Jebolnya Komunikasi Hana Bereh Pemerintah Aceh

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Akhirnya benteng pertahanan komunikasi Juru Bicara Pemerintah Aceh, cum Jubir Covid-19 Aceh, jebol juga. Saifullah Abdulgani yang sebelumnya selalu menjadi bumper komunikasi pemerintah, kini harus menjadi pesakitan. Pernyataan resminya bahwa pemerintah sedang menyiapkan lahan pekuburan [massal] untuk jenazah positif covid-19 dan PDP, telah membuat heboh publik.

Sejak awal, komunikasi pemerintah di Aceh terkait corona, sudah ngawur. Sama buruknya dengan cara Pemerintah Pusat yang kerap tampil dengan pernyataan yang membuat publik bertanya-tanya.

Saya masih ingat status FB seseorang yang dekat dengan Plt Gubernur Aceh mengapa Nova memutuskan meliburkan sekolah selama 14 hari. Di status itu ia menyebut bila Ketua Demokrat Aceh itu meliburkan sekolah karena memenuhi keinginan publik. Tapi, kala itu reaksi netizen tidak begitu heboh. Mungkin karena memang netizen khawatir bila sekolah tidak diliburkan, anak-anak mereka akan tertular. Saya mencatat itu sebagai pernyataan blunder. Menampakkan bila pemerintah di Aceh sedang melakukan tindakan peusak ‘hob.

Tapi, ketika SAg–demikian Jubir Covid-19 disapa– menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan lahan pekuburan “spesial”, kemarahan publik pun meledak. Bukan hanya di FB, tapi juga di dunia nyata. Bahkan, beberapa pihak malah meminta SAg dicopot dari jabatannya. Duh!

Menjadi SAg tentu tidaklah mudah. Walau sejak awal Pemerintah memiliki dua jubir dan sejumlah penasehat khusus komunikasi, tapi yang kerap muncul ke publik adalah SAg. Selain karena memiliki kemampuan berdialektika yang bagus, mantan jubir Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) itu juga mudah dihubungi oleh wartawan. Walau berdiri sebagai frontline, ia memiliki saringan yang jauh lebih baik ketimbang yang lain. Di media sosial, SAg juga tidak reaksioner. Tugasnya hanya menjadi jubir, bukan sebagai tim ‘nyek-‘nyek netizen.

Aceh memang butuh lahan kuburan khusus untuk jenazah positif covid-19 atau PDP. Karena jenazah itu butuh penanganan khusus. Sebagai wabah yang sangat menakutkan publik, pengidap covid-19, baik yang masih hidup maupun yang meninggal dunia, harus diperlakukan tidak biasa. “Istimewa”. Corona juga telah menjadi momok bagi yang tahu risikonya.

Sebagai jubir, saya duga SAg sudah menghitung apa yang akan ia hadapi seusai menyatakan ke publik bahwa Aceh butuh lahan kubur khusus untuk korban covid-19. Tapi ia harus melakukannya. Ketika menyampaikan hal itu, SAg tidak bertindak atas nama pribadi. Tapi sedang mewakili pemerintah. Ia sedang menyampaikan maksud pemerintah.

Apa yang terjadi, bukanlah kesalahan SAg seorang diri. Ini wujud nyata betapa buruknya komunikasi Pemerintah Aceh yang berlangsung selama ini. Di tengah kompetisi sesamanya di internal yang saling gilho keunu, manajemen komunikasi berjalan amburadul. Sejak lama saya sudah mengkritisi tentang kondisi tersebut. Saling jegal berlangsung seperti di dalam film-film India. Sesamanya, tidak saling percaya, dan saling meraup untung dengan memanfaatkan jabatan.

Pidato yang disampaikan oleh SAg yang juga disiarkan secara langsung di akun Facebook Biro Humas Pemerintah Aceh, seharusnya –sekali lagi, seharusnya- sudah dirembugkan di internal tim komunikasi. Bukankah di sana banyak sekali ahli tentang itu? Lalu mengapa bobol? Jawabannya seperti yang saya tuliskan di atas. Mereka tidak akur. Mereka saling menjegal.

Apatah artinya klarifikasi oleh sejumlah buzzer, nasi telah menjadi bubur. Publik kadung kecewa. Pernyataan itu sebenarnya tidak perlu didengar oleh rakyat. Publik ingin mendengar hal lain. Tapi ya sudahlah.

Di lapangan, publik Aceh dilanda kebingungan. Harga pangan menanjak cukup kencang. Ekonomi seret. Ketakutan melanda seluruh pelosok. Para karyawan warung rata-rata sudah dirumahkan untuk sementara waktu, sampai batas yang belum pasti. Para ODP terus bergentayangan di ruang publik. Seorang ibu rumah tangga di Lhokseumawe curhat, di tengah kondisi seperti ini, ia seakan telah mati sebelum waktunya.

Oh, betapa hana bereh-nya komunikasi Pemerintah Aceh di tengah program bereh yang seakan sedang berusaha memakzulkan program Aceh Hebat.

Pun demikian, belum ada yang terlambat. Nasi yang telah menjadi bubur, hanya perlu ditambah santan dan gula-walau harganya mahal, agar menjadi makanan yang layak santap. Ayo Pak Nova! Mari perbaiki dari sini. Kita awali hal baru. Agar kita tidak terus-terusan terperosok pada lubang yang sama. []