Napi Perempuan di Lapas Lhoksukon Diberdayakan untuk Menjahit Masker

ACEHTREND.COM, Lhoksukon – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Utara menyerahkan dua unit mesin jahit kepada Lembaga Permasyarakatan (Lapas) II B Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu (8/4/2020).

Bantuan itu diserahkan langsung olah Kajari Aceh Utara, Pipuk Firman Priyadi, dan diterima oleh Kepala Lapas, Yusnaidi.

“Bantuan mesin jahit itu nantinya digunakan warga binaan khusus wanita untuk membuat masker dalam memenuhi kebutuhan masyarakat mengingat persediaan masker selama wabah virus corona sangat langka,” kata Kajari Aceh Utara, Pipuk Firman Priyadi kepada awak media.

Pipuk menyebutkan awalnya dia mengetahui dari awak media, bahwa ada warga binaan khusus wanita memiliki keahlian menjahit dan membuat masker, tapi mesin jahit hanya satu unit sehingga produksi masker sangat terbatas, padahal permintaan di luar sangat banyak.

“Mengetahui hal tersebut, kami (Kejari Aceh Utara) langsung membantu dua unit mesin jahit yang nantinya dapat dimanfaatkan serta dapat memenuhi kebutuhan masker di masyarakat dapat terpenuhi, apalagi saat ini pemerintah mengeluarkan instruksi setiap warga keluar dari rumah harus menggunakan masker,” katanya.

Sementara itu, Kalapas Lhoksukon, Yusnaidi mengatakan pihaknya sangat berterima kasih bantuan dua unit mesin jahit  dari Kejari dan Kasi Pidum Kajari Aceh Utara, Yudhi Permana. Dengan bantuan ini setidaknya dapat memenuhi ketersediaan masker yang saat ini sedang langka.

“Biasanya mereka berhasil memproduksi masker dalam satu hari 30 lembar, sedangkan permintaan di luar sangat banyak,” katanya.

Dia menjelaskan dengan ada bantuan mesin jahit ini dapat memenuhi pesanan masker di pasaran. Adapun masker yang dijual satu lembar senilai Rp10 ribu. Lanjutnya, pembuatan masker itu sudah dilakukan 20 hari.

“Awalnya kita mencari masker tapi tidak ada, bahkan tidak ada. Jadi kami mengambil langkah untuk mengantisipasi langkah tersebut untuk membuat masker yang dilakukan oleh warga binaan khusus perempuan,” katanya.

Dia menyebutkan untuk saat ini pihaknya belum dapat memenuhi pesanan dari luar daerah seperti pesanan dari Banda Aceh karena produksinya sangat terbatas, karena di Aceh Utara khususnya di Kecamatan Lhoksukon juga masih sangat langka.

“Untuk pemasaran masker saat ini kita jual di seputaran Kecamatan Lhoksukon,” ujarnya.

Salah seorang napi wanita, Mariani alias makni (45), menyebutkan, dalam sehari bisa menyelesaikan masker sekitar 25 lembar dengan mengandalkan satu mesin jahit, sedangkan sejumlah narapidana wanita lainnya membantu menggunting.

“Saya sudah pengalaman menjahit sejak 20 tahun lalu, alhamdullah dengan ada bantuan dua unit mesin jahit, bisa membantu kami napi wanita, dalam memproduksi masker sehari sekitar 90 lembar,” pungkas napi kasus narkoba ini.[]

Editor : Ihan Nurdin