[Obituari]: Mengenang Kriswanto, Lelaki yang Gemar Berbagi untuk Bahagia

Allahyarham Kriswanto, GM TB Gramedia Banda Aceh. [Hendra Syahputra/aceHTrend]

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Kriswanto, Rabu (29/4/2020) pukul 05.10 WIB di RSUZA Banda Aceh. Allahyarham adalah General Manager Toko Buku Gramedia Banda Aceh. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga keluarga dan karyawan yang ditinggalkan tabah hendaknya. Amin

***

“Pak Hendra, selamat membaca,” demikian ucapan yang terus saya ingat ketika kami pertama kali bertemu Kriswanto. Saya ingat betul, saat itu hari Rabu (20/12/2017), bertepatan dengan pembukaan Gramedia yang merupakan anak perusahaan Kompas Gramedia, di Banda Aceh.

“Ada 12.000 judul buku loh, Pak Hendra,” kata Mas Kris pada saya saat itu. Selesai peresmian Gramedia, saya pun ditemaninya jalan-jalan berkeliling gedung toko buku itu.

“Suasana toko buku ini asyik dan menyenangkan,” katanya pada saya.

Toko Gramedia ini dibangun di atas lahan 2.500 meter persegi. Dilengkapi area parkir untuk mobil dan sepeda motor yang cukup luas. Selain buku, Gramedia juga menyediakan berbagai produk lain seperti alat musik, perlengkapan kantor, dan alat olahraga. Khusus di Aceh, mushalla dibangun di belakang gedung, biar pengunjung bisa beribadah ketika waktu salat tiba,” kata Kriswanto. Ia saya panggil dengan panggilan Mas Kris.

Itu pertemuan pertama saya dengan Mas Kris. Sejak itu kami bersahabat baik. Saya sering sekali diskusi dan tukar pikiran yang mencerahkan dengannya. Saya sangat kagum dengan kerendahan hatinya. Ia tidak “alergi” menerima orang baru. Ia selalu menyiapkan diri membantu banyak hal, terutama terkait literasi.

Tiga tahun mengenal dekat Mas Kris, rasanya seperti sudah berpuluh tahun. Selama itu pula wajahnya salalu tersenyum dalam setiap suasana. Tidak pernah marah. Ia senang mengenalkan orang dengan temannya yang lain. Makin kita kenal banyak orang, makin senang dan bahagia hati katanya.

Suatu kali kami makan siang bersama. Ia memperkenalkan saya kepada beberapa manajer perusahaan nasional yang ada di Banda Aceh. Kami makan siang pakai gudeg di sebuah gerai makanan di Kawasan Ajun Jeumpet.

Ia tampak lahap dan menikmati makan siang saat itu. Sesekali ia bicara mencoba mencandai saya

“Pak Hendra suka gudeg kan? Enak ini ayo nambah lagi, ini bisa bikit ingat Jogja,” katanya pada saya.

Kami makan siang di pengujung Oktober 2019. Saat itu saya dan Mas Kris sedang membicarakan rencana peluncuran buku novel karya Akmal Nasery Basral yang berjudul Te O Toriatte- Genggam Cinta.

“Insya Allah kita bisa support pengadaan bukunya, dan buat gerai mini nanti di sana,” kata Mas Kris.

Tak lama berselang, buku-buku itu sudah sampai di Banda Aceh. Persiapan peluncuran pun di-support oleh Gramedia. Saya senang sekali, Mas Kris sangat respon pada kegiatan yang saya inisiasi bersama teman-teman saat itu.

Kegiatan diskusi bertajuk “Literasi Melawan Lupa” sukses kami selenggarakan dipengujung Desember 2019. Tepatnya memperingati 15 Tahun Gempa dan Tsunami di Aceh.

Mas Kris juga bertemu dengan banyak orang dalam acara tersebut, salah satunya adalah para penyintas gempa dan tsunami Aceh yang memiliki kisah sedih.

Saat itu, saya lihat mata Mas Kris berkaca-kaca. Sapu tangan menyeka air matanya. Ia gampang sekali tersentuh

“Saya baru kali ini mendengar langsung kisah korban gempa dan tsunami Aceh tahun 2004,” sebutnya kepada saya.

Ternyata meski sudah 15 tahun masih menyisakan luka yang mendalam ya, tambah Mas Kris.

Berkali-kali ia menereskan air mata ketika kami bertemu orang lain yang berkisah tentang gempa dan tsunami.

“Wah, tidak terbayang kalau saya ada di situ,” kata Mas Kris dengan haru.

Saat wabah Covid-19 mulai “menyerang” Aceh akhir Februari 2010 lalu, ia menelpon saya.

“Pak Hendra, sehat-sehat selalu ya, jangan kemana-mana, hati-hati, semoga Allah jauhkan kita dari wabah ini,” katanya di ujung telpon.

Tak lama berselang hari kami ketemu. Hanya satu jam. Duduk berjauhan, karena social distancing sedang diedukasi kepada masyarakat.

Saya menyampaikan konsep gerakan digital #ruangsemangat di media ini untuk menyemangati pemuda-pemudi yang sedang #dirumahsaja karena kondisi dunia yang tidak stabil.

Jadi siapapun boleh sharing pengalamannya yang bisa menyemangati banyak orang yang sedang “berhenti” dari aktivitasnya karena wabah Covid-19.

Kris menyambut semangat. Menyiapkan buku baru sampai Juni 2020 dan mengantarkanya ke kantor media online aceHTrend. Saya lagi-lagi terharu bahkan meneteskan air mata.

Ia datang langsung dan mengucapkan satu hal pada saya.

“Pak Hendra, semangat terus berbagi pengetahuan dan program-program penyemangat buat anak muda kita,” kata mas Kris sambil tersenyum. Jangan kalah dengan kondisi katanya. Saya akan dukung, kata Mas Kris.

Saya seperti mendapat “bahan bakar” baru untuk berlari kencang dan terbang dengan sayap harapan. Punya sahabat dan selalu bersikap positif.

Semua kisah itu terbayang jelas di ingatan saya, saat membaca pesan singkat melalui WA di handphone saya pagi tadi.

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Pak Kriswanto pukul 05.10 WIB tanggal 29-4-2020 di RSUZA Banda Aceh. Beliau adalah General Manager TB Gramedia Banda Aceh. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga keluarga dan karyawan yang ditinggalkan tabah hendaknya. Amin.

TAK ada satu manusiapun yang mampu melawan takdir kematian. Mas Kris berpulang menemui Sang Khalik. Allah SWT.

Saya jadi teringat, apa kata Mas Kris di awal April lalu. Masa tugasnya sudah selesai di Aceh dan ingin pulang.

Mas Kris “pulang” saat bulan suci Ramadan. Semoga mendapatkan pengampunan dari Allah. Saya hanya mengantarkan peti jenazahnya sampai ke Bandara Sultan Iskandar Muda, untuk diterbangkan ke Jakarta.

Salamat jalan, Mas Kris. Kebaikan hatimu akan selalu kukenang. Satu kata yang selalu saya ingat. “Berbagilah, karena itu jalan menuju bahagia.”