Isolasi Mandiri di Tepi Sungai, 8 ODP Aceh Besar Berharap Direlokasi

ACEHTREND.COM,Jantho-Sejak kembali menapak tanah Serambi Mekkah pada Senin (30/3/2020) 8 pemuda asal Aceh Besar yang baru pulang dari Jakarta, memilih mengasingkan diri ke tepi Krueng Jalin, Mukim Jantho, Kecamatan Kota Jantho. Di bawah rerimbun pepohonan sawit yang menghijau, mereka berteduh di bawah tenda army green bantuan pemerintah.

Sudah seminggu sejak meninggalkan Batavia, delapan pemuda berpenampilan rapi, “bermukim” di tepi Sungai Jalin, yang mengalir membelah pegunungan Kota Jantho. Berstatus sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena baru pulang dari daerah terjangkit covid-19, membuat mereka harus uzlah dari kampung.

Saat tiba dari Bandara Internasional Iskandar Muda, mereka yang dijemput oleh keluarga masing-masing, beranjak ke kampung. Kasak-kusuk segera saja terjadi. Ada warga yang takut bila para pemuda itu membawa serta virus corona.


Tidak menunggu lama, pihak keluarga berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Untuk sementara waktu, mereka memilih “bermarkas” di tepi Sungai Jalin, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Kota Jantho, ibukota Aceh Besar.

Jalan menuju ke sana, setelah melewati Kantor Bupati Aceh Besar, masih beraspal, walau tidak lagi mulus di beberapa titik. Sepanjang jalan view-nya melenakan mata. Jalinan pegunungan yang bertaut antara satu dengan rangkaian lain, merupakan pemandangan yang aduhai.

Tempat delapan pemuda itu uzlah menghabiskan masa isolasi diri, berjarak 1,7 kilometer dari Gampong Weu, Mukim Jantho, Kecamatan Kota Jantho. Menuju ke lokasi itu, aceHTrend bersama relawan Yayasan Graisena Helmi N. Hakim, harus melalui perkebunan kemiri, dan kebun sawit. Hanya kendaraan roda dua yang bisa dipergunakan menuju titik para ODP itu menghabiskan hari-hari isolasi. Helmi ke sana dalam rangka mengantar bantuan kemanusiaan untuk meringankan beban ODP dan keluarganya.

Helmi N. Hakim, relawan Yayasan Graisena, ketika menuju lokasi isolasi mandiri 8 ODP di Krueng Jalin, Aceh Besar. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Media ini diantar ke lokasi oleh keluarga ODP, yang sebelumnya sudah menunggu di gerbang desa yang dipasangi portal. Sekitar 50 meter, jelang tenda, rombongan harus berjalan kaki. Sebuah alur kecil, menghalangi sepeda motor menapak ke dekat tenda.

Ketika tiba di lokasi, Minggu (5/4/2020) sekitar pukul 17.30 WIB, tiga pemuda sedang mandi di sungai yang berjarak sekitar lima meter dari tenda. Sebagian lainnya sedang memakai pakaian.

Di dalam tenda–aceHTrend melihat dari luar, makanan pokok seperti beras, telur,dan minyak goreng, ditumpuk disudut. Tidak terlalu banyak, mungkin cukup untuk logistik mereka menghabiskan sisa masa isolasi mandiri sekitar tujuh hari lagi.

Tenda dibangun di tepi sungai. 8 ODP tersebut mulai dilanda bosan. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Delapan pemuda itu terlihat bugar, rapi dan air mukanya menunjukkan bila di perantauan mereka sempat mengurus diri. Dari cara berpakaian, terlihat nyata bila mereka hidup di kota besar dan tidak ketinggalan mode.

Hal ihwal mengapa mereka memilih isolasi ke tepi sungai, menurut pengakuan, demi menjaga kenyamanan bersama. Ada warga yang takut bila mereka bermukim di desa. Warga khawatir bila para pemuda itu membawa serta covid-19.

“Atas alasan itu kami pun bersepakat anak-anak kami, ditempatkan di pinggir sungai ini. Saya sendiri harus mengalah, ketimbang ribut dengan orang kampung. Wajar mereka takut, karena katanya covid-19 sangat mengerikan,” kata salah seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun, yang putranya ikut di-uzlah ke tepian Krueng Jalin.

Setelah seminggu di tepi sungai, mereka mulai dihinggapi rasa bosan. Di lokasi itu tidak ada signal internet. Juga tidak ada jaringan telepon selular. Pagi hingga sore sangat sepi. Bila malam, gulita meraja di sana. Penerangan yang berasal dari genset bantuan pemerintah hanya menyala hingga pukul 00.00 WIB.

Aktivitas yang awalnya mereka senangi seperti memancing, mulai terasa tidak asyik. Demikian juga berendam di aliran sungai. Sudah sangat menjemukan. Mereka berharap kepada otoritas agar dipindahkan ke tempat yang representatif.

Seorang ODP yang ikut karantina mandiri di Krueng Jalin, sedang memanggul kayu sembari menyeberangi sungai. [Muhajir Juli/aceHTrend]

“Kami minta dipindah ke tempat yang lebih layak daripada tempat ini. Dan kami ditanggung kesehatan dan lain-lain, fasilitasnya yang nyaman jangan seperti tempat seperti ini,” harap salah satu di antara mereka.

Mereka juga mengatakan selama tujuh hari di sana, bukan hanya bosan yang melanda. Tapi juga mulai risau akan dampak kesehatan. Tinggal di dalam tenda di tepi sungai di tengah kebun sawit, tentulah tidak nyaman. Selain berdesak-desakan, juga serangan nyamuk di malam hari, udara dingin dan lainnya berpotensi mereduksi kesehatan. Apalagi, shock culture. Tubuh mereka telah begitu lama hidup di kota besar, tiba-tiba harus bermukim di tengah perkebunan sawit dengan fasilitas yang sangat minim.

“Kami khawatir, bilapun tak ada corona, justru timbul penyakit lain akibat tinggal di tempat seperti ini,” ujar salah satu di antara mereka. Para pemuda itu menambahkan, selama di tempat karantina mandiri, belum sekalipun kesehatan mereka diperiksa.

“Belum ada petugas kesehatan yang memeriksa kondisi kami. Alhamdulillah selama di sini belum ada yang mengalami gangguan kesehatan. Belum ada gejala-gejala apapun. Semoga saja tidak.”

Keuchik Gampong Weu, Mawardi, kepada aceHTrend menyampaikan asa yang sama. “Kami berharap anak-anak ini ditempatkan di lokasi yang lebih layak. Jangan lagi di sini. Karena di sini kan tidak cocok untuk tempat karantina,” ujar Mawardi.

Para ODP duduk di tenda. Mereka berharap dipindahkan ke tempat yang lebih layak. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Matahari telah kembali ke peraduan, aceHTrend dan relawan Yayasan Graisena, pamit. Di kejauhan sayup terdengar kumandang azan. Gelap mulai menyertai laju roda sepeda motor yang kami tumpangi. Suara jangkrik dan burung-burung malam, sayup-sayup terdengar di antara deru motor bebek yang melaju lambat di liukan jalan kebun yang sempit. Rerimbun rotan tumbuh bergerombol di sepanjang laluan. Kini, delapan pemuda itu kembali menyambut gulita, di tengah sepi yang menyergap.

***
Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, yang dihubungi aceHTrend setelah Isya, mengatakan, karantina mandiri di tepi Krueng Jalin, adalah pilihan mereka sendiri. Pemerintah Aceh Besar sudah berkomunikasi melalui pihak kecamatan dengan keluarga ODP.

“Itu permintaan mereka sendiri. Katanya biar dekat dengan keluarga, tidak menganggu kenyamanan masyarakat serta itu kebun mereka sendiri. Mereka memilih di sana karena bisa memancing dan lain sebagainya,” kata Mawardi.

Pun demikian, bila sudah ada permintaan direlokasi, Pemerintah Aceh Besar akan membantu pemindahan 8 ODP tersebut. Besok, Senin (6/4/2020) Mawardi sudah mengintruksikan masing-masing kecamatan menyiapkan lokasi penempatan ODP.

“Saya sudah perintahkan kecamatan-kecamatan dan desa untuk menyiapkan lokasi karantina mandiri. Tentu yang dekat dengan keluarga [ODP]. Kepada delapan orang itu, besok akan saya suruh pihak kecamatan untuk ke sana. Bila memang mereka minta dipindah, maka akan kami pindahkan,” kata Mawardi. []

Video terkait:

KOMENTAR FACEBOOK