Bertemu Ivan Lanin

BISA dibilang, saya termasuk salah satu fannya Ivan Lanin, khususnya sejak serius menekuni dunia sunting. Walaupun sudah lama mendengar nama Ivan yang kerap digadang-gadangkan sebagai “pejuang” bahasa Indonesia itu, tapi baru benar-benar memperhatikan sepak terjangnya di dunia kebahasaan setelah menonton video wawancaranya oleh salah satu media daring sekitar dua tahun lalu.

Setelah itu, saya mengirimkan permintaan pertemanan di Facebook dengan mencantumkan catatan khusus, harapannya supaya yang bersangkutan tahu maksud dan tujuan saya meminta berteman dengannya. Selang beberapa hari kemudian, Ivan—yang kerap disapa Uda Ivan—menerima permintaan pertemanan tersebut.

Sejak saat itu, otomatis saya selalu mendapatkan informasi terkait ketatabahasaan melalui status-status Ivan di Facebook. Belakangan, saya juga mengikuti fanpage Narabahasa yang didirikan oleh Ivan. Lebih banyak lagi ilmu yang bisa saya peroleh secara cuma-cuma.

Sama halnya dengan Ivan yang berlatar belakang teknik, saya pun bukan orang bahasa. Saya ini orang akuntansi. Benang merahnya adalah ketelitian. Jadi, segala hal yang berkaitan dengan ilmu literasi saya pelajari secara otodidak. Berawal dari kegemaran saya menulis prosa, lalu menjadi bloger, hingga akhirnya bergelut ke dunia jurnalistik sampai sekarang, dan mulai serius menekuni praktik editing.

Itu artinya, bisa saja secara praktik saya menguasai tekniknya, tetapi belum tentu mengetahui dasar-dasar teorinya. Ini terbukti dari masih minimnya pengetahuan saya terkait istilah-istilah di dalam dunia kebahasaan yang tak sesederhana orang awam pikirkan. Semakin diselami semakin terasa dangkal dan membuat kita (saya) semakin penasaran. Ilmu-ilmu yang dibagikan oleh Ivan di media sosialnya melengkapi apa yang sebelumnya telah saya dapatkan dari teman-teman maupun komunitas pegiat literasi di Aceh.

Lama saya mengidamkan agar bisa bertatap muka langsung dengan Peneroka (Perintis) Bahasa Indonesia Daring Kemendikbud 2016 itu. Membayangkan betapa serunya membincangkan tata bahasa Indonesia dengan salah satu Tim Penyusun KBBI V ini; bertanya tentang hal-hal receh yang selama ini sering membingungkan; dan menggali lebih banyak informasi mengenai dunia sunting yang masih seuprit saya pahami.

Namun, siapa sangka, keinginan itu justru terwujud di musim pandemi ini. Musim yang notabenenya membuat ruang gerak kita jadi terbatas seiring dengan anjuran untuk tetap di rumah saja. Di sisi lain, pandemi ini justru “mendekatkan” kita pada sesuatu yang selama ini kita anggap jauh. Ya, kehadiran teknologi merupakan keniscayaan. Akhirnya, saya pun bisa “bertemu” muka dengan Ivan Lanin kemarin siang, Senin (27/4/2020) dari pukul 14.00 – 17.16 WIB melalui aplikasi Zoom. Girangnya saya bukan kepalang. Kelas daring ini turut menambah produktivitas saya selama #DiRumahAja yang sayangnya tak bisa untuk rebahan seperti orang-orang karena harus terus duduk untuk menyunting. 😀

Ivan Lanin melalui Narabahasa membuka Kelas Daring Narabahasa dengan berbagai topik di antaranya Keterampilan Bahasa untuk Editor yang saya ikuti siang tadi. Dibandingkan dengan topik-topik yang lain, biaya untuk kelas editor ini lebih mahal. Durasinya pun lebih panjang, yakni mencapai tiga jam, dengan pokok bahasan yang lumayan banyak. Namun, menurut saya, harga yang dikeluarkan itu sangat murah untuk ilmu yang sangat bermanfaat dan aplikatif. Saya benar-benar merasa haus sehingga tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya berulang-ulang di tiap-tiap bagian materi yang telah dipaparkan.

Walaupun berlangsung secara daring, tapi kelas ini benar-benar sangat asyik dan menarik, serta dikelola dengan sangat profesional. Misalnya, kelas dimulai dengan kuis melalui aplikasi Kahoot. Peserta mendapatkan sepuluh pertanyaan dan masing-masing memiliki skor tertentu. Peserta dengan skor tertinggi diperkenankan untuk mengikuti satu kelas daring dengan topik berbeda secara gratis. Saya sendiri, mendapatkan skor 3.233 dan berada di urutan ke-21 dari total 74 peserta. Bukan angka yang bagus, tapi juga tidak terlalu buruk. Ha ha ha.

Setelah kuis selesai, barulah kelas dimulai dan langsung dipandu oleh Ivan Lanin. Waktu yang tersedia benar-benar efektif. Hanya jeda selama sepuluh menit untuk salat Asar. Selama durasi tersebut, ada empat agenda utama yang dibahas meliputi Editor dan Bahasa, Tataran Tulisan, Kesalahan Tulisan, dan Pembentukan Istilah yang tiap-tiap pokok bahasan tersebut beranak-pinak dan bercicit-cicit.

Namun, jauh sebelum Ivan menjelaskan materinya, ada pernyataannya yang menurut saya cukup menarik bahwasannya berbicara bahasa bukan sekadar persoalan linguistik semata. Linguistik adalah salah satu dasar, tetapi yang perlu diketahui bagaimana menghasilkan tulisan yang bisa dibaca orang dan rapi. Bagaimana dalam sebuah tulisan itu tidak mengandung empat unsur kesalahan: kesalahan tik, kesalahan berbahasa, kesalahan data, dan kesalahan nalar. Berbicara bahasa, juga terkait rasa sehingga benar-benar diperlukan kepekaan dan jam terbang untuk bisa “memaknai” sebuah tulisan secara baik dan benar.

Itulah saya kira mengapa peran editor sangat penting. Sebuah profesi yang menurut Ivan tak bisa dianggap enteng karena berada di posisi sentral di antara profesi lain sejak tulisan (naskah) itu dilahirkan hingga hadir ke tangan pembacanya.

Pernyataan lainnya yang juga cukup menarik, Ivan Lanin ternyata pernah dikatakan kafir hanya karena ia mengucapkan ejaan sesuai kaidah bahasa Indonesia. Ini biasanya sering terjadi pada kata-kata yang merupakan transliterasi dari bahasa asing, khususnya bahasa Arab, misalnya, kata “Ramadhan” yang ditulus “Ramadan”, “shalat” ditulis “salat” dan lain-lain sehingga dianggap “tak beragama”. Namun, seperti halnya menggeluti profesi lain, menjadi “pejuang” bahasa juga berpotensi risiko dicap kafir. Jadi, ya nikmati saja.

Belum lagi misalnya sindiran-sindiran yang lazim kita dengar seperti istilah “polisi bahasa” karena kebiasaan mengkritisi tulisan-tulisan yang tidak baik dan benar. “Baik” biasanya berkaitan erat dengan konteks yang mencakup lima aspek, yaitu sosial, media, suasana, bidang, dan kelompok. Sedangkan benar haruslah sesuai dengan kaidah yang mengacu pada empat hal: tata bahasa, tata istilah, kata baku, dan ejaan.

Nah, kalau kita sudah memahami kedua hal di atas, dalam membuat surat-surat resmi seyogianya tidak lagi menerakan kata-kata seperti “cipika-cipiki” karena ini jelas-jelas di luar konteks bahasa resmi. Dengan demikian, sebagaimana kata Ivan, wajarlah bila para editor termasuk orang-orang yang selalu gelisah.[]