Menjaga Aceh dari Serangan Corona

Oleh Zairil

Provinsi Aceh Letaknya di ujung barat Pulau Sumatra, bahkan nol kilometer Indonesia di bagian barat. Selama ini masyarakat berbicara mengenai Covid-19 atau virus corona yang menghantui dunia. Saya rasa orang Aceh sangat mudah memutuskan rantai virus itu, sebab Aceh di kelilingi oleh laut, pagar yang sangat bagus untuk membentengi corona bahkan tiada pintu di seputaran pagar itu yang ada hanya pintu khusus untuk barang di Langsa dan Krueng Geukueh. Itu pun tak berfungsi.

Maka dari itu Aceh sangat mudah memutuskannya rantai covid-19 hanya di tiga titik saja yaitu Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, batas Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara di dua titik yaitu Tamiang dan Singkil.

Jika ketiga pintu itu ditutup, Aceh tidak perlu pemberlakuan jam malam. Walau demikian pembatasan sosial tetap masih perlu, mengingat ODP dan PDP masih terus saja berkembang dari hari ke hari.

Apa gunanya jam malam? Apa jam malam itu tidak perlu biaya? Kita sudah lock otomatis itu. Artinya sudah kurung diri di Aceh.

Dalam rangka antisipasi, selain terus membuka pelayanan kesehatan yang serius dan terpadu, Pemerintah Aceh hanya perlu fokus di tiga titik itu saja. Sediakan asrama di kawasan bandara, semua ODP yang turun dari pesawat tidak boleh di jemput oleh keluarga, hanya petugas yang dibolehkan untuk menjemput dan mengantar ke asrama untuk di karantina selama 14 hari, tidak ada kecuali, baik pejabat kecil maupun petinggi. Begitu juga di dua titik lainnya, Tamiang dan Singkil. Sediakan tempat karantina.

Kebijakan seperti itu akan membuat siapapun akan berpikir tiga kali bila ingin pergi ke luar Aceh atau masuk ke Aceh dalam kondisi masih merebaknya corona. Saya rasa itu tidak melanggar dengan aturan Pusat. Jika pemerintah menjalankan seperti itu, Insya Allah Covid-19 tidak mudah terjangkit di Aceh, eonomi rakyat Aceh pun tiada efek apapun.

Tidak lupa juga kita berdo’a, bermunajad dan berdzikir kepada Allah, semoga selalu dalam lindungan dan bimbingan-Nya, semoga dilindungi dari bahaya virus corona.

Penulis adalah wiraswasta, lahir di Samalanga, dan bermukim di Banda Aceh.
Emai: zairilismail@gmail.com.