Membangun Keharmonisan di Bulan Ramadan

Ilustrasi

Oleh Afridany Ramli*

Keharmonisan dalam rumah tangga merupakan dambaan semua insan, baik yang hidup berkecukupan maupun kalangan jetset. Tanpa keharmonisan, hidup akan terasa hampa. Maka semua orang berlomba mendapati keharmonisan, apalagi menjelang Idulfitri. Umat Islam diwajibkan hidup rukun dan harmonis. Bukan hanya dalam keluarga, melainkan juga dalam tatanan sosial masyarakat.

Meski agak sulit mencapai keharmonisan, tetapi ada kunci sederhana yang dapat membawa Anda berhasil mencapi impian tersebut. Sukses dalam mencapai keharmonisan hanya bisa diperoleh dengan cara merealisasikan hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak sekali kerancuan terjadi ketika membangun sebuah keharmonisan tatkala diaplikasikan di rumah tangga maupun di ranah masyarakat. Kebanyakan dari kita hanya mampu mengejar sikap saling mempunyai, mengada, dan memiliki sehingga yang dicapai bukanlah keharmonisan melainkan kekayaan dan kemewahan.

Dalam sebuah riset penting yang saya kaji, bahwa keharmonisan tercipta bukanlah dengan kemewahan melainkan dengan terciptanya solidaritas yang tinggi seperti terjalinnya rasa kebersamaan dan persatuan. Tanpa kedua hal tersebut maka mustahil terjadinya keharmonisan.

Fungsi keharmonisan sendiri sangat sensitif, bahwa sikap saling menghormati, menghargai, dan saling pengertian merupakan unsur utama sebagai sistem hidup yang mengatur pola keharmonisan. Sedangkan mekanisme sebagai pondasi utama dalam diri manusia tersemat sikap tamak, iri, dan dengki, lalu mungkinkah keharmonisan berjalan seiring waktu?

Rasulullah saw menganjurkan agar kita selalu mementingkan keharmonisan dalam strata kehidupan. Sebagaimana Allah mencintai struktural kehidupan, begitulah senantiasa Nabi Muhammad menganjurkan umatnya. Jika keharmonisan telah tercipta, maka semua lini penting dalam aspek kehidupan ini akan lebih baik untuk masa depan yang cerah.

Apabila kita menelisik lebih jauh, keharmonisan sering diabaikan oleh segenap insan dalam kehidupanya, mereka cenderung pragmatif mengejar kekayaan semua. Titik fokus mencari dan mengumpul kekayaan menjadi obyek utama masyarakat modern sekarang ini. Maka ada baiknya pada kesempatan bulan Ramadan ini mari kita menjunjung kembali keharmonisan hidup sesuai ajaran Islam agar kita kembali ke dalam fitrah seorang mukmin sejati.

Faktor penting yang perlu diperhatikan untuk membangun keharmonisan, bukanlah dengan berfoya-foya setelah mempunyai, memilki, dan mengadakan. Perlu diingat kekayaan dan kemiskinan merupakan suatu kejahatan penting yang sangat sadis, bilamana tak bisa dikendalikan dengan baik oleh pengguna, sebab akan menjadi malapetaka bagi kehidupan setiap manusia.

Segenap orang telah percaya bahwa kekayaan yang diperoleh akan sia-sia. Bahkan kebanyakan kekayaan akan jatuh dalam kufur nikmat yang menjauhkan diri kita mendapat keharmonisan, baik dalam rumah tangga maupun masyarakat. Untuk menciptakan keharmonisan tidak perlu mahal dan melebihi.

Kesempatan di Bulan Ramadan

Sebagaimana lazimnya bulan Ramadan merupakan bulan berkah penuh ampunan. Banyak sekali kesempatan dan manfaat yang dapat difungsikan saat bulan Ramadan tiba. Selain untuk berubudiyah kepada Allah Swt, kita dapat meningkatkan segala amal ibadah penting untuk menggapai rida Allah, sehingga Allah melimpahkan segala rahmat-Nya. Maka dengan mendapat rahmat dari Allah senantiasa keharmonisan pun tercipta.

Sebelas bulan yang lalu dalam setahun kita sudah pasti sibuk mengurus waktu, pekerjaan, serta tugas penting lainnya, akan tetapi bulan Ramadan merupakan kesempatan yang sangat terbatas untuk kita merenungkan kembali, kapan sejatinya kita harus bermunajah kepada Allah.

Di samping melakukan ibadah secara bersamaan, seperti Tarawih dan berbuka puasa, ternyata bulan Ramadan juga dapat menuntun kita menuju segala keharmonisan baik itu dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat.

Segala pintu terbuka lebar pada bulan ini. Hanya saja kita luput secara asat mata melihat bagaimana Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya terhadap hamba. Sebagai makhluk pilihan, sudah sepantasnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan, seperti bahagia, kebebasan yang begitu mahal, bahkan keharmonisan yang jarang didapati.

Tidak sedikit orang-orang yang lalai di bulan Ramadan, padahal untuk meraih segala sesuatu termasuk keharmonisan bulan Ramadan merupakan kesempatan yang tepat.

Kunci Harmonis

Banyak sekali pertanyaan yang muncul manakala sebuah rumah tangga dihantam prahara atau munculnya konflik dalam masyarakat. Padahal sebaliknya, orang lupa mendedikasikan diri untuk membangun keharmonisan. Luput daripada kemaslahatan dan khazanah tersebut sudah tentu dapat mengundang kehancuran.

Telah dinyatakan bahwa hanya orang pilihan yang bisa memperoleh keharmonisan dalam hidupnya. Keharmonisan ditunjukkan untuk mereka yang benar-benar mendapat cinta-Nya Allah. Dengan demikian perlu kita ketahui bahwasanya untuk menemukan keharmonisan tidaklah sulit seperti yang kita bayangkan bukan? Kita akan menjadi orang pilihan manakala mengetahui kunci keharmonisan.

Selama bulan suci Ramadan ini, istri saya sudah mempersiapkan diri untuk bangun sahur dan menyiapkan makanan sahur dan berbuka untuk saya. Bulan Ramadan kebahagiaan seorang istri bukanlah pada kepuasan di mana seorang pria dapat memenuhi keinginan hasratnya, pendapat semacam itu terlalu dini untuk dijadikan asumsi. Sebaliknya, kebahagiaan seorang istri sudah pasti pada makanan yang dimakan. Sejauh mana kita dapat memuaskan diri dengan makanan, sejauh itulah kebahagiaan yang diperolehnya.

Tak dapat dipungkiri lagi seorang istri akan merasa sangat tersanjung apabila suaminya dapat menghabiskan makanan berbuka puasa dengan lahap. Anda bisa membayangkan bagaimana perencanaan seorang istri saat berada di dapur? Jika makanan yang tersedia dapat dihabiskan dengan santapan selera, maka tak ayal istri akan merasa bangga di mata suaminya, pada saat itulah aroma keharmonisan rumah tangga muncul, dan kebahagiaan menjadi milik bersama.

Ruang waktu di dalam bulan Ramadan melebarkan jarak seseorang untuk menciptakan keluarga yang harmonis. Selain dapat memanjakan diri dengan keluarga, dapat pula bersama dengan masyarakat setempat. Kita akan mendapat ruang berbagi yang begitu sesak. Seperti menyediakan takjil berbuka, atau memperbanyak bersedekah.

Adapun hal-hal lain yang terdapat di dalam bulan suci Ramadan untuk membangun keluarga yang harmonis adalah dengan mengajak keluarga memberi perhatian pada peningkatkan ibadah sunnah–khatam Alquran dan sebagainya.

Sangat mudah sekali membangun keharmonisan dalam rumah tangga di bulan ini. Ada banyak kesempatan serta kunci sukses membangun keharmonisan di bulan Ramadan. Hanya saja kita perlu kekuatan untuk mendekati diri pada Allah Swt agar semua rencana baik itu terlaksana, dengan demikian kita mendapat hadiah berupa hidup harmonis yang didamba semua orang.

Di Aceh kesempatan membangun keharmonisan tak terbatas. Belum lagi keharmonisan di dalam masyarakat. Kalau bulan sebelumnya jarang sekali terjadi perkumpulan di tempat umum, bulan Ramadan selalu menjadi titik interaksi bagi semua kalangan, masjid dan surau dipenuhi segala kegiatan menyambut semarak Ramadan.

Maka oleh karena itulah saya mengajak agar senantiasa kita membangun pola hidup yang sederhana agar diridai Allah supaya terciptanya keharmonisan, senantias kita hidup bahagia dunia akhirat, semoga.[]

*Penulis adalah novelis dari Sigli

Editor : Ihan Nurdin