Edi Obama dan Tragedi Utang Politik

Edi, Nova, Tiyong.

Oleh Muhajir Juli

Senin (13/4/2020) Edi Saputra, Samsul Bahri bin Amiren, Ketua PNA Bireuen Salahuddin, “bertamu” ke Pendopo Wakil Gubernur Aceh di kawasan Blang Padang. Kawasan elit tempat orang-orang penting ditempatkan oleh negara untuk bermukim selama masih menjabat. Edi bukan tamu yang diharapkan oleh ahlul bait Nova Iriansyah. Edi seperti cinta lama, tak ingin diingat, tak ingin pula dijumpa[i]. Edi adalah duri dalam sepatu. Setidaknya demikinlah tafsir yang paling cocok.

Sejak datang hingga akhirnya ditolak untuk kembali masuk ke rumah dinas Nova, sang Plt tak juga mau bertemu dengan anak muda berusia 36 tahun itu.

Sebelum terjun ke politik, Edi hanya dikenal di kalangan terbatas. Bukan tokoh, bukan pula seseorang yang masyur. Dia hanya pedagang. Pemilik Obama Market di Matangglumpangdua yang kini sudah berpindah ke Kota Bireuen. Swalayan inilah yang menjadi pintu bagi Edi untuk terkenal.

Nama Edi melambung ketika Pilkada 2017. Banyak pihak disebut-sebut mendekatinya. Tak terkecuali Nova Iriansyah. Hingga akhirnya Edi dipercaya duduk sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Bireuen oleh Ir. Nova. Pasca pelantikan, foto keakraban keduanya berseliweran di media sosial Facebook.

Kedekatan keduanya berbuah “bantuan keuangan” senilai 8 miliar Rupiah dari Edi kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Irwandi-Nova yang diusung oleh Partai Nasional Aceh (PNA), Partai Demokrat, Partai Daulat Aceh (PDA), PDIP.

Semua orang tahu di tengah kampanye pilkada halal, Irwandi-Nova kekurangan logistik. Bila patuh pada aturan KPU, tim kampanyenya akan mandeg di tengah jalan. Demokrasi langsung memang sangat mahal. Semua orang tahu. Atas nama relawan apapun, tetap membutuhkan logistik. Minimal untuk makan dan biaya bensin. Tim tanpa poding akan kalah bersaing. Tapi pembuat aturan telah membatasi pembiayaan. Dengan alasan agar lahirnya pemilu yang berkualitas.

Edi, seperti pengakuannya kepada media, tidak serta merta memberikan uang. Ia akhirnya “turun tangan” setelah dibujuk oleh Nova Iriansyah. Edi tak mungkin menolak. Yang meminta adalah ketuanya sendiri kala itu. Akhirnya, uang senilai 8 miliar Rupiah cair juga dan diterima oleh Irwandi. Tim Inova kembali dapat bernafas. Mesin politiknya hidup lagi.

Edi bukan satu-satunya pihak yang membantu tanpa jaminan seperti lazimnya meminta bantu pada perusahaan leasing. Masih banyak lagi yang kini harus lih tanoh cak, setelah mati-matian mendukung paslon 06 itu. Ketika [Inova] menang, mereka tersingkirkan pelan-pelan. Setelah Irwandi ditangkap KPK, mereka langsung terlempar ke luar gelanggang. Orang-orang baru–yang datang melingkar tanpa modal– melarang para orang lama masuk ke dalam. Tapi tak ada yang benar-benar berani melawan selain Edi. Jauh-jauh hari, melalui Facebook Edi terang-terangan meminta Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bertanggungjawab.

Nova menolak bertanggungjawab. Ia mengatakan bahwa tidak tahu-menahu dengan “utang” itu. Dia tidak pernah berutang kepada Edi. Tapi, itu disampaikan melalui orang lain. Nova– hingga Edi mengakhiri “occupy” pinto rot Pendopo Wagub, tidak pernah menjumpai Edi dan kawan-kawan. Tindakan ini disayangkan oleh banyak pihak. Nova dinilai tidak dewasa. Membiarkan masalah terus bergulir di tengah persoalan lain yang juga tak kunjung selesai dikerjakan seperti Kawasan Industri Ladong, KEK Lhokseumawe dll, yang masih jalan di tempat.

Edi Saputra aka Edi Obama, dengan jumlah uang yang “dipinjamkan” 8 miliar, adalah tragedi politik yang patut menjadi pelajaran bagi semua orang. Politik adalah dunia yang paling praktis dan nyaris tanpa moral. Kata-kata manis yang dilontarkan oleh para politisi kerap tidak bisa dipegang tanpa bukti yang memadai.

Lalu, bagaimana dengan Tiyong yang juga hadir dalam aksi tungge utang itu? Sejauh ini belum diketahui berapa dana yang ia habiskan untuk membantu Inova dan kini hana pat cok pulang. Tapi yang jelas, ketika Pilkada 2017, ia selain anggota DPRA, juga Ketua PNA Kabupaten Bireuen. Demikian juga Toke Din–Ketua PNA Bireuen yang baru– yang katanya juga hana pat cok peng pulang, setelah gila-gilaan membantu menghidupkan mesin politik Inova hingga mereka menang, Irwandi senang, Nova bahagia. Hingga kemudian Irwandi ditangkap KPK dan Nova pun diangkat sebagai kepala. Tapi yang jelas, Tiyong dan Toke Din adalah orang PNA, yang konon katanya juga terpental keluar arena setelah Irwandi dibeureuekah KPK. Tapi, soal pental-pentalan, bukan saja terjadi di “zaman Nova”. Di masa Irwandi masih tampuk pimpinan Aceh, banyak orang-orang berjasa juga teubapho u luwa jareng, termasuk media-media yang membantu kampanye dengan cara sukarela.

Sejauh mana Edi [Tiyong dan Toke Din] akan mampu melawan? Hanya waktu yang bisa menjawab.