Ramadan adalah Momentum Melawan Kemunafikan

Ilustrasi

Oleh Muhammad Ramadhan, MA*

“Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS Attahrim: 9)

Ya, kekafiran dan kemunafikan itu sama-sama harus diperangi. Dalam konteks kekinian, kita lebih sering berhadapan dengan kemunafikan karena sejatinya kemunafikan itu sulit teridentifikiasi secara fisik. Hal ini mungkin berbeda dengan kekafiran yang cenderung lebih mudah kita kenali. Lebih rumitnya lagi, kemunafikan itu bisa saja ada pada diri kita masing-masing dan justru itu yang lebih sulit kita perangi. Kita begitu mudah menghakimi orang lain, tapi masih terlihat sulit dalam mengintrospeksi diri.

Lalu apakah kita harus memastikan diri baik dulu untuk memperbaiki (kesalahan) orang lain? Tentu tidak. Dua hal ini bisa berjalan secara beriringan, sebagai manusia kita memang tempatnya salah dan khilaf termasuk juga dengan kemunafikan di atas. Untuk itu, kita dituntut untuk saling mengoreksi, saling mengkritisi, saling menasihati karena itu juga bagian dari kebaikan dan itu juga bagian dari kesalehan.

Memperbaiki diri adalah kesalehan kita sebagai individu, sementara memperbaiki orang lain di sekitar kita adalah bagian dari kesalehan sosial. Kedua kesalehan ini tidak harus menunggu antara satu sama lain, tapi dapat berjalan beriringan. Dengan mengkritisi orang lain, dengan sendirinya kita sedang mengajak orang lain untuk mengkritisi diri kita secara tidak langsung, dan pada akhirnya itu akan memperbaiki diri kita. Saya kritik Anda, Anda kritik saya, pada akhirnya kita semua akan jadi lebih baik.

Lalu bagaimana dengan kemunafikan? Kemunafikan itu sendiri merupakan sebuah inkonsistensi antara mengucapkan yang baik dengan melakukan perbuatan yang baik, inkonsitensi antara kegemaran dalam berjanji dengan kesungguhan dalam menepati, inkonsistensi antara kesungguhan dalam mengejar kepercayaan dengan kesungguhan untuk berupaya tidak mengkhianati kepercayaan (amanah, jabatan) yang diberikan.

Di sinilah kritik terhadap kondisi sosial di sekeliling kita menemukan konteksnya dalam pemahaman memerangi kemunafikan yang diperintahkan oleh Allah dalam ayatnya di atas. Jika kita kaitkan dengan puasa Ramadan, maka puasa Ramadan adalah wahana utama bagi kita untuk memerangi kemunafikan yang ada dalam diri kita. Ya, munafik dalam artian tidak jujur, tidak konsisten antara pengakuan kita sebagai orang yang berpuasa dengan kegigihan kita dalam menjaga puasa itu sendiri.

Selama berpuasa kita dilarang makan, minum, memasukkan sesuatu dalam rongga terbuka, tidak bersenggama dengan istri tercinta dan sebagainya. Dalam bulan puasa, kita benar-benar diuji dalam hal kejujuran untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang tersebut (padahal semua itu milik kita) ketika kita sudah mengikrarkan diri (niat) sebagai orang yang berpuasa, lalu siapa yang bisa memastikan kita tidak munafik dengan ikrar tersebut? Hanya kita, ya hanya kita, jika kita sungguh-sungguh menjaganya berarti kita benar-benar terselamatkan dari kemunafikan (baca: tidak jujur).

Dalam konteks yang lebih luas, ujian terhadap konsistensi kita terhadap kejujuran juga teruji dalam setiap tindakan kita baik di dalam maupun di luar bulan Ramadan. Baik sebagai pribadi maupun sebagai warga sosial, sebagai rakyat maupun sebagai pemimpin, setidaknya sebagai seorang muslim yang baik, sebagai mukmin yang taat.

Melalui hadisnya, Rasulullah saw sudah menganjurkan kita untuk mencegah kemungkaran sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing.

Sebagai pejabat negara misalnya, kita punya kekuatan melalui kekuasaan yang diamanahkan kepada kita. Kita wajib mencegah (melawan) kemungkaran dengan kekuasaan itu yang dimanifestasikan dalam kebijakan-kebijakan yang bisa memastikan kemungkaran bisa tercegah, jangan malah kita yang memanfaatkan kekuasaan untuk melakukan kemaksiatan, korupsi misalnya atau ketidakadilan. Jangan sampai kita memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan (kekayaan) secara ilegal sehingga dengan teganya menzalimi saudara kita yang lain yang telah memilih dan memercayakan kita sebagai pemimpin.

Sebagai rakyat juga demikian, kita berkewajiban mencegah kemungkaran. Baik itu dalam bentuk kemungkaran yang dilakukan secara personal oleh sesama rakyat, oleh pemimpin, maupun kemungkaran yang dilakukan secara kolektif oleh kekuasaan melalui sistemnya yang korup, sistemnya yang sarat dengan ketidak adilan. Nah, di sinilah peran kita sebagai rakyat wajib mengkritik (menasihati) pemerintah karena ketidakadilannya menemukan konteksnya, artinya sebagai rakyat kita wajib mencegah kemungkaran (baca: ketidakadilan) sesuai dengan kapasitas kita. Jika kita mampu bersuara melalui media misalnya, baik secara pribadi maupun melalui wadah tertentu maka kritik itu harus kita lakukan sampai akhirnya keadaan berubah dan keadilan terwujud.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mampu melakukan upaya mencegah kemungkaran itu dengan kekuatan (kekuasaan), juga tidak mampu dengan lisan (juga tulisan), apa yang harus mereka lakukan? Bencilah ia dalam hati dan itu merupakan sedhaif-dhaif-nya iman kata Rasul saw. Artinya, jika tidak mampu mengubah keadaan itu, maka bencilah sehingga kita tidak ikut melakukannya. Jangan malah sebaliknya kita menjadi pendukung ketidakadilan yang terjadi hanya karena dilatari oleh berbagai kepentingan “bulus” baik kepentingan pribadi maupun kelompok karena itu merupakan bagian dari orang yang harus dilawan (baca: munafik).

Dalam kesempatan lain, Rasul juga menegaskan agama itu adalah saling menasihati (baca: kritik), artinya sebagai muslim dan sebagai mukmin sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk saling mengkritisi, menasihati, dan memperbaiki, sehingga pada akhirnya kita menjadi khairul ummah yang bersih dari kekufuran dan kemunafikan.

Sebagaimana yang ditegaskan Allah Swt dalam Alquran, yang intinya adalah kita dianjurkan menjadi umat terbaik yang mengajak kepada kebaikan dan juga mencegah segala kemungkaran. Dalam konteks sosial sekarang, secara instruktif Allah memerintahkan kita menggalakkan penegakan keadilan dan memerangi (melawan) ketidakadilan, yang merupakan salah satu wujud kemungkaran terbesar yang ada di sekeliling kita. Ketidakadilan ini harus (wajib) dikritisi dan wajib kita upayakan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bersih, jauh dari kezaliman, dan perilaku-perilaku koruptif.

Intinya, kita sebagai muslim sesuai dengan kapasitas kita masing-masing wajib mencegah kemunafikan, kemungkaran, ketidakadilan, dan ketidakjujuran. Entah yang dilakukan oleh para individu, maupun oleh sistem secara kolektif, semoga akhirnya kita benar-benar menjadi khairul ummah sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt.[]

Penulis adalah pemerhati sosial dan berdomisili di Aceh Besar

Editor : Ihan Nurdin