Mengenal Covid-19 dari Dasar

Oleh dr. Ade Oktiviyari, M.Sc*

Dalam beberapa bulan ini, dunia heboh dengan penemuan virus terbaru, SARS-CoV-2 atau yang kita kenal secara umum mengakibatkan penyakit Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Sejak dari awal kemunculannya di akhir tahun 2019 lalu, telah banyak referensi ilmiah, baik jurnal hasil penelitian, poster, dan video yang membahas mengenai virus ini.

Virus corona sendiri bukanlah virus baru. Sebenarnya, telah beberapa kali virus dari genus ini beredar dan membuat kehebohan di masyarakat. Ingat pandemi SARS tahun 2002 dan MERS tahun 2012? Penyebabnya adalah virus dari genus yang sama dengan virus Covid-19 ini, yaitu genus Coronavirus.


Meski sekarang dunia menghadapi tantangan sebesar Covid-19, ada beberapa hal dasar yang sebaiknya kita ketahui. Tujuannya untuk menghindari hoaks dan memungkinkan kita menangkap informasi yang lebih mendalam.

Apakah kuman sama dengan virus?

Masyarakat terbiasa menyebut agen penyebab penyakit sebagai kuman, atau bahasa Inggrisnya disebut germs. Untuk diketahui, germs atau kuman adalah segala sesuatu yang mengakibatkan penyakit. Jika ditilik lebih luas lagi, kuman bisa mencakup bakteri, jamur, virus, dan bahkan yang lebih besar lagi seperti parasit. Walau dalam KBBI definisi kuman hanya terbatas pada binatang yang menyebabkan penyakit, tapi untuk mempermudah pemahaman, mari kita samakan definisi kuman dengan germs sesuai terjemahannya secara bahasa.

Meski virus dimasukkan ke dalam kelompok kuman, tetapi berbeda dengan bakteri, virus tidak dianggap sebagai makhluk hidup. Karena sifatnya yang tidak dapat hidup tanpa organisme lain, virus tidak dapat digolongkan sebagai makhluk hidup. Ditambah dengan sifat virus yang tidak memiliki metabolisme saat berada di luar inangnya.

Beberapa perbedaan virus dengan makhluk hidup lain: virus tidak tumbuh dan tidak membuat energi sendiri. Yang virus lakukan hanyalah bereplikasi. Untuk itulah virus memerlukan sel hidup. Dia akan masuk ke dalam sel hidup dan menggunakan materi genetik atau DNA sel tersebut untuk bereplikasi.

Maka dari itu, bisa kita simpulkan bahwa virus, meski tergolong dalam kelompok kuman, berbeda dengan makhluk hidup seperti parasit, bakteri, dan jamur.

Mengenal Virus Lebih Dekat

Jadi, pertanyaan yang mungkin timbul, kenapa virus menginfeksi makhluk hidup?

Itu adalah salah satu pertanyaan yang pernah saya dapatkan. Sebagaimana yang kita ketahui, sifat dari semua makhluk hidup adalah untuk mengekalkan eksistensinya. Itulah sebabnya semua makhluk hidup melakukan aktivitas metabolisme dan berkembang biak. Hal yang sama berlaku pada virus, meski virus tidak digolongkan sebagai makhluk hidup.

Virus hanya memiliki sejumlah protein yang membentuk strukturnya dan materi genetik yang dia bawa di intinya. Sebenarnya, sehari-hari kita dikelilingi oleh awan besar virus dan hidup dengan tenang di dalamnya. Sebagian virus membuat kita sakit, sebagian tidak, dan sebagian menguntungkan untuk tubuh. Namun, mengapa walaupun kita bernapas dalam awan virus dan mungkin menelan banyak virus setiap hari kita tidak selalu sakit?

Pertama, karena tidak semua virus bisa hidup pada manusia. Untuk bisa hidup, virus memerlukan tempat melekat atau reseptor. Setiap virus memiliki struktur yang berbeda. Dan karena itulah dia juga memerlukan reseptor yang berbeda pada inang atau host-nya. Jika manusia tidak memiliki reseptor itu, maka virus tidak dapat masuk ke dalam sel manusia itu. Ini juga menentukan mengapa sejenis virus hanya menyerang saluran napas, hanya menyerang saluran cerna, atau saluran kemih misalnya. Ini bergantung di mana sel yang memiliki reseptor itu berada. Dan kadang reseptor itu hanya dimiliki oleh selain manusia, misalnya dimiliki kuda atau kucing. Sehingga virus itu hanya membuat sakit kuda atau kucing.

Ketika virus yang menemukan reseptor yang cocok dengannya, tentu virus akan menempel dan menggunakan reseptor itu untuk masuk ke dalam sel, lalu menginfeksi sel dan selanjutnya bereplikasi. Virus akan berkembang di dalam sel, sel akan lisis (pecah) pada akhirnya ketika jumlah virus di dalamnya sudah terlalu banyak. Virus yang keluar dari sel yang pecah itu akan menginfeksi sel-sel lain, dan seterusnya.

Di sinilah faktor kedua penentu apakah kita akan sakit atau tidak, yaitu imunitas tubuh. Tubuh memiliki sinyal ketika ada benda asing muncul dalam sistem tubuh kita. Dalam luasnya permukaan tubuh manusia, berlipat-lipat lapisan jaringan, kompleksitas organ dan sistem organ, semuanya memiliki tentara-tentara kecil bernama sel darah putih yang bersiaga dalam keadaan apa pun. Bahkan, tanpa adanya antibodi atau vaksin, tubuh kita tetap memiliki mekanisme untuk membasmi virus. Hanya saja, kerjanya tidak cepat dan tidak spesifik. Tubuh perlu waktu lama untuk mengenali dan merespons gangguan kecil ini, sehingga untuk mempercepat proses ini sebelum aktivitas virusnya merusak, diperlukan antibodi.

Apa yang Membuat Covid-19 Mematikan?

Hal yang membuat virus menjadi lethal atau mematikan adalah replikasi dan tempat dia melekat. Virus yang melekat di mata, tentu tidak akan mengakibatkan kematian secepat yang ditimbulkan oleh virus yang melekat di saluran pernapasan. Secara umum, virus yang menyerang saluran pernapasan mengakibatkan kematian lebih cepat. Hal ini dikarenakan vitalnya fungsi organ pernapasan untuk manusia. Gangguan kecil seperti tersedak saja dapat membawa pada kematian jika tidak cepat diatasi. Apalagi jika gangguan ini terjadi di tingkat organ utama, yaitu paru-paru. Kerusakan pada paru akan memicu reaksi peradangan yang sangat dahsyat dan mempercepat kerusakan paru-paru yang berujung pada kematian. Beberapa studi menyebutkan Covid-19 lebih menular dibandingkan virus influenza.

Pada keadaan seperti gangguan sistem imun karena obat dan usia tua, virus akan berkembang lebih cepat tanpa penghalang. Inilah yang mengakibatkan kondisi pasien berusia lansia lebih cepat memburuk dan membawa pada kematian. Belum lagi jika ada koinfeksi dengan bakteri lain yang sudah ada pada saluran pernapasan seperti pada pengidap TB.

Jika sistem imun baik, gejala Covid-19 bisa tidak terasa karena virus akan dibersihkan dengan cepat oleh tubuh. Bisa jadi gejala yang timbul ringan atau malah tidak timbul gejala yang jelas. Seperti hanya merasa lemas, sedikit meriang, atau batuk sedikit.

Karena virus baru, sedikit sekali yang masih diketahui oleh ilmuwan mengenai virus Covid-19 ini. Setiap hari akan selalu ada update dan perkembangan terbaru. Makanya, yang bisa kita lakukan tetap mengikuti arahan dan rekomendasi dari sumber resmi seperti WHO dan Depkes.[]

*Penulis adalah lulusan master bidang Infection Biology di Universitas Luebeck, Jerman. Berprofesi sebagai dokter umum dan tenaga pengajar di Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Unsyiah. Anggota Forum Lingkar Pena Aceh.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK