Bupati Aceh Besar Jemput 8 Pemuda yang Isolasi Mandiri di Tepi Sungai Jalin

Para pemuda yang awalnya mengisolasi diri ke tepi Sungai Jalin, mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Aceh Besar, yang telah menjemput mereka dan ditempatkan di JSC di Kota Jantho. [Muhajir Juli/Screenshoot video]

ACEHTREND.COM,Jantho- Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, Senin (6/4/2020) siang menjemput delapan pemuda yang menempuh karantina mandiri di tepi Krueng Jalin. Di bawah guyuran hujan lebat bulan April, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu memimpin tim yang bergerak menerabas jalan belukar di tengah kebun sawit.

Tiba di tempat para pemuda yang pada Senin (30/3/2020) pulang dari Jakarta, Mawardi segera meminta mereka berkemas-kemas. Kepada para “petualang” itu, Mawardi mengatakan akan menempatkan mereka di Jantho Sport Center (JSC).

Tidak menunggu lama, para pemuda yang menurut Mawardi tidak berstatus ODP, tapi self monitor, segera berkemas. Mereka merapikan pakaian dan sisa logistik kemudian dimasukkan ke dalam ransel dan wadah lainnya.


Dijemput oleh orang nomor satu di Aceh Besar, membuat para pemuda itu berbahagia. Raut wajah mereka terlihat cerah. Harapan yang sempat disampaikan kepada beberapa pihak, termasuk kepada aceHTrend, akhirnya terwujud.

“Alhamdulillah, kami sangat senang. Terima kasih kepada Pemerintah Aceh Besar yang telah menjemput kami. Memang awalnya kami memilih isolasi di tepi Sungai Jalin atas kesadaran sendiri. Tujuannya agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak bagus di tengah masyarakat. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih. Tempat ini [JSC] sudah sangat memadai untuk kami,” ujar salah seorang di antaranya ketika dimintai komentar oleh wartawan.

Mereka juga mengatakan bahwa kondisi kesehatan tidak ada yang terganggu. “Alhamdulillah, kami semua dalam keadaan sehat.”

Kepada awak media, Mawardi Ali mengatakan delapan pemuda tersebut tidak masuk ODP. Hanya sebagai self monitor. Menurut bupati, delapan pemuda tersebut sangat luar biasa. Memiliki kesadaran untuk mengisolasi diri karena baru pulang dari luar Aceh.

“Alhamdulillah, mereka sudah kita tempatkan di tempat yang layak. Selama di sini pemerintah menanggung semua kebutuhan seperti makanan. Nantinya, JSC juga akan dipergunakan untuk ODP dan self monitor lainnya di Aceh Besar,” ujar Mawardi.

Sebelumnya, pada Minggu (5/4/2020) sore, delapan pemuda yang melakukan karantina mandiri di perkebunan sawit di tepi Krueng Jalin, Mukim Jantho, kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar, kepada aceHTrend mengatakan, berharap agar Pemerintah Aceh Besar segera memindahkan mereka dari lokasi tersebut. Selama seminggu di lokasi yang hanya bisa diakses dengan sepeda motor, mereka dalam kondisi sehat. Tapi akhir-akhir ini mulai khawatir akan drop oleh sebab lain. Juga mulai diserang rasa bosan. Hal ini disebabkan hunian tempat mereka berteduh hanyalah sebuah tenda army green ukuran 5×3 meter yang lazim digunakan di kegiatan kepramukaan. Selain itu, lokasi yang jauh dari permukiman penduduk tersebut, tidak dapat dijangkau sinyal telepon seluler.

Dengan fasilitas yang minim, mereka khawatir justru akan jatuh sakit. “Di sini dingin, banyak nyamuk, tenda yang tidak seutuhnya bisa menahan angin malam, serta sangat sepi, membuat jenuh dan penat.”

Bupati Aceh Besar Mawardi Ali yang dihubungi aceHTrend, mengatakan bila mereka ingin dipindahkan, maka pemerintah akan memindahkan ke tempat yang lebih representatif. Menurut Mawardi, sebelumnya pemerintah membantu menyediakan tenda dan genset serta logistik lainnya, karena para pemuda itu memilih mengisolasi diri di tepi sungai.

“Mungkin awalnya mereka mengira akan asyik bertenda di tepi sungai. Besok (hari ini-red) akan saya kirim tim untuk menjemput mereka,” imbuh Mawardi. []

KOMENTAR FACEBOOK