Objek Wisata Pantai Bantayan Aceh Utara Ditutup Sementara

Pantai Bantayan

ACEHTREND.COM, Lhoksukon – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memerintahkan untuk menutup sementara objek wisata Pantai Bantayan yang berlokasi di Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara guna mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19).

“Sebelum dilakukan penutupan, para pedagang di objek wisata dan perangkat desa setempat sudah melakukan rapat bersama dengan muspika terkait penutupan tersebut,” kata Koordinator Objek Wisata Gampong Bantayan, Miftahhuddin, Sabtu (28/3/2020).

Dia mengatakan, penutupan ini dilakukan sementara dengan sesuai arahan Bupati Aceh Utara. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.


“Kami selaku masyarakat selaku pengelola berkewajiban memenuhi segala kewajiban yang diinstruksikan pemerintah demi menjaga keselamatan warga dan pengunjung,” katanya.

Dia menyebutkan sebenarnya pihaknya sangat mendukung terkait perintah tersebut, karena untuk kepentingan bersama. Tapi jika dilihat dari sesi ekonomi sangat merugikan, tapi apa boleh buat karena ini musibah. Jadi mereka harus mengikuti semua aturan yang sudah dikeluarkan.

Dia mengatakan, ada 37 pondok tempat usaha warga untuk menjual beraneka macam kuliner. Pembangunan bangunan yang berkonstruksi kayu tersebut, dimulai tiga tahap yaitu dari tahun 2016, 2017 hingga rampung pada 2018.

“Pondok itu disewakan bukan hanya warga Gampong Bantayan, ada juga ada juga warga dari Ule Matang dan Ule Reubek Timur,” katanya.

Dia  mengaku, untuk biaya parkir dan tiket masuk warga bisa memperoleh sedikitnya Rp600 ribu setiap minggunya. Sedangakan saat hari besar seperti Lebaran, pendapatan melonjak tinggi hingga Rp18 juta per hari dan diperlukan 80 orang pekerja untuk menjaga kendaraan.

Dengan ditutup objek wisata ini, tentunya ini sangat berdampak dengan ekonomi masyarakat setempat. Karena sebagian besar warga di desa tersebut tergolong pekerja yang hanya bisa memenuhi kehidupan satu hari, dan warga meminta ada solusi terkait masalah tersebut.

Menurut Miftahhuddin, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentunya solusi ada di pemerintah dengan harapan bagaimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhan setiap hari pascatutup objek wisata tersebut.

“Selama kasus Covid-19 ini nelayan yang masih beroperasi hanya 30% saja,” pungkasnya.

Selain itu, tempat objek wisata tersebut juga belum dilakukan penyemprotan disinfektan dan sosialisasi pencegahan Covid-19. Mereka juga mengaku belum mendapat tindakan maupun informasi apa pun. Padahal, lokasi desa yang berada tepat di pinggir pantai tersebut, rentan terhadap penyebaran virus jika ada imigran ilegal yang datang.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK