Surat Cinta untuk Inong Lôn

Ilustrasi @sahabatnesia

Oleh Ikhwanul Muslim*

Kita dipertemukan oleh takdir. Allah yang Mahakuasa mempertemukan kita. Mengikatkan kita, mempertautkan dalam satu ikatan yang suci. Dunia ini terlalu kecil untuk para pecinta. Dia akan mengorbankan segalanya untuk mereka yang ia cintai. Inong lon, kita tidak pernah berjumpa sebelumnya.

Namun, siang itu dengan iradah-Nya mata kita bertemu pandang. Dengan nol sekian detik aku mencuri pandang. Ada yang berbeda di dalam retina matamu. Aku tak dapat menjelaskannya, meski telah mengambil mata kuliah Optik dengan nilai sempurna. Sejenak ada sesuatu yang membuat jantung berdebar, dia tak seperti biasanya berdebar dengan frekuensi yang lebih kencang. Aku tak dapat menerka, apa itu cinta pada pandangan pertama. Kita berbincang! Namun, pembicaraan yang penuh basa-basi, karena semua bukan lagi tentang kata-kata. Saat itu hatiku telah tertawan dalam senyum yang aku dan kamu Inong lon yang tau.

Cinta bukan ungkapan main-main, dia bersahaja dan diikuti oleh perbuatan yang seirama. Dia bukan gejolak berahi dan nafsu kebinatangan kita. Karena cinta terlahir dari dalam diri yang dalam. Dia tak mengenal aturan logika yang menuntut kelogisan dan algoritma.

Kita kembali bertemu untuk kedua kalinya, kali ini engkau semakin menawan. Dan hatiku yang kemarin belum engkau lepaskan, kini telah engkau vonis lebih lama untuk terus tertawan. Siang itu mata kita bertemu pandang. Kulihat senyum di wajahmu. Kulihat ada surga. Kita berteduh dalam jiwa yang sama. Melewati suatu sungai bahagia yang arusnya terus mengalir cinta antara kita. Kita bertemu kembali untuk saling membawa rindu. Menitipkan rasa penasaran lima hari yang lalu. Dan kita terbenam dalam lingkaran suka. Aku kehilangan kata. Saat itu, kita duduk berjauhan, tapi hati kita tidak. Cinta membuat infrastrukturnya sendiri. Dia bertransformasi dalam getaran. Hati kita telah beresonansi. Dan kita sepakat untuk bergetar pada gelombang yang sama.

“Maukah engkau menjadi istriku?” tanyaku seketika.

Engkau terkejut!

Aku juga tidak tahu dari mana datangnya keberanian untuk bertanya padamu. Kali ini aku pasrah, menunggu fatwa cinta darimu. Sejurus engkau menjawab, “Istikarahlah dulu, apa benar ini serius atau cuma nafsu?”

Dalam istikarah, aku semakin yakin engkau adalah penantianku selama ini. Tulang rusuk yang hilang. Sebuah notasi yang saling melengkapi. Dan dengan ijab kabul telah kubuktikan cinta ini bukan permainan kata tapi bukti. Kita telah bersepakat untuk bersama dalam suka maupun duka. Seperti isi khotbah nikah yang menentramkan hati.

Kita mengayuh sebuah biduk dalam gelombang-gelombang masa kehidupan. Terkadang kita terombang-ambing. Tak kenal lelah mendaki setiap halangan yang ada. Karena hati kita telah terpadu dalam lautan kasih. Inong lon, kita dipertemukan oleh Allah dalam waktu yang tepat. Karena Allah tak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Aku tak ingin berjumpa bidadari. Cukup kamu saja. Agar bidadari itu cemburu. Aku tak ingin menjadi agen ganda dalam cinta. Mencintaimu dan juga berharap bidadari. Biar kamu saja yang menjadi bidadari itu. Terima kasih atas tatapan matamu, kelembutan hati, dan penyayangmu.

Mungkin aku tak akan bisa sempurna, untuk membawa sejumput harapanmu menjadi seperti pinta. Aku akan selalu berjanji untuk setia dalam kata dan waktu yang berjalan. Karena bagiku kehebatan pria bukan karena mengawini banyak wanita. Tapi lebih dari pada itu, dia akan hebat ketika bisa membahagiakan dengan sempurna wanita yang telah dipilihnya.

Aku tak mau bicara tentang maut. Akan kuajukan penangguhan kepada Tuhan agar aku tetap bersamamu. Melihat anak-anak besar bersama, dan kemudian melanjutkan hidup mereka. Inong lon, harap jangan cemas, karena langkah, rezeki, pertemuan dan maut telah diatur oleh-Nya. Kita hanya berusaha.

Mencintaimu itu seperti air. Terus ada, sampai kehidupan berakhir. Karena tak ada yang akan menerimaku sebaik kamu. Menutup semua kekuranganku sepandai kamu. Dan mencintaimu seperti udara, terus ada untuk menghadirkan hidup dan cinta.

Dan aku telah mencipta sebait lagu untukmu…

“Meurumpok dinda, bak saboh masa

tanyoe meuturi di dalam cinta

han meupisah le seulama-lama,

meunankeuh janji, geutanyoe dua…”[]

*Penulis adalah anggota Komunitas Menulis Ababil Aceh Barat Daya

Editor : Ihan Nurdin