[Ruang Semangat]: Isolasi Mandiri Bersama Oshin di Rimba Krueng Peusangan

Suryadi alias Suryadipa, pegiat lingkungan asal Bireuen, Aceh. Momen ini diabadikan ketika alumnus Geografi Universitas Almuslim ini menjalankan isolasi mandiri di CRU Peusangan, Bener Meriah, seusai pulang dari aktivitas mendaki Himalaya, Nepal. [Ist]

Oleh Suryadipa

Derap langkah si empunya badan bongsor menyisakan jejak seukuran baskom; berbekas di tanah yang baru diguyur oleh hujan tadi pagi. Teriakan nan tegas terus keluar dari mulut mahout (pawang) sembari menggiring mamalia besar itu menuju lokasi pemandiannya yang berada tak jauh dari lokasi camp CRU Peusangan.

Hari itu, di awal April, merupakan hari ke-20 saya menikmati alam dalam balutan harmoni semesta di tengah sepi dan senyapnya rimba di kawasan camp Conservation Response Unit (CRU) Peusangan yang berada di kawasan Sayeung, Kampung Negeri Antara – Kabupaten Bener Meriah.

Saya memilih pertapaan di camp yang telah berdiri sejak tahun 2015 ini yang diinisiasi oleh tiga kabupaten yang berada dalam lintasan Krueng Peusangan, setelah pada tanggal 10 Maret 2020, setelah berpetualang ke Nepal, merajut impian mendaki punggung bentang Himalaya.

Kegiatan yang selama ini dilabeli sebagai isolasi mandiri atau karantina setelah tiba dari luar negeri maupun daerah terdampak wabah covid -19 selama 14 hari setelah tiba di daerah masing – masing, menjadikan ini semakin mengasyikkan. Terlebih lagi dikarenakan hobi saya yang suka bertualang dan menyendiri di tengah rimbunnya belantara.

Selama bersemayam di kawasan nan sejuk dan rimbun, kegiatan saya selain mengenal perilaku hewan besar yang selalu bersahabat dengan siapapun, saya juga ikut serta memandikan gajah yang setiap dua hari sekali selalu dipindahkan oleh sang mahout. Setiap pukul 10 pagi, mahout dengan sigap akan menggiring hewan kesayangannya untuk membersihkan diri di pinggiran Krueng Peusangan. Di kawasan ini juga masih sering terlihat beberapa kawanan gajah yang sering lewat di depan camp CRU Peusangan ini.

Kondisi alam yang masih sangat banyak menyediakan sumber makanan untuk pakan gajah dan juga satwa lainnya, maka tak salah jika kawasan ini disebut sebagai kawasan rumah gajah. Ini semacam dapur bersama di mana semua kebutuhan pakan tersedia berlimpah dan siap saji.

Basecamp CRU Krueng Peusangan. [Suryadipa]

Setelah selesai memandikan poe meurah–istilah Aceh untuk gajah, kadang kala saya juga ikut serta menunggangi gajah bersama mahout untuk sekedar berkeliling di kawasan sekitar kamp sebelum gajah kembali ke tempat tambatan masing – masing. Di kamp ini, setiap gajah akan dipandu atau dipawangi oleh dua orang yaitu mahout dan asisten mahout. Adapun jumlah gajak jinak yang berada di bawah pengawasan CRU DAS Peusangan sebanyak tiga ekor. Setiap gajah telah memiliki nama, yaitu Arjuna, Rahmat. Seekor betina diberi nama Oshin.

Menikmati sesapan kopi di tengah hembusan udara sejuk sembari mendengarkan kicauan burung merupakan kenikmatan yang akan selalu kita dapati baik di pagi hari maupun di penghujung senja, tatkala sang surya tenggelam di balik bukit kehijauan di ujung negeri Antara. Selain mengamati dan bersahabat dengan poe meurah, untuk mengisi waktu senggang saya menyempatkan untuk membaca beberapa buku petualangan dan perjalanan. Ritual membaca sebagai bagian dari referensi saya dalam menyusun beberapa tulisan cerita saya selama menapaki Bentangan Himalaya. Saya berharap petualangan di Nepal kala mendaki punggung Himalaya, mampu saya susun sebagai sebuah buku catatan petualangan.

Mendapatkan kesempatan melihat serta mengabadikan beberapa peristiwa berharga bagi kelangsungan kehidupan gajah sumatera, tentu sebuah momen yang mengasyikkan. Menambah energi setelah sekian waktu di dera lelah setelah kembali dari petualangan menaklukkan gunung tertinggi di dunia.

Siang itu saya sempat merekam beberapa gambar. Termasuk ketika salah satu pejantan liar berkesempatan memadu kasih dengan Oshin. Hmmm, cinta memang buta. Jatuh cinta merupakan hal yang unik. Benarlah kata pepatah, bila cinta sudah melekat gula jawa rasa cokelat. Cinta tak mengenal kasta. Bila sudah suka, status gajah liar dan gajah jinak, bukan lagi kendala.

Alam yang masih asri, menjadikan kawasan itu sebagai rumah bagi satwa liar, tak terkecuali gajah sumatera. [Suryadipa]

Setelah momem itu berlalu, saya berharap Oshin segera hamil dan nantinya bisa menjadi seekor ibu bagi “tarzan muda” yang ayahnya masih gajah organik yang hidup merdeka di alam bebas di pinggir Krueng Peusangan.

Saya dan semoga Anda juga demikian, mari berdoa pandemi covid-19 segera berlalu sehingga aktivitas kita mulai seperti biasanya.

Hal yang terpenting yang harus kita pahami, pandemi ini tak perlu selalu kita lihat dari kacamata bencana semata. Namun kita harus paham bahwa bumi juga butuh istirahat sejenak setelah beratus tahun, dengan serakah [manusia] mengeruk segala isi perutnya. Memaksa bumi untuk mengerahkan segala yang dia punya demi ketamakan kita. Ingat, kita jaga alam, alam jaga kita. Stay at home kamu aja. Aku biar stay at jungle. Salam lestari!

Penulis adalah seorang pejalan, penyuka outdoor activity dan pegiat lingkungan.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama aceHTrend.com, KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia dan Trans Continent.