Ayah Bunda, Saatnya Mempraktikkan “Home Education” kepada Buah Hati Selama Pandemi Covid-19

ilustrasi

Selama masa pandemi Covid-19, pemerintah melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Berbagai aktivitas di luar rumah ditiadakan, termasuk aktivitas sekolah diliburkan demi memutuskan mata rantai penyebaran virus corona. Ini saatnya orang tua kembali menjalankan fitrahnya sebagai pendidik utama dengan mempraktikkan home education.

Bila dilakukan dengan sepenuh hati, kegiatan ini bukan cuma membuat hubungan ayah bunda dengan buah hati menjadi lebih lekat, melainkan Anda bisa mengenak si buah hati dengan baik.

Home education (pendidikan rumah) merupakan penerapan pendidikan berbasis fitrah yang berbeda dengan home schooling. Sebagaimana yang disampaikan Zamira Bibi, praktisi home education dalam sebuah diskusi grup WhatsApp tentang Cara Asyik Memulai Home Education pada Selasa malam, (14/4/2020), metode ini dikembangkan oleh Ustaz Harry Santosa.

Zamira menjelaskan, home education adalah sebuah cara berpikir dalam mengembalikan pendidikan sejati. Orang tua telah diberikan Allah kemampuan dan fitrah mendidik sejak hari pertama mereka menjadi orang tua. Bahkan, sejak memilih pasangan, menikah, dan saat janin berkembang pada rahim seorang perempuan. Di semua fase itulah Allah melengkapi orang tua kemampuan untuk dapat mendidik secara alamiah.

Selanjutnya, Zamira menjelaskan bahwa mendidik adalah amanah yang tidak bisa diwakilkan dan didelegasikan karena setiap manusia ialah pendidik bagi keturunannya. Mendidik berbeda dengan persekolahan yang terdapat guru sebagai pendidik. Sekolah hanyalah sebagai mitra perpanjangtanganan antara orang tua dan guru. Para guru bukanlah pengambil tanggung jawab dalam mendidik secara utuh, sebab tanggung jawab mendidik itu ialah orang tua dari setiap anak itu sendiri.

Orang tua perlu memahami bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Namun, semua fitrah itu merupakan potensi yang masih terpendam, maka tugas orang tua ialah mendidik, membangkitkan, menggali, dan menumbuhkan potensi fitrah tersebut. Agar setiap anak mencapai peran peradabannya sebagai pemimpin di muka bumi, pendidikan hendaknya dijadikan proses menggali apa yang sudah ada pada anak. Bukan proses memasukkan dan menjejalkan banyak pelajaran sehingga menurunkan gairah anak dalam belajar akibat tuntutan belajar mengajar itu sendiri.

Lebih lanjut Zamira menyampaikan, orang tua perlu meyakini anak-anak mempunyai potensi baik agar memudahkan dalam mendidik dan mengasuh mereka. Selain itu, untuk memulai home education, orang tua membutuhkan penyucian jiwa dari obsesi duniawi.

“Sebagai contoh sederhana, jika Anda sebagai orang tua masih kecewa saat anak-anak memperoleh nilai pelajaran di sekolah yang jelek, atau saat anak menolak kemauan Anda untuk menyelesaikan salah satu bidang pelajaran tertentu, lalu Anda marah dan menyalahkan anak. Inilah yang dinamakan sebagai obsesi duniawi,” jelas Zamira melalui audio podcast saat menyampaikan materinya.

Beberapa orang tua urung memulai home education karena faktor berikut. Pertama, orang tua tidak meyakini adanya fitrah anak, padahal tidak semua anak memiliki bakat akademis karena bakat bukan terkait dengan keadaan fisik, tapi juga sifat. Kedua, yang dipahami orang tua bahwa menyekolahkan anak sama dengan mendidik sehingga tanggung jawab mendidik dilimpahkan pada sekolah dan guru. Padahal persekolahan sangat berbeda dengan pendidikan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Faktor ketiga, orang tua merasa tidak mampu mengajar. Keempat, tekanan ekonomi karena tuntutan karier sehingga harus mendelegasikan tugas mendidik kepada lembaga atau institusi. Kelima, banyak orang tua yang tidak mengetahui hubungan dan pentingnya kelekatan antara orang tua dan anak. Selanjutnya, anak tidak bebas dan merdeka dalam belajar. Orang tua masih kaku memahami proses belajar, hingga tidak sesuai memilih dengan minat anak. Mereka masih mengagungkan perolehan nilai pelejaran anak di sekolah, gelar, title, dan ijazah. Terakhir, orang tua tidak memahami perkembangan zaman dan kebutuhan generasi. Semua faktor ini termasuk obsesi duniawi.

Di masa pandemi ini, saatnya orang tua membersamai anak dalam menjalankan home education. Orang tua bisa menggali potensi yang ada pada anak dan memberikan keleluasannya dalam belajar. Home education bukan memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan banyak hal kepada anak. Namun, membangkitkan potensi fitrah dalam diri anak-anak dalam mencapai peran peradaban. Bila potensi fitrah tumbuh baik, maka baik pula seluruh peradaban.

Dalam memulai home education orang tua harus mengetahui 10 hal berikut. Pertama, orang tua harus mempunyai niat, keikhlasan, dan kesadaran dalam menjalankannya. Kedua, membaca dan mencari referensi mendidik. Ketiga, membangun kepercayaan diri dan tetap rileks. Keempat, memilih aktivitas dengan bebas sesuai yang diminati anak. Kelima, selalu bertanya kepada anak apakah mereka suka, bahagia, atau tidak setiap setelah melakukan aktivitas.

Keenam, orang tua harus mencari referensi aktivitas bersama anak yang dapat menunjang fitrahnya. Ketujuh, membuat strategi pendampingan aktivitas anak. Kedelapan, mengobservasi potensi fitrah. Kesembilan, mengomunikasikan tentang home education kepada guru dan fasilitator sekolah. Terakhir, mendokumentasikan setiap kegiatan yang dilakukan.

Nah, itulah sekilas tentang home education yang bisa diterapkan orang tua. Bagi para orang tua dan calon orang tua yang mau mengetahui lebih lanjut tentang home education bisa bergabung di kelas online WhatsApp Team Meurenoe. Kelas ini dikelola oleh Zamira Bibi, ibu tiga anak yang telah mempraktikkan home education.[]

Editor : Ihan Nurdin