China, Raksasa Ekonomi Dunia Setelah Wabah Corona

Tibrani.

Oleh Tibrani

“China adalah raksasa tidur. Biarkanlah mereka tertidur, karena jikalau mereka terbangun maka akan mencengangkan dunia,” Napoleon Bonaparte Kaisar Prancis.

Abad ke- 21, raksasa tidur telah terbangun dari lelap panjangnya. Negara Tirai Bambu menjelma menjadi super power dunia dalam sektor ekonomi. Berbagai mega proyek investasi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang tersebar di 152 negara di Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika. Strategi investasi itu, diperkenalkan langsung oleh presiden Tiongkok Xi Jinping pada tahun 2013 dengan nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI). Proyek jangka panjang ini merupakan rencana Pemerintah China Daratan untuk menghidupkan kembali kejayaan Jalur Sutra (Silk Road) di abad ke-21. (katadata.co.id. 29 Januari 2019).

Namun, saat Tiongkok sedang menjadi adikuasa perekonomian dunia, bintang sabit merah jatuh berguguran menguji kesabaran umat manusia. Sebuah wabah virus yang bernama corona virus deasese atau Covid-19, menjadi tamu tidak diundang di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Penumpang gelap itu datang bersamaan dengan tahun baru Imlek. Imbas dari tamu tidak diundang itu, menyebabkan pembatalan perayaaan besar-besaran acaran tahunan Imlek. Tamu epidemi Covid-19 juga menyebabkan ratusan ribu manusia menjadi korban keganasannya .

Hadirnya corona menyebabkan badai turbulensi pada aspek-aspek sosial khususnya di Kota Wuhan. Secara Umum Tiongkok. Badai sosial itu berupa cacian, hinaan, tindakan rasisme, dari belahan dunia, bahkan di Indonesia; ada penceramah yang menyebutnya sebagai azab Allah karena menyiksa Etnis Uighur di Xinjiang.

Walaupun dilamun badai cacian, makian, bahkan tindakan rasisme, Tiongkok memilih berdiam diri, mereka terus bersinergi dengan komponen pemerintah, dokter, perawat,tenaga medis,masyarakat, pengusaha dan lain sebagainya, untuk melawan badai Covid-19.

James Clavell dalam buku The Art Of War Sun Tzu, menyebutkan bahwa berperang dan menaklukan musuh dalam perang bukanlah keunggulann tertinggi; keunggulan tertinggi adalah mematahkan musuh tanpa harus berperang.

Itulah yang dilakukan China sekarang. Pasca melepaskan diri dari wabah Covid-19, mereka mencatat kegemilangan sekaligus pengakuan baru. Sementara seteru mereka Amrika Serikat yang dinahkodai oleh lelaki bermulut besar Donald Trump, kewalahan melawan Covid-19. Negara demokrasi yang mengaku diri sebagai polisi dunia, kini sedang megap-megap menata dirinya sendiri. Eropa juga demikian. China menang. Kehormatan mereka tegak di muka dunia.

Disaat China sudah berhasil menaklukan virus Corona. Ada puluhan negara yang terimbas serangan virus mematikan ini, seperti, Italia, Spayol, Iran, Amerika Serikat, Malaysia , Indonesia, dan beberapa negara lainya.

Sejak Covid-19 menyebar ke berbagai penjuru dunia, banyak hal yang Tiongkok lakukan, salah satunya senantiasa berbagi kemajuan dalam bentuk persaudaraan dan persahabatan dengan memberi sumbangan berupa 1.000 unit ventilator untuk Kota New York. Pengiriman tenaga medis ke Italia, Serbia, Iran, dan Iran. Serta bantuan peralatan test corona, alat pernapasan, ADP ke Uni Eropa.

Adidaya Paska Corona

Ancaman virus corona telah mengakibatkan Amerika Serikat berkeringat dingin. Jelas terlihat ketakutan dan kepanikan di raut wajah TRump yang sebelumnya kerap tak mampu menata kalimat dengan etika ala Amerika.

Konsep mimpi China menurut Xi Jinping merujuk kepada aspirasi kolektif tentang kebangkitan besar negeri Tiongkok dengan pencapaian terbesar proktivitas tinggi, kesehatan, dan hidup bahagia.

Xi Jinping mempuyai mimpi dalam konteks internasional yaitu, bangsa China mencintai perdamaian, tidak peduli seberapa superpowernya nanti, China tidak akan pernah menghegemoni atau ekspansi, yang dapat menimbulkan penderitaan masa lalu kepada bangsa lain (Das, 2016).

Langkah politik China yang diaplikasikan oleh Presiden Xi Jinping telah sesuai dengan konsep mimpi China untuk mencintai perdamaian. Hal itu terbukti kontribusi untuk berperan aktif membantu negara-negara yang terdampak Covid-19.

Metode pendekatan persuasif telah membuka jendela dunia bahwa kehadiran Tiongkok mampu menjadi tumpuan harapan banyak negara untuk memerangai episentrum wabah mematikan.
Peran signifikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk memerangi wabah penyakit Covid-19 di berbagai negara, merupakan sikap heroik dan suri tauladan untuk kemanusian masyakat global.

Kebijakan bijaksana Xi Jinping memiliki efek domino pandangan internasional terhadap citra negeri panda. Pancaran sebuah aura akan terus memancar ke se antaro dunia. Dengan kemampuan teknologi yang tinggi, dengan kemampuan komunikasi politik.

Negara-negara yang bekerja sama dengan RRT dan [kelak] berhasil memerangi virus Covid-19, tentunya, akan senantiasa membina solidaritas dan membangun kolaborasi berbagai sektor lainnya.

Pengaruh China pasca Covid-19 semakin kuat dan membuat negara-negara yang pernah menerima bantuan China akan senantiasa bermitra bersama di masa depan, baik dalam aktivitas perekonomian, perdagangan, diplomatik, sosial , budaya dan teknologi.

Tatanan kolaborasi internasional dengan Tiongkok akan sangat kentara, di mana sebelum mewabahnya virus Covid-19, Pemerintah Xi Jinping juga telah menggunakan smart power bidang ekonomi melalui mekanisme mega proyek infrasruktur ke berbagai belahan dunia melalui proyek Onel Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BR>I).

Pasca malapetaka virus corona –andaikan tidak terjadinya degradasi ekonomi dunia besar-besaran yang juga ikut menggerus China– tidak dapat dipungkiri lagi, mega proyek Jalur Sutra Tiongkok semakin mulus menancapkan pengaruhnya ke lintas batas seluruh penjuru dunia.

Tiongkok akan menjadi akan menjadi investor terbesar dalam berbagai sektor ekonomi, perdagangan, dan teknologi.

Raksasa itu telah bangun. Raksasa itu telah berjalan. China akan menjelma menjadi epicentrum baru ekonomi –dan tentunya politik– dunia. Dunia akan mengarah ke timur, dan timur itu adalah Tiongkok.

Ditulis Oleh Tibrani Kabid Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banda Aceh.
,