Diduga Gelapkan Dana, Geuchik Peulanteu Aceh Barat Dituntut Lengser

Warga Gampong Peulanteu berunjuk rasa di Kantor Camat Bubon, Aceh Barat, Senin, 27 April 2020 @aceHTrend/Sudirman Z

ACEHTREND.COM, Meulaboh – Sejumlah warga Gampong Peulanteu SP, Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat, Senin (27/4/2020) melakukan aksi protes ke kantor kecamatan. Warga menuntut kepala desa setempat dicopot dari jabatan karena dinilai menyalahgunakan wewenang terkait kebijakan anggaran desa sebesar Rp300 juta pada tahun anggaran 2019.

Warga melalui surat pernyataan menegaskan mosi tidak percaya terhadap saudara Safari selaku Geuchik Gampong Peulanteu SP. Mereka mendesak Bupati Aceh Barat, Ramli MS segera mencopot Safari dari jabatannya sebagai Geuchik Peulanteu, karena yang bersangkutan dinilai telah ingkar janji dan menyalahgunakan wewenang terkait penyalahgunaan dana.

Ahmad Yani, salah seorang pemuda Gampong Peulanteu yang ikut dalam aksi tersebut menjelaskan, kehadiran warga ke kantor kecamatan untuk menuntut geucik segera dicopot dari jabatan, lantaran sudah menyalahi wewenang dalam pengelolaan anggaran tahun 2019 lalu.

Ahmad Yani mengaku, sebelumnya sudah sering dilakukan upaya mediasi baik tingkat desa maupun ke pihak kecamatan tapi tak kunjung selesai.

“Yang hadir pada hari ini adalah semua pemuda dan tokoh–tokoh desa dalam rangka menyatakan mosi tidak percaya kepada pemimpin kami, yaitu saudara Safari selaku Kepala Desa Peulanteu. Yang mana kami semua masyarakat sudah tak mau lagi dipimpin olehnya karena sudah tahu bahwa beliau telah menyalahgunakan wewenang terhadap penggunaan Dana Desa tahun 2019,” kata Ahmad Yani.

Kata Ahmad Yani, pihaknya berbicara sebagai perwakilan pemuda dan masyarakat yang selama ini sudah geram terkait kejanggalan pengelolaan dana di desanya.

“Kami selaku masyarakat menuntut kepada kepala desa agar segara melakukan pengembalian uang sebesar Rp300 juta. Uang itu sebenarnya untuk pembangunan fisik tahun 2019, tapi realisasinya tidak jelas sama sekali. Selain itu juga mendesak Bupati segera mencopot jabatan,” katanya.

Ahmad Yani menjelaskan, sejak diselewengkan sekitar pertengahan 2019 lalu pihak terkait sudah duduk membicarakan tentang masalah tersebut sebanyak tujuh kali. Mulai dari tingkat desa hingga ke kecamatan, yang ada hasil cuma sebatas surat pernyataan saja.

“Seolah-olah dia seperti tidak bersalah. Pertemuan sudah kami lakukan sebanyak tujuh kali mediasi, tapi hanya untuk membuat surat pernyataan saja, dan sampai saat ini belum ada penyelesaian. Sehingga membuat kami geram dan melakukan aksi di kantor kecamatan kami menuntut dicopot dari jabatan,” terangnya.

Menurut Pendamping Lokal Desa (PLD) Peulanteu, Herman, saat dikonfirmasi Senin sore (27/4/) membenarkan bahwa selama ini ada permasalahan terkait anggaran desa Gampong Peulanteu tahun anggaran 2019 yang belum terselesaikan.

Herman mengatakan, aksi protes masyarakat Gampong Peulanteu SP itu merupakan aksi damai menuntut geuchik gampong terkait penyelewengan Dana Desa yang tidak kunjung selesai melalui beberapa kali mediasi. Baik tingkat gampong maupun di tingkat kecamatan.

“Ini hal yang wajar masyarakat melakukan aksi karena ada masalah tak kunjung selesai terkait dugaan penyelewengan Dana Desa yang besarannya mencapai Rp300 juta,” sebut Herman.

Sementara itu, Camat Bubon, Yulisman Yahya mengatakan, terkait masyarakat yang sudah mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Geuchik Gampong Peulanteu, Safari, maka segera mempersiapkan berkas untuk dilakukan pergantian pejabat sementara atau Pjs. Terutama kepada Sekretaris Desa yang memiliki tanggung jawab dan mengerti semua persoalan.

“Permasalahannya masyarakat sudah tidak percaya kepada kepemimpinan kepala desa, karena dalam pelaksanaan kegiatan di Gampong Peulanteu mungkin kurang terbuka terhadap masyarakat. Maka timbul persoalan seperti ini sehingga masyarakat datang kepada kami pihak kecamatan meminta untuk melakukan pergantian kepala desa,” kata Yulisman.

“Yang perlu kita ketahui bahwa Saudara Safari selaku Kepala Desa Peulanteu tidak melakukan penggelapan dana. Cuma mungkin ada kesalahpahaman hanya penyalahgunaan anggaran. Dan persoalan itu sudah diselesaikan kemarin dengan pihak Kapolsek Bubon. Dana itu katanya sudah di kembalikan kepada desa. Tapi apa boleh buat, kalau masyarakat sudah membuat mosi tidak percaya, tetap kita tindak lanjuti,” jelas Yulisman.

Sementara itu, Safari saat dikonfirmasi menjelaskan, terkait tudingan ebagian warga tersebut tidak semua benar. Menurutnya persoalan tersebut telah selesai termasuk proses pembayaran ke desa berupa dana yang disebut-sebut disalahgunakan itu.

“Itu tidak benar. Proses pembayaran sudah dilakukan, pembangunan fisik yang tahun 2019 pun sudah dilakukan. Kalau tidak salah saya memang masih ada sisa yang belum dibayar sekita Rp18 juta lagi. Ini sedang dalam proses. Menyangkut massa yang turun ke kantor camat, besar dugaan hanya untuk melengserkan saya dari keuchik. Ya nanti kita lihat bagaimana keputusan dari Pak Bupati,” kata Ansari.[]

Editor : Ihan Nurdin