Aceh, Covid-19 & Cultural Intruder

Muhajir Al-Fairuzy.

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Mempertahankan keberlangsungan hidup merupakan naluri dasar manusia. Hampir tak ada manusia memilih jalan kematian dengan kesengajaan kecuali martir dan mereka yang putus asa dalam menjalani kehidupan lalu bunuh diri. Atau, budaya malu seperti di kalangan sindikat Yakuza atau samurai, mereka harus menebusnya dengan kematian. Islam sendiri mengutuk perilaku konyol yang dapat mengorbankan nyawa, apalagi bunuh diri. Bahkan, dalam masyarakat modern, nyawa dipandang amat berharga sebagai hak asasi. Iklan anti-aging (menolak tua) menjadi trend dalam komunitas masyarakat modern untuk tetap tampil muda seakan mempertegas hidup masih panjang.

Masih segar dalam ingatan kita penikmat sastra, sebuah novel yang terbit tahun 1974 dengan judul “Alive” karya Piers Paul Read yang didasar dari kisah nyata, bercerita bagaimana perjuangan sekelompok mahasiswa Uruguay yang terjebak dalam kepungan salju lebat pasca kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi, harus bertahan hidup dengan memakan bangkai teman mereka yang telah duluan mati sebagai stok makanan yang tersisa kala itu. Bertahan untuk hidup merupakan naluri dasar manusia yang waras dengan cara apapun, kecuali mereka yang telah putus asa dan memilih jalan penebusan depresi.


Tahun 1960-an, Aceh pernah mengisolasi penduduk yang terkena dugaan kutukan “budok” (Indonesia : kusta) ke sebuah perkampungan pesisir di kawasan Alue-Naga, belakangan tempat itu dikenal dengan kampung Podiamat. Jejak kampung bersejarah ini, harus hilang bekasannya setelah disapu habis oleh tsunami Aceh penghujung tahun 2004. Mengisolasi mereka yang terkena dugaan kutukan “budok” menjadi langkah preventif untuk menyelamatkan masyarakat yang masih sehat, dan tidak terkena dampak kusta. Apalagi, imun kusta saat itu belum ditemukan, sehingga masyarakat menganggap kusta merupakan penyakit kutukan, maka dalam konsensus dan sumpah, masyarakat Aceh kerap menyeret kusta sebagai simbol penegasan sumpah “…bak budok kee.”

Kini, menyambut tahun 2020, dunia diguncang oleh teror virus Corona. Belakangan disebut COVID-19, yang muncul pertama sekali di Kota Wuhan China. Corona selanjutnya menjadi wabah dan pandemi yang menghantui penduduk bumi, dan menyebar begitu cepat selaju transportasi umat manusia modern yang terus bersentuhan dalam hitungan jam dari satu negara ke negara lain. Tak hanya di Wuhan, belakangan virus ini terus menyebar ke negara-negara besar lainnya, tak terkecuali Amerika dan kawasan Eropa. Seolah tak kenal kasta, etnis dan agama, siapapun berpotensi diserang Covid-19, mulai dari raja, presiden, perdana Menteri, anak pejabat, hingga kalangan kelas bawah. Dari statistik yang muncul di halaman CNN hingga tanggal 28 Maret 2020, Amerika menjadi negara puncak secara tracking global spread yang diserang virus ini, dengan 100,717, kematian mencapai 1,544 orang. Disusul Italia, China, Spanyol, German dan Indonesia berada di urutan ke-36 dengan 1,046 kasus, dan 87 orang telah meninggal dunia.

Aceh sendiri sebagai kawasan paling ujung Sumatera, baru merasakan dampak Corona sejak pertengahan Maret 2020, hingga tanggal 28 Maret 2020, Aceh telah menemukan kasus empat orang positif Covid-19, dua di antaranya telah meninggal dunia. Rata-rata, mereka yang terpapar Corona di Aceh sebelumnya sempat melakukan perjalanan ke luar daerah, Surabaya, Malaysia dan yang terakhir setelah berkunjung ke Pakistan atas misi laku keagamaan yang diikuti. Butuh pengamanan ekstra ketat di titik pertemuan manusia oleh pemerintah Aceh, terutama Bandara, Terminal dan Pelabuhan.

Di tengah kelabakan dan sengkarut pandemi corona di Aceh, di mana gelombang kepanikan terus meningkat, terutama dari level pemerintahan seiring menjamurnya berbagai Surat Edaran (SE) dan maklumat lainnya, termasuk meliburkan aktivitas sekolah, kampus dan instansi perkantoran, penutupan warung kopi sebagai orang Aceh selama ini, hingga upaya lockdown yang kini terus diwacanakan, muncul pula seperangkat pengganggu kebudayaan (cultural intruder) global yang sedang bekerja menyelamatkan umat manusia dari kepunahan akibat pandemic ini.

Imbauan menjauhi tempat keramaian oleh pemangku kebijakan seperti diacuhkan oleh narasi martir beberapa penceramah, agar tidak takut pada wabah mematikan dibanding Tuhan, dan senantisa tetap memenuhi sentra keramaian terutama mesjid yang ditengarai sebagai wujud menguji iman di tengah wabah.

Membenturkan dua segmen dengan cara menyediakan panggung kontestasi antara kekuasaan Tuhan dengan wabah-corona tentu bukan teologi arif yang diajarkan Islam sebagai inti kebudayaan rakyat Aceh. Dari banyak kisah, Islam selalu menuntun umatnya pada keselamatan nyawa dan harta. Bukankah cerita takdir baik dan buruk saat wabah mematikan dihadapi Umar bin Khatab, lantas ia kembali ke Mekkah untuk menghindari wabah, dan kasus isolasi di Gampong Podiamat menjadi jejak sejarah, menunjukkan betapa arifnya umat Islam dan orang Aceh tempo dulu memaknai wabah yang mengancam nyawa dan kesehatan manusia banyak.
Narasi ceramah yang justru menjebak manusia pada bahaya patut disebut sebagai bagian dari cultural intruder, meminjam istilah Herring (1976) sebagai penganggu budaya global khususnya menyangkut keberlangsungan hidup manusia. Bahkan, terkesan dungu dan pongah dengan melecehkan wabah pandemi yang kian akut lewat doktrin martir soal iman. Padahal, tak sedikit negara-negara besar mayoritas umat Islam telah mengambil langkah tegas dengan menutup pusat keramaian, termasuk mesjid untuk sementara, tentu dengan pertimbangan nyawa manusia lebih utama dalam beragama.

Menutup Mesjid bukan berarti lantas membunuh keimanan dan menenggelamkan Islam, seperti puisi Said Muniruddin Bubarnya Agama, bahwa Tuhan ada di mana-mana, tak melulu di tengah keramaian dan mesjid. Tak hanya mesjid, hampir semua rumah ibadah besar lain, termasuk Vatikan sebagai pusat Katolik pun terpaksa tutup, karena Corona seperti gempuran pasar kapitalisme dalam menjual produk, tak penting agama, etnis, kelas, dan bangsa, asal produknya laku. Pun corona, melekat pada siapapun pada makhluk bernama manusia.

Perlu sikap tegas dan arif agamawan di Aceh, terutama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) sebagai lembaga yang memiliki otoritas mengatur peta laku keagamaan di Aceh, agar manusia Aceh tak mati konyol akibat narasi pongah sebagian penceramah. Seluruh dunia, kini bahu membahu melawan pandemi mematikan. Bukan lantas menjadi pengganggu budaya global demi keselamatan umat manusia karena ego primordial dan teologi keliru. Agama harus menjadi pondasi keselamatan umat manusia, bukan sebaliknya akibat ceramah yang tak mewakili nilai perlindungan nyawa manusia.

Dalam sejarah narasi agama samawi, cukup iblis saja yang pongah dan sombong menentang ciptaan Tuhan yang maha kuasa yaitu Adam, dengan memandang ia lebih hebat. Sebagai manusia yang arif dan beriman, Corona adalah ciptaan Tuhan di tahun 2020, pun tugas manusia yang beriman menyelamatkan diri dengan segenap aturan global yang telah diberlakukan. Tak perlu menyandingkan posisi Tuhan dan Corona, karena jelas Tuhan lebih berkuasa, dan pandemi akan binasa jika kita percaya akal sehat melawan wabah adalah titipan istimewa-Nya, bukan justru membunuh akal dengan sikap pongah dan dungu lalu mati konyol sebagai takdir buruk menurut Umar bin Khatab, jelas ini sikap yang selalu dikutuk oleh-Nya.

Penulis Buku Ama Aceh di Pulau Nias & Pengajar Anthopologi Budaya di STAIN Meulaboh.

KOMENTAR FACEBOOK