[Ruang Semangat]: Ubah Corona Menjadi Karunia

Oleh Tuhfatul Athal*

Virus corona yang kecil itu telah sukses mengubah dunia dalam waktu dekat. Perubahan pun terjadi di berbagai aspek, mulai dari ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, bahkan politik. Tentunya semua masyarakat di berbagai belahan dunia resah akan fenomena yang satu ini, World Health Organization (WHO) juga telah menetapkan wabah ini menjadi status pandemi, artinya virus corona ini merupakan virus yang telah menjangkiti banyak orang di berbagai negara.

Karena kondisi yang semakin meresahkan, maka pemerintah segera mengambil tindakan terkait antisipasi corona, salah satunya adalah meliburkan sekolah mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, pesantren juga ikut diliburkan. Bisa dibilang, ini merupakan hal langka yang diidam-idamkan para siswa juga santri di seluruh Indonesia, tapi dari sisi lain seharusnya kita resah terhadap kondisi yang seperti ini. Roda kehidupan menjadi tidak stabil dan dibatasi, wabah juga merupakan teguran peringatan dari Maha Pencipta atas kelalaian manusia.

Namun, sebagai manusia yang Allah istimewakan dengan akal, semestinya manusia harus lebih bijak menyikapi kondisi apa pun. Apabila ia diberi musibah, maka ia bersabar. Apabila ia diberi kesenangan, maka ia bersyukur. Begitu pula dengan musibah corona ini, saya melihat ada banyak sekali orang di luar sana yang telah dapat mengambil hikmah dari musibah virus ini, ada yang semakin kuat imannya, ada yang makin kuat ibadahnya, banyak pula yang bertaubat karenanya. Begitulah manusia-manusia bijak yang selalu menilik hikmah.

Tentunya bagi santri yang telah lama tidak di rumah, masa libur panjang adalah kesempatan besar untuk menikmati suasana rumah, stay at home bagi santri adalah hikmah besar dari virus corona. Ditambah lagi selama di pesantren santri sangat jauh dengan yang namanya alat elektronik, apakah itu smartphone ataupun laptop. Maka masa libur panjang ini adalah masa untuk berlama-lama dengan alat elektronik tersebut. Begitupun saya.

Sebagai seorang santriwati dan juga mahasiswi, keseharian saya di pondok pesantren diisi dengan jadwal padat dari subuh hingga tengah malam, bahkan di hari libur sekalipun, karena selama masih di pondok tidak ada istirahat sepanjang hari. Ini merupakan didikan untuk membentuk karakter tangguh seorang pelajar untuk terus mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, agama, dan bangsa. Maka dari itu, santri haruslah menjadi jati diri santri di mana pun. Apakah di pondok, di rumah, di jalan, di mana pun santri tetaplah santri dengan terus menebar manfaat untuk semesta.

Selama masa libur panjang, di rumah juga tidak ada kata libur dari kegiatan yang bermanfaat, terlebih ini merupakan jaman ketika teknologi berperan penting terhadap keseharian manusia, semua orang bisa melakukan apa saja dengan teknologi, bisa menjadi semakin buruk dan bisa menjadi semakin baik dengan terus melakukan hal positif, itu semua tergantung penggunanya. Selama stay at home, rutinitas saya sehari-hari adalah daring, mengerjakan tugas dari dosen, menulis, dan membaca. Ini sebenarnya merupakan hal biasa yang juga saya lakukan sebagai rutinitas wajib di pondok.

Namun, teknologi membuat kita mampu lebih dari itu, selama di rumah, saya banyak sekali menjumpai poster-poster lomba online  yang dibagikan di Instagram, mulai dari lomba tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Lomba yang diselenggarakan pun bermacam-macam, ada yang menyelenggarakan lomba puisi, opini, esai, juga event pertukaran delegasi di tingkat nasional. Ada yang menggratiskan biaya pendaftaran, ada pula yang berbayar. Lomba-lomba tersebut memberi dampak yang sangat besar bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk terus berkarya, aktif, dan memiliki semangat tinggi untuk pengembangan intelektual dan skill. Awal-awal menjalani liburan panjang di rumah, saya giat mencari poster-poster lomba, mengunduhnya, lalu berjanji kepada diri sendiri untuk mengikuti lomba tersebut selama liburan yang saya jadwalkan sesuai deadline masing-masing lomba.

Sebagai pemburu event, saya telah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, bahkan sejak masih di pesantren. Dengan menyiapkan sedikit tabungan yang saya jadikan sebagai modal untuk ikut lomba, tentunya di pesantren saya juga terus menciptakan karya untuk diikutkan lomba selama di rumah.  Jika memang lomba menentukan tema, maka selama di rumah saya punya waktu yang cukup untuk menghasilkan karya sesuai tema. Selain sangat bermanfaat sebagai media berbagai perlombaan online, keberadaan teknologi juga sangat membantu untuk menemukan ide baru, dan sudut pandang baru ketika kehabisan ide dalam berkarya. Hal ini juga sangat mendukung, karena selama di pesantren mencari ide tidaklah semudah “klik” Google seperti di rumah. Hal ini juga menjadi semangat tersendiri dalam berkarya dengan ide-ide baru. Prosedur mengikuti perlombaan online terbilang sangat mudah, setelah mendaftar, melakukan pembayaran melalui bank atau dompet digital, mengirim karya lalu menunggu hasil pengumuman. Sangat mudah, karena semuanya bisa dilakukan di gadget dalam sekali klik.

Memburu event merupakan hobi yang positif dan tentunya sangat membangun untuk lebih semangat dalam berkarya. Beberapa tahun terakhir, banyak sekali event organizer baru di Indonesia yang giat dalam mengadakan event sebagai platform untuk pemuda Indonesia dalam berkarya. Lebih-lebih lagi keadaan seperti sekarang ini, saat pemerintah menganjurkan masyarakat untuk mengurangi waktu di luar rumah, banyak orang terutama para pelajar banyak yang terpaksa menghabiskan waktu di rumah dengan kebosanan, maka tidak salah kiranya untuk mencoba beragam lomba online untuk meningkatkan skill di bidang masing-masing dan merasakan betapa serunya punya karya lalu menjadi juara.

Sebagai manusia muda, sebaiknya janganlah merasa puas akan bakat atau ilmu yang telah ada, manusia muda seharusnya lebih giat dalam mencari ilmu dan terus menggali bakat, jika bakat hanya dibagi adil satu per satu untuk setiap manusia, maka kita tidak pernah mendengar ada yang namanya manusia multitalent di dunia ini. Sebut saja Maudy Ayunda, yang kompeten di bidang akademis, pintar berakting, menulis lagu, hingga menyanyi. Sebenarnya, siapa pun atas nama manusia berhak menjadi manusia multitalent. Ini merupakan saat yang tepat mewujudkannya di rumah. Jika ingin lihai dalam hal public speaking, maka sering-seringlah melatih berbicara sendiri di depan cermin di dalam kamar. Jika ingin pandai melukis, maka ini adalah waktu yang tepat untuk mempraktikkannya dari video-video yang banyak bertebaran di Instagram dan juga YouTube terkait tutorial melukis lengkap dengan rumus mencampurkan warna.

Selamat berkarya, salam pemuda Indonesia.[]

*Penulis adalah mahasiswi Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Institut Agama Islam Al-aziziyah, Samalanga, Kabupaten Bireuen

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent