Mengenang Makmursyah Putra, Pelopor Pembangunan Aceh Singkil

H. Makmursyah Putra, SH, MM, Bupati Aceh Singkil pertama. @ist

HARI ini, Senin, 27 April 2020, adalah hari ulang tahun ke-21 Kabupaten Aceh Singkil. Di hari istimewa ini, pantas kita mengenang sosok pelopor Aceh Singkil, yakni H. Makmursyah Putra, SH, MM. Bupati Aceh Singkil yang pertama ini telah berpulang ke rahmatullah pada 15 Oktober 2011 silam.

Di samping beliau meninggalkan keluarga dengan sejumlah putra-putri, juga meninggalkan jasa, kenangan, kesan yang mendalam, dan bermanfaat besar bagi Aceh Singkil khususnya dan Indonesia umumnya.

Sehubungan dengan itu, saya sebagai putra Aceh Singkil yang pernah “dekat” dengannya, mencoba membeberkan profil singkat sosok Bapak Pembangunan Aceh Singkil ini.

***

Tahun 1981, kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, gempar. Makmursyah Putra, menjadi buah bibir di kalangan sivitas akademika Unsyiah.

Ini dikarenakan seorang putra Penanggalan, Simpang Kiri, kelahiran 12 Oktober 1956, dinobatkan oleh pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, menjadi mahasiswa teladan Indonesia.

Penobatan menjadi mahasiswa teladan, tidak saja membuat bangga orang tuanya, Raja Syamsuddin dan Hajah Ammal Penayungan, tetapi telah membanggakan sivitas akademika Fakultas Hukum dan daerah Singkil, bahkan Aceh.

Sehingga lorong Blower, tempat berdomisilinya Asrama Mahasiswa dan Pelajar Singkil di Banda Aceh, tempat Makmur tinggal, menjadi gempar dan riuh rendah menyambut kedatangan sang teladan.

“Makmur itu cerdas dan tekun dalam belajar. Ia suka berorganisasi sehingga membuat pikirannya maju. Tahun 1978, Makmur pernah memenangkan lomba mengarang memeringati Hari Pahlawan. Ia mendapat piagam penghargaan dari Gubernur Aceh,” tutur seorang sahabat dan orang sekampungnya, Sabaas, memuji kehebatan temannya itu.

Kecerdasan Makmursyah Putra memang telah menonjol sejak ia duduk di bangku SD Penanggalan (selesai 1969) dan MTsN Subulussalam (selesai 1972). Kemudian saat melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Tapaktuan, Aceh Selatan, Makmur pun tergolong siswa yang berprestasi. Ia mendapat beasiswa pengembangan bakat dan prestasi dan pernah menggondol pelajar teladan se-Aceh Selatan.

Setelah tamat dari SMA Tapaktuan, Makmur merantau ke Banda Aceh dan kuliah di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat pada Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.

Saat menjadi mahasiswa di tingkat IV dan V (tahun 1980-1981) Makmur menerima beasiswa dari Yayasan Supersemar, aktif di HMI dan Senat Mahasiswa.

Tamat kuliah, bulan November 1982 Makmursyah Putra, diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai staf bagian hukum pada Setwilda Tingkat II Aceh Selatan.

Hebatnya Makmur, entah secara kebetulan, sewaktu meniti karier di jajaran pegawai negeri sipil Aceh Selatan dan Aceh Singkil, ia telah merasakan kepemimpinan lima orang bupati Aceh Selatan, lima orang gubernur Aceh, dan lima presiden Indonesia.

Untuk bupati Aceh Selatan masing-masing: Drs. H. Soekardi Is, Drs. H. Ridwansyah, H. Zainal Abidin (Ayah Chik), Drs. H. Sayed Mudhahar Ahmad, dan Drs. H. M. Sari Subki.

Sementara itu lima gubernur: Prof. DR. H. Ibrahim Hasan, Prof. DR. Syamsuddin Mahmud, H. Ridwan Ramli, Ir. Abdullah Puteh, dan Ir. H. Azwar Abubakar.

Sedangkan presiden RI masing-masing: H. Soeharto, Prof. DR. H. Bj. Habibie, KH. Abdurrahman Wahid, Hj. Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Selama menjadi pegawai negeri, karier Makmur terus meningkat, sejumlah jabatan penting pernah direngkuh dan dipangkunya, antara lain sebagai sekretaris Korpri, sekretaris Bappeda, kepala BP 7 Aceh Selatan, menjadi Pembantu Perwakilan (PP) Bupati di Singkil sejak 03 April 1999 sampai dengan 30 Mei 2000 dengan SK Gubernur Aceh Nomor 821-22-28/1996 tanggal 03 April 1996.

Semasa menjadi PP, ia termasuk salah seorang yang ikut memprakarsai dan memperjuangan terwujudnya Kabupaten Aceh Singkil sehingga Singkil dimekarkan menjadi kabupaten dari kabupaten induknya, Aceh Selatan.

Sebagai seorang pionir dan putra daerah yang berpendidikan dan berpengalaman dalam organisasi dan birokrasi, Makmursyah Putra pun dipercayakan menjadi Pejabat Bupati sejak 27 April 1999 sampai dengan 30 Mei 2000 dengan SK Mendagri Nomor: 131.21.381.

Kemudian menjadi Bupati defenitif perdana Aceh Singkil periode 2000-2005 dengan wakilnya Drs. H. Muaz Vohry sesuai dengan SK Mendagri Nomor: 131.21.2000.

Dalam pilkada, Mahmursyah Putra bersama Drs. H Khazali Bahar dipilih oleh warga Aceh Singkil sebagai Bupati dan Wakil Bupati hingga 5 Maret 2012.

Namun, Makmursyah Putra tak bisa melanjutkan kepemimpinannya karena berpulang ke rahmatullah 15 Oktober 2011, pukul 13.20 WIB.

Di samping jabatan birokrasi, Makmursyah Putra juga pernah tercatat sebagai seorang pejuang pemekaran Kota Subulussalam.

Ia juga pernah memimpin KNPI Aceh Selatan, Pengurus ICMI, dan memimpin DPD II Partai Golongan Karya (Golkar) Aceh Singkil selama dua periode.

Makmursyah Putra memiliki enam orang anak putra dan putri dari hasil buah cintanya dengan mantan istrinya Nurkhalifah SH, adik letingnya sewaktu kuliah di FH Unsyiah dan Sriaton Manik, S.Pd seorang guru di Aceh Singkil yang dinikahinya pada tahun tahun 2006 setelah Makmursyah Putra berpisah dengan istri pertamanya pada tahun 12 September 2005.

Sebagai seorang aktivis dan birograk yang andal, Makmursyah Putra pernah mendapat sejumlah penghargaan dan tanda jasa. Waktu sekolah dan kuliah, ia pernah menjadi pelajar teladan di tahun 1976, mahasiswa teladan Unsyiah tahun 1981 dan sejumlah penghargaan lainnya.

***

Masa kepemimpinannya sebagai bupati di Aceh Singkil, beliau berhasil mengubah Aceh Singkil dari daerah tersingkir menjadi daerah satelit di Aceh.

Ia menyulap Aceh Singkil yang semulanya daerah tempat pembuangan balok menjadi daerah perkotaan. Tentu dengan membangun berbagai perkantoran, jalan, pelabuhan, dan infrastruktur lainnya.

Berkat tangan dingin Makmursyah Putra, di sektor pemerintahan, awal pemekaran, Aceh Singkil berubah secara signifikan. Kalau sebelumnya, hanya didukung empat kecamatan dengan 149 kampung, alhamdulillah secara bertahap, wilayah otonomi kabupaten sekata sepekat tersebut, untuk percepatan pembangunan dan memperpendek rentang kendali, dari empat kecamatan dimekarkan menjadi 11 kecamatan sehingga menjadi 15 kecamatan.

Pemekaran kecamatan di daerah yang berjuluk nagari Syekh Abdurrauf itu juga didukung pemekaran desa sehingga jumlah desa menjadi 189 desa. (Ini sebelum Kota Subulussalam memekarkan diri).

Sementara itu, terobosan di bidang pendidikan, selain terus berupaya meningkatkan kualitas juga menambah bangunan-bangunan sekolah.

Dua perguruan tinggi swasta di Aceh Singkil berhasil dipelopori pembangunannya oleh Makmusyah Putra, seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Abdurrauf (STAISAR), Batu Korong dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Syekh Hamzah Fansuri (STIP Yasyafah), Ketapang Indah.

Ia bersama Mensos Bachtiar Chamsyah, pernah pula meresmikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil.

Di masa dua periode kepemimpinannya, ia berjuang mendongkrak perekonomian Aceh Singkil dan seabrek pembangunan lainnya.

Pokoknya, dengan kelebihan dan kekurangan, Makmursyah Putra telah berhasil meletakkan platform pembangunan Aceh Singkil.

Terima kasih Pak Mamur
Terima kasih Bapak Pembangunan
Namamu abadi di hati kami
Jasamu tetap kami kenang.[]

Editor : Ihan Nurdin