[Ruang Semangat]: Memanfaatkan Kelas Online Tempo dan Harvard Selama #DiRumahAja

Oleh Ayu ‘Ulya*

Sudah sekitar sebulan pelaksanaan edaran menjaga jarak temu antarsesama manusia kita jalankan. Rupa-rupa rasa berkecamuk hebat dalam waktu singkat. Panik, girang, sedih, senang, marah, tenang, hingga mencapai titik bosan karena jeda karantina yang panjang. Dalam sekejap mata, kebijakan di segala penjuru dunia berubah, termasuk di Indonesia. Sekolah dan kampus ditiadakan. Nongkrong, liburan, dan pulang ke kampung halaman pun dilarang.

Awalnya kita mungkin senang karena tak pernah ada dalam sejarah kita punya begitu banyak tanggal merah. Akan tetapi, ketika stok lagu dan film yang diputar mulai terasa membosankan, sekolah dan kampus mulai dirindukan, aktivitas nongkrong dan ngobrol bersama teman menjadi terkenang, kita bisa saja mulai kesal dan mengutuk keadaan. Namun, bukankah kita tidak seharusnya lupa bahwa Allah Swt sudah memperingatkan di dalam Alquran pada surah Al-Insyirah ayat 5-6, “Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Di dalam kesulitan, ada kemudahan.”  Sehingga, kecerdasan mengelola perspektif positif dalam keadaan negatif menjadi penting selama masa karantina menghadapi pandemik Covid-19 ini. Misalkan dengan memanfaatkan peluang belajar dari kelas-kelas online profesional yang digratiskan oleh Tempo Institute dan Universitas Harvard.

Sependek pengetahuan saya, kelas-kelas pembelajaran online yang diberikan oleh Tempo Institute dan Universitas Harvard selalu menyajikan materi-materi mumpuni. Sehingga wajar jika untuk sekadar meraup ilmu tersebut pun kita diharuskan mengeluarkan rupiah bahkan dolar yang terbilang tidak sedikit. Namun, siapa sangka, selama masa karantina menghadapi pandemik corona ini, begitu banyak akses pembelajaran daring gratis yang terbuka lebar.

Cukup bermodalkan gawai atau laptop plus kuota internet, seketika kita bisa masuk “dapur” tim Tempo untuk belajar seni menulis berita dan reportase langsung dari para pakarnya. Bahkan, di waktu yang bersamaan juga bisa menjadi salah satu mahasiswa virtual Universitas ternama sekelas Harvard. Luar biasa bukan?

Walau tidak dapat dimungkiri bahwa begitu banyak orang-orang baik yang menjadi korban selama “masa kelam” ini, kondisi ekonomi dunia menjadi rapuh, banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan, dan terbatasnya begitu banyak aktivitas sosial. Namun, alangkah elok jika kita masih menyempatkan diri melihat cahaya kebaikan yang terpancar.

Kita bisa melihat bagaimana rasa kemanusiaan bangkit, empati dan berbagi menjadi trending topic di banyak sosial media. Jalanan menjadi sepi, polusi berkurang, bumi memulihkan diri. Bahkan langit di ibu kota negara kita, Jakarta, seketika menjadi biru setelah sekian puluh purnama berwarna kelabu. Bahkan anggota keluarga yang jarang bertemu karena padatnya aktivitas jadi memiliki cukup waktu untuk melakukan begitu banyak aktivitas bersama. Misalnya memasak makanan bersama, bergotong royong membersihkan rumah, membaca ulang komik dan novel yang kisahnya belum kunjung kita tamatkan karena kesibukan, atau sesederhana memanfaatkan waktu luang untuk rebahan bersama adik atau kakak sembari saling bercerita.

Momen-momen berharga yang mungkin selama ini jarang sempat kita nikmati dikarenakan dunia yang selalu menuntut kita untuk terus-menerus sibuk.  Perspektif positif inilah yang berusaha saya dan keluarga bangun pelan-pelan selama menghadapi pandemik Covic-19.   

Selain menghabiskan waktu bersama keluarga, saya juga memanfaatkan peluang meraup ilmu prestisius dari sejumlah kelas daring. Mungkin belum semua masyarakat Aceh cukup familier dengan pembelajaran kelas online. Namun, percayalah, belajar di kelas daring itu sama asyiknya dengan belajar di kelas offline biasa. Selain kita dapat mengakses multidisiplin ilmu dari luar daerah bahkan luar negeri melalui rumah, kita juga punya begitu banyak opsi pilihan pakar. Ditambah lagi metode pembelajaran yang disajikan ternyata cukup seru karena sudah menggunakan teknologi gamification pada materi-materi yang tersedia di website-website tersebut. Benar-benar menyenangkan. Tentu kita akan rugi besar jika tidak memanfaatkan momen-momen berharga ini secara bijak. Anggap saja belajar online ini sebentuk investasi masa depan. Dari pada kita terpaksa “membunuh” rasa bosan dengan hal yang bukan-bukan. Menghabiskan waktu berjam-jam scrolling sosial media tanpa tujuan. Bukankah lebih baik jika sebahagian waktunya kita gunakan untuk meraup ilmu pengetahuan juga ya kan?

Kembali membicarakan program kelas online Tempo dan Universitas Harvard. Sejauh ini, terdapat tiga kelas gratis yang bisa diikuti bersama Tempo Institute. Petama, kelas Climate Change-Panduan untuk Jurnalis. Kedua, kelas Jurnalisme Bencana-Panduan untuk Jurnalis. Serta yang ketiga, kelas Menulis Motivation Letter dan Artikel Ilmiah Populer. Nah, untuk pembaca yang ingin ikut kelas online kepenulisan bersama Tempo Institute, silakan kunjungi dan daftarkan diri kalian melalui laman ini https://kelas.tempo-institute.org/ .

Adapun kelas daring Universitas Harvard, terdapat 64 kelas yang bisa diakses secara gratis. Waktu yang dibutuhkan untuk menamatkan sebuah kelas juga tidak terlalu panjang, berkisar antara satu hingga tiga bulan. Sungguh beruntung jika kita serius memanfaatkan momen seberharga ini. Bayangkan betapa ajaib, cukup dengan di rumah saja, kita dapat mengakses ragam ilmu pengetahuan dan merasakan pengalaman belajar layaknya mahasiswa Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Betapa keren, bukan? Nah, untuk pembaca yang ingin mencoba pengalaman belajar ala mahasiswa universitas top dunia, silakan akses materi-materi yang terdapat di alamat ini https://online-learning.harvard.edu/catalog/free .

Nah, jika kita renungkan kembali, ternyata pandemik corona mampu mengajarkan begitu banyak hal esensial kepada manusia. Tentang pentingnya makna jeda untuk mengistirahatkan diri, memahami diri, dan menata tujuan hidup kembali. Tentang makna kebersamaan keluarga yang selama ini mulai renggang karena kesibukan. Tentang cara menikmati rasa rindu pada teman-teman yang tak kunjung temu. Tentang indahnya langit biru dan udara segar yang bumi hasilkan setelah diberi kesempatan untuk memulihkan diri dari ragam polusi. Serta beragam hal baik lainnya.

Jadi, walau kita masih berada dalam masa karantina yang belum pasti berapa lama lagi, mari bersama kita isi waktu luang ini dengan segala kegiatan positif dan bermanfaat. Selain itu, tetap ingat untuk saling menjaga dan peduli dengan kondisi kesehatan diri dan orang-orang terkasih di sekitar kita. Teratur cuci tangan pakai sabun dan gunakan masker selama berpergian. Serta satu hal penting lainnya adalah kita perlu menyadari bahwa bukan hanya tubuh yang butuh dijaga kesehatannya, namun juga pikiran dan juga jiwa. Mari bersama lawan Corona. Tetap #DiRumahAJa ya. []

*Penulis adalah Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Leuser dan bloger, berdomosili di Banda Aceh. Email: ayuulya90@gmail.com

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent