Ramadan Ajang Introspeksi Diri

Oleh Mukhsinuddin, S.Ag, M.M.*

Allah yang Maha Pemurah telah memilih Ramadan sebagai bulan istimewa dan bulan penuh segala keagungan serta keberkahan. Nabi Muhammad saw menyampaikan, seorang muslim harus bergembira bila bertemu dengan bulan Ramadan yang penuh kemuliaan. Karena bila seseorang mengetahui keutamaan bulan Ramadan, dia inginkan setiap bulan itu menjadi bulan Ramadan. Allah Swt memilih Ramadan sebagai bulan istimewa karena ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatulkadar. Saat itu, malaikat  ibril memimpin barisan malaikat yang turun ke bumi ini dan mendoakan para manusia yang mengharapkan rida Allah Swt.

Ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh keberkahan saja, tetapi juga menjadi momentum bersejarah bagi umat muslim di seluruh dunia. Ada tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan dan harus diingat oleh umat Islam, yaitu diturunkannya Alquran dan diperingati sebagai nuzulul Quran; terjadinya perang Badar; dan penaklukkan Kota Mekah yang disebut dengan Fathul Makkah.

Ibadah dalam bulan Ramadan pahalanya jauh lebih besar dibandingkan beribadah di bulan-bulan lainnya. Bukan hanya ibadah ritual saja, melainkan juga perbuatan baik lainnya seperti menjaga lingkungan, membantu sesama muslim, dan lainnya. Bila dilakukan di bulan Ramadan semuanya memiliki nilai kebaikan yang tinggi. Sebagai contoh, ibadah sunah di bulan Ramadan, pahalanya sama seperti beribadah wajib di bulan lainnya. Sedangkan beribadah wajib di bulan Ramadan digandakan sampai 70 ganda dibandingkan dengan bulan lain. Bulan Ramadan juga merupakan bulan dikabulkannya doa-doa bagi hamba-Nya yang berdoa.

Bulan Kemenangan

Banyak peristiwa sejarah yang terjadi di bulan Ramadan, termasuk Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bulan itu merupakan prestasi yang dicetak umat Islam Indonesia ada dalam bulan Ramadan. Puasa di bulan Ramadan diperintahkan oleh Allah pada tahun ketiga kenabian Rasulullah saw. Bulan Ramadan sebagai bulan untuk puasa juga pernah diwajibkan untuk umat sebelum  umat Muhammad saw.

Umat Nabi Musa diwajibkan berpuasa selama 60 hari lamanya. Sedangkan umat Nabi Zakaria diperintahkan berpuasa dengan tidak berbicara berhari-hari. Hal ini karena ketika dia berusia 80 tahun dan istrinya yang berusia 70 tahun melahirkan bayi bernama Yahya, saat itu umatnya meributkan hal tersebut sehingga Zakaria diperintahkan untuk puasa berbicara.

Siti Maryam ketika melahirkan Isa pun pernah diperintahkan untuk puasa bicara. Ketika itu datang malaikat Jibril kepadanya untuk menyampaikan bahwa dirinya akan melahirkan seorang putra, Maryam kebingungan dan mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya yang akan memfitnahnya. Maka Siti Maryam pun diperintahkan untuk puasa berbicara.

Nabi Adam as sendiri pada saat keluar dari surga diperintahkan untuk melakukan puasa. Nabi Nuh as ketika berada di atas bahtera tatkala banjir merendam dunia juga diperintahkan untuk melakukan puasa. Nabi Ibrahim as ketika dibakar oleh kaumnya, dia pun melakukan puasa. Nabi Yusuf as ketika berada di dalam penjara diperintahkan untuk berpuasa. Para nabi diperintahkan berpuasa untuk membangkitkan perjuangan dalam dirinya. Puasa itu adalah untuk mendorong keinginan yang ingin diperoleh.

Target ibadah puasa adalah sabar dalam menghadapi kekurangan rezeki dan ketika mendapatkan musibah. Selain itu, puasa mencetak manusia untuk ulet dalam mengerjakan sesuatu. Bila berbuat dosa dan salah, orang yang puasa akan sportif mengakui kesalahannya dan tidak pernah bangga dengan dosanya. Bila ini jadi ukuran ibadah puasa, karakter unggulan ini tidak hanya sekadar berhenti pada tidak makan dan minum serta yang hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga berhenti melakukan hal-hal yang mengurangi ibadah puasa.

Oleh karena itu, untuk menggapai puasa yang berkualitas, tidak hanya menahan terhadap hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga berhenti total dari perasaan-perasaan yang berbuat dosa. Sehingga pikiran, perasaan, dan imajinasinya pun adalah hal-hal yang baik. Bagaimana pun, amal yang paling baik adalah puasa yang berhenti dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan kesucian bulan Ramadan.

Menggapai Hikmah Puasa

Semua yang diperintahkan dalam ajaran Islam atau yang dilarangnya pasti mengandung nilai (makna) filosofinya. Hanya saja, orang tidak mampu menangkapnya seperti halnya dengan ibadah-ibadah lainnya, maka ibadah puasa  tidak luput dari makna filosofi tersebut. Nilai filosofi yang terkandung dalamibadah puasa antara lain: pertama, sebagai pernyataan syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat-Nya yang telah diberikan kepada manusia.

Kedua, sebagai latihan dan pengujian kepada seseorang, sampai di mana ketaatan, ketahanan jiwanya, serta kejujuran dalam menjalani tugasnya sebagai seseorang hamba terhadap perintah Khaliqnya. Orang mukmin pasti memilih lapar karena berpuasa ketimbang kenyang berpuasa karena melawan perintah Allah.

Ketiga, sebagai menjaga kesehatan, karena sehat itu sangat berharga bagi manusia dan penyebab dari segala macam penyakit berawal pada maidah. sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, “Perut (maidah) adalah sarangnya penyakit, dan pencegahan awalnya adalah pangkal pengobatan, berilah masing-masing tubuh apa yang terbiasa.” (Alhadis).  

Selanjutnya, puasa dapat menekan dan mengendalikan syahwat, karena orang yang sedang berpuasa pasti  tidak berbicara hal-hal yang keji, apalagi melakukannya. Karena semua itu membuat rusak pahala puasanya. Jadi setiap peluang yang menjerumus ke arah negatif telah diantisipasi oleh ibadah puasa. Sehingga ia selamat dari godaan hawa nafsu.

Orang yang telah menjalankan puasa, pasti merasakan betapa perihnya perut yang kelaparan karena tidak makan dan minum, maka ia akan mudah tergugah kalau diajak untuk bersedekah kepada orang fakir miskin. Orang berpuasa akan mudah peduli kepada masalah-masalah sosial yang ada di sekelilingnya. Dalam berpuasa seseorang dapat mengontrol anggota badannya hingga gerak-gerik jiwa dan batinnya  serta ucapan mulutnya.

Kesucian yang ditimbulkan dari akibat puasa adalah kesucian “ma’nawi“. Bukan hanya kesucian lahir semata-mata yang mungkin dapat dibersihkan dengan air, juga kesucian batin dapat dibersihkan dengan latihan jiwa dan perbuatan kalbu. Puasa mendidik para orang mukmin supaya berperangai luhur dan agar dapat mengontrol seluruh nafsu dalam keinginan manusia biasa. Mendidik jiwa agar biasa dan dapat menguasai diri, sehingga mudah menjalankan semua kebaikan dan meninggalkan segala larangan. Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan tahan uji. Mendidik jiwa agar dapat memegang amanat sebaik-baiknya, karena orang berpuasa itu sebagai seorang yang mendapat amanat untuk tidak makan dan minum atau hal-hal yang membatalkannya. Sedang amanat itu harus dapat dipegang teguh, baik di hadapan orang banyak maupun di kala sendirian.

Bulan suci Ramadan harus dikawal kesuciannya. Banyaknya puasa rusak karena lidahnya. Maka dari itu, kita harus banyak untuk introspeksi diri dengan selalu banyak beribadah, membaca Alquran dan menyebut nama Allah Swt. Pada bulan Ramadan, Alquran harus banyak dibaca dibandingkan bulan lainnya, serta nama Allah Swt harus lebih banyak disebut melebihi di bulan lain. Pada bulan Ramadan ini juga kita harus sering selalu memperbanyak sunah lainnya. Kita juga harus membangun keakraban dengan sesama manusia.[]

Penulis adalah mahasiswa Program Doktoral Ilmu Manajemen Unsyiah, Banda Aceh. Dosen  STAIN  Meulaboh, Aceh Barat. Surel: muhmuhsin@gmail.com

Editor : Ihan Nurdin