Asa Saiful Bahri-Cut Jahriah, Warga Lhokseumawe yang Idamkan Rumah Layak Huni

Samsul Bahri berdiri di 'teras' rumahnya @aceHTrend/Mulyadi Pasee

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Kehidupan sangat pahit dialami pasangan suami istri (pasutri) Saiful Bahri (41) dan Cut Jahriah (40). Kemiskinan membuat mereka terpaksa menempati rumah yang pantas disebut gubuk bersama tiga buah hatinya, yaitu Dzuiki (15), Afdal (12), dan Zulfakar (4,5).

Kondisi keluarga itu benar-benar memilukan. Mereka harus merasakan dinginnya angin malam lantaran gubuk itu hanya berdindingkan tripleks dan sebagiannya tertutup spanduk baliho yang beberapa sisinya sudah mulai robek. Gubuk itu juga tanpa pintu dan jendela.

Gubuk yang dihuni pasutri ini dibangun berkat bantuan dari masyarakat sekitar, di antara mereka ada yang menyumbang bambu dan kayu, serta tripleks.

Untuk menuju ke tempat tinggal Bahri dan Cut Jahriah juga sangat sulit. Pasalnya gubuk ini berada di payau dan didirikan di antara semak-semak pohon bakau. Berada di sekitar area tambak.

Untuk menuju ke rumahnya, Saiful Bahri membuat jembatan alakadarnya dari bambu bulat dan seutas tali untuk berpegangan. Jembatan ini hanya bisa dilintasi satu orang saja. Bila tidak berhati-hati, bisa dipastikan kaki kita akan tergelincir dan bisa-bisa terjerembab ke payau karena struktur jembatan yang tidak kokoh.

Jembatan darurat menuju ke rumah Samsul Bahri yang berada di semak-semak pohon bakau @aceHTrend/Mulyadi Pasee

“Rumah ini sudah tiga tahun kami tempati, setelah orang tua saya meninggal,” kata Saiful Bahri kepada aceHTrend saat mengunjungi rumahnya di Gang Marhaban, Lorong 4, Gampong Uteuen Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Sabtu (25/4/2020).

Jarak rumah Saiful Bahri sebenarnya tak begitu jauh dari pusat Kota Lhokseumawe. Terpaut hanya sekitar 2 kilometer.

Saiful Bahri menceritakan, sehari-hari dengan dibantu kedua anaknya ia bekerja mencari ikan dan kepiting. Hasil tangkapan itu dia jual ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Biasa kami dapatkan Rp80 ribu, itu sebelum ada wabah corona, tetapi sekarang kadang-kadang Rp30 ribu dan ada juga tidak ada sama sekali,” katanya.

Sejak tiga bulan lalu, rumah Samsul Bahri juga sudah diterangi listrik bantuan dari PLN.

Dia juga mengatakan, bila dirinya sudah mendapat bantuan hak guna pakai lahan dari perangkat desa setempat dan rencananya di atas tanah itu dia ingin membangun rumah, tapi hal tersebut belum terwujud lantaran dirinya tidak ada biaya.

Meskipun begitu, Samsul Bahri tetap mengusahakan agar kedua anaknya bisa tetap sekolah. Si sulung duduk di SMP dan yang tengah masih SD.

“Usai pulang sekolah mereka langsung membantu saya mencari udang dan kepiting,” katanya.

Meskipun mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah dan masyarakat, Samsul Bahri mengatakan ia tidak mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Ia juga terpaksa membuat rumah di tempat yang sekarang karena tidak memiliki tanah. Sebelumnya, rumah tempat orang tuanya tinggal juga dibangun di atas tanah sewaan. Bukan hanya tak layak huni, sarana MCK juga memadai.

“Mungkin saya baru tinggal di sini, sehingga belum mendapatkan PKH karena sebelumnya saya bekerja di Sabang selama tiga tahun,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin