Jam Malam dan Ancaman Lahirnya Kriminal di Akar Rumput

Oleh Muhammad Razanur,S.P

Semenjak Covid-1919 bertamu di bumoe Aceh tentunya pemangku kebijakan dilema dengan keputusan yang harus diambil sebagai langkah awal dalam melakukan pencegahan.

Masyarakat berteriak kenapa Aceh belum ada tindakan? Lalu salah satu tindakan, sekolah pun diliburkan. Seiring waktu covid-19 semakin menjamur di setiap negeri. Dilema sebagai pemimpin negeri tentunya dituntut mengambil kebijakan yang tepat. Langkah-langkah kebijakan pun ditetapkan di antaranya dilarang membuat keramaian. Masyarakat pun menerima keputusan tersebut dengan memikirkan keselamatan orang banyak. Lalu menyusul aturan-aturan baru seperti warung kopi di Aceh harus ditutup dan diberlakukannya jam malam. Shalat berjamaah harus dengan jarak 1 meter, begitu pula fatwa shalat Jumat bisa digantikan dengan shalat zhuhur. Entahlah sebagai orang awam tentang ilmu fiqih pastinya sebelum dibuatkan fatwa pasti ada renungan dan berpedoman pada ilmu fiqih. Konflik pun muncul, sebagian mempertanyakan sahnya shalat dengan jarak 1 meter. Sebagian lagi mengolok-oloknya. Lantas jika kita ragu pada keputusan yang ditetapkan maka jelaskan secara detail sebagaimana benarnya.

Sangat disayangkan yang teriak-teriak tidak sah adalah awam seperti saya yang mengajinya tidak lebih pada sampul kitab jawi. Kalau ditanyakan apa saja kitab fiqih baik kitab jawi maupun kitab arab maka satupun tidak dapat disebutkan.

Kembali kepada persoalan jam malam, menyangkut hukum fiqih maka biarkan yang memahaminya yang menentukan. Ulama sebagai lentera dunia pasti lebih tahu dari kita yang menamatkan pendidikan ilmu agama semenjak umur 20 tahun.

Kesempatan ini kita akan melihat dampak dari berlakunya jam malam dari sudut kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman. Secara sudut kekuatan dari keputusan tersebut adalah langkah tepat untuk pencegahan penyebaran covid-19. Kelemahannya adalah interaksi masyarakat umumnya berkurang. Dari segi peluangnya masyarakat lebih banyak waktu dengan keluarga, lebih banyak waktu di rumah. Sedangkan dari ancaman tentunya berpengaruh besar pada pendapatan masyarakat banyak.

Bekerja di rumah menjadi intruksi dari pemimpin negeri, pertanyaannya bagaimana dengan buruh tani, tukang becak, tukang parkir dan sejenis pekerjaan masyarakat kecil lainnya. Apakah mereka bisa bekerja di rumah?

Apakah dapurnya akan berasap tanpa bekerja di luar rumah?

Berlakunya jam malam melumpuhkan ekonomi masyarakat kecil, secara kasat mata saya yang awam aturan tersebut kurang efektif. Lalu apa ada yang lebih efektif dari aturan tersebut?

Jika mengkritik harusnya ada solusi, bukan?

Baiknya demikian, kesadaran diri lebih utama. Jika baru pulang dari luar daerah sebaiknya berdiam diri di rumah. Namun banyak dari kita yang tidak sadar bahkan baru pulang dari luar kabupaten lain “peugah lom, Pat ek taduk i rumoh. Lapornyo lapor jeh, lon hana saket kuh pane ek tayak duk i rumoh.”

Yang kedua dari unsur pemerintah, bandara dan pelabuhan sebaiknya ditutup untuk tamu dari luar negeri. Jika warga kita yang pulang dari luar negeri seharusnya ada tempat karantina khusus. Lalu di perbatasan juga diterapkan aturan demikian jika dari luar daerah (provinsi setempat) maka dikarantina terlebih dahulu dengan pengawasan ketat dari pihak keamanan maupun kesehatan.

Sayangnya itu tidak ada, malahan yang dari dalam negeri yang dikarantina. Maksudnya bagaimana? Kenapa berbelit-belit penjelasannya.

Berlakunya jam malam, bekerja di rumah adalah dua hal yang baik namun dampaknya besar terhadap pendapatan masyarakat kecil. Sayangnya bandara dan pelabuhan tidak ditutup (masih bebas keluar masuk). Apakah efisien aturan tersebut?

Salah satu pemilik warung kopi mengatakan “top ule teuhah punggong.” aturannya baik namun logikanya terbalik.

Seandainya bandara, pelabuhan dan daerah perbatasan diberlakukan aturan seperti yang saya sampaikan di atas dan kita yang pulang dari luar daerah melakukan karantina mandiri di rumah maka jam malam saya pikir tidak perlu diberlakukan. Ekonomi masyarakat kecil tidak lumpuh. Namun jika aturan yang sudah ada tidak direvisi maka cepat atau lambat krisis ekonomi akan terjadi. Efeknya akan lebih berbahaya dari wabah Covid-19.

Logikanya dari berlaku jam malam adalah peluang bagi pencuri untuk bergerak bebas tanpa ketahuan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Saat dapur rumah tidak lagi berasap maka orang akan gelap mata. Apapun dilakukan yang penting asap yang keluar dari mulut tetap ada dan kopi masih bisa diminumnya setiap hari.

Penulis adalah pendamping PKH Kabupaten Bireuen