terlalu jauh, saat aku memasuki asrama Karina, orang-orang pada heran melihatku, “Kamu, kan, anak baru, kenapa kamu masuk asrana orang seenakmu saja?” tanya salah seorang dari mereka, dan aku tak tahu dia itu siapa.

“Tapi, aku di sini diajak oleh temanku, karena asrama dia disini juga. Iya kan, Karina?” jawabnya, tapi yang berikutnya terjadi adalah Karina menghilang dari hadapanku. ”Mana teman kamu, mana kok enggak ada? Jangan-jangan teman kamu setan, kali!” kata mereka sambil meledekku.

Aku langsung keluar dari asrama dan kubawa rasa malu atas apa yang barusan terjadi, “Karina mana ya, kok dia menghilang, enggak ada bilang-bilang lagi  padaku, kalau emang dia mau ke toilet kan setidaknya dia permisi dulu padaku, dia menghilang tanpa alasan, memang betul kata mereka itu Karina seperti setan yang terkadang nimbul dan menghilang secara tiba–tiba,” ucapku kepada diriku sendiri.

Kesokan harinya adalah hari pertama kali aku sekolah, aku merasa heran kenapa badanku tersa sakit-sakit tidak seperti biasanya, tiba-tiba pukul 09.34 WIB aku sudah ada di atas tempat tidurku dan anehnya kenapa di kamarku sudah banyak orang? Memang apa yang terjadi kepadaku? Aku hanya bisa terdiam dan merasakan sakit di dalam tubuhku. Tiba-tiba aku melihat Karina dari kejauhan yang begitu marah kepadaku, kuperhatikan wajahnya tidak seperti biasanya, wajahnya dipenuhi dengan luka bakar dan juga ceceran darah, aku heran kenapa dia bisa seperti itu. Tiba-tiba dia berdiri di atas tempat tidurnya, mataku tak henti menatapnya sambil ketakutan dan tebersit di pikirankanku, kalau selama ini orang-orang menjauhiku apa karena aku berbicara sendiri yang tidak mereka tau kalau aku berbicara dengan Karina, dan benar kata mereka, kemarin kalau aku berbica dengan setan bukan manusia. Tiba-tiba aku tak sadarkan diri dan hanya orang-orang yang berada di situ yang mengetahui apa yang terjadi denganku.

Pukul 02.34 WIB, aku terbangun dari tak sadarkan diri tadi, badanku terasa semakin sakit, padahal yang aku ketahui aku hanya tertidur sebentar. Orang-orang yang berada di kamarku  sangat prihatin apa yang terjadi kepadaku dan aku tidak mengetahui hal itu, langsung saja kutanya pada Marina, teman sekelasku, karena hanya dia teman sekelaku yang mau berteman denganku walaupun itu jarang.

“Mariana apa yang sedang terjadi denganku?” tanyaku penasaran, tapi apa orang yang berada di sebelah Marina menggeleng kepadanya untuk memberi sebuah isyarat kalau aku tidak boleh mengetahuinya.

Keesokan harinya  aku berjumpa dengan Karina kemabali dengan penampilan dia yang biasa, “Amira maafkan aku, selama ini aku tak memberi tahu kepadamu apa yang sebenarnya yang ada pada diriku, mungkin kalau aku memberi tahu kepadamu, mungkin saja kamu tidak mau lagi berteman denganku,” uacapnya kepadaku sambil meminta maaf.

“Tidak Karina, apa pun yang terjadi dengan Karina, Amira tetap mau menjadi teman Karina, kok,” jawabku.

“Sebenarnya Karina ini berbeda dengan Amira, Karina bukanlah manusia,” ucapannya membuat hatiku terkejut.

“Berarti selama ini Amira berteman dengan orang yang bukan dari orang, melainkan dia itu adalah setan?” Kataku yang sambil perlahan-lahan melangkah menjauhi Karina, tapi dia malah menarik tanganku, dan melarangku untuk pergi dari tempat itu.

“Amira, sebenarnya wajah Karina yang aslinya bukan seperti ini, wajah yang asli Karina ialah seperti ini,” katanya yang sambil menunjukkan penampilan sebenarnya kepadaku, aku terkejut dan aku ketakutan.

“Lepaskan Karina! Lepaskan!” teriakku kepadanya.

“Amira, kamu harus mendengar dulu penjelasanku ini, kemarin kamu kerasukan, dan yang merasukimu itu adalah aku, karena aku ingin melawan jiwamu yang di dalam, agar kamu ikut bersamaku, karna kutahu aku di sini tidak selamanya, ada saatnya kita harus berpisah, dan aku tak mau itu, tapi jiwamu sangat kuat dan mengalahkanku,” katanya padaku.

Mataku pun meneteskan air mata, “Kamu tega, Karina, kamu tega. Cuma karena itu kamu merasukiku!” ucapku yang tak menyangka apa yang telah Karina lakukan kepadaku.

“Maafkan aku, Amira, maafkan aku. Baiklah, mulai hari ini aku takkan muncul dan takkan mengganggu hidupmu lagi. Maksudku, untuk di sini aku ingin izin kepadamu, aku ingin kembali ke tempat asalku yang mana telah dipersiapkan untukku, kuharap kamu mengerti dengan semua ini, Amira,” ucapnya kepadaku dan aku tak memedulikan apa perkataannya, dan bodohnya aku mimbiarkan dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Keesokan harinya, aku sangat menyesali perbuatanku kepada Karina pada saat-saat terkhirnya dia ada di hadapanku. Aku sangat menyesalinya, karena bagaimana pun juga, dialah temanku selama aku waktu kecil walaupun dia pernah menghilang dariku, aku mengirim surat untuknya melalui Sang Mahakuasa.[]

Penulis adalah santri MA Kelas X Dayah Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar.

Editor : Ihan Nurdin