Perti dan Muhammadiyah Tarawih Bersama di Masjid Agung Baitul Ghafur Abdya

Masjid Agung Abdya

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Perbedaan adalah rahmat yang perlu disyukuri. Perbedaan juga bukan “gunting” pemisah antarumat. Sebab perbedaan merupakan sunnatullah yang perlu dihargai.

Ramadan 1441 Hijriah ini adalah momentum yang dinanti-nanti oleh umat Islam di seluruh pelosok dunia. Dalam pelaksanaannya, umat Islam disunahkan untuk melaksanakan ibadah salat Tarawih. Pelaksanan ibadah ini pun kerap menimbulkan polemik terkait jumlah rakaat salatnya. Ada yang melaksanakan 23 rakat plus Witir dan ada yang hanya sebelas rakat plus Witir. Perbedaan yang kadang kala menimbulkan keriuhan tersendiri.

Namun, di Masjid Agung Baitul Ghafur Abdya yang baru selesai dibangun belum lama ini, perbincangan terkait perbedaan jumlah rakaat itu tak terlalu serius.

Di masjid ini, jamaah dari organisasi Perti dan Muhammadiyah sejak awal Ramadan kompak menunaikan salat Tarawih berjamaah. Karena di masjid yang memiliki kombinasi desain arsitektur Aceh dan Timur Tengah tersebut mengelar dua pola salat Tarawih dengan tata cara dua rakaat sekali salam, sehingga siapa pun imamnya bisa dikuti oleh semua jamaah.

Hal itu dilakukan pemerintah daerah setempat sebagai upaya untuk mengakomodir semua masyarakat agar dapat beribadah di masjid yang memiliki empat menara itu. Baik dari Muhammadiyah, Perti, dan Nahdlatul Ulama (NU) yang ada di Kabupaten Abdya.

“Di Masjid Agung ini masyarakat yang mengikuti salat Tarawih berjamaah dapat mengikuti dengan cara Perti 20 rakaat ataupun Muhammadiyah delapan rakaat,” ungkap Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Abdya, Ubaidillah, Kamis (30/4/2020).

Bagi amaah yang melakukan salat tarawih 20 rakaat kata Ubaidillah, saat sudah selesai salat delapan rakaat, mereka mundur sebentar ke belakang. Setelah itu imam yang melaksanakan salat Tarawih delapan rakaat maju untuk menyelesaikan salat Witir. Setelah itu, jamaah 20 rakaat meneruskan Tarawihnya sampai rakaat ke-20 dan ditambah dengan Witir.

Pelaksanaan salat Tarawih di masjid yang memiliki luas 4.800 meter persegi tersebut diterapkan protokol kesehatan. Semua jamaah diperiksa suhu tubuh dan diwajibkan menggunakan masker agar warga terhindar dari ancaman wabah Covid-19.  

“Di samping memberikan masker kepada setiap jamaah Tarawih. Panitia masjid juga ada menyediakan menu untuk berbuka puasa yang ditempatkan di teras masjid dan di pintu gerbang. Untuk meja di pintu gerbang khusus untuk musafir dan masyarakat,” ujarnya.

Ubaidillah menyebutkan, menu berbuka yang disiapakn panitia di meja pintu gerbang masjid setiap pukul 17.00 WIB sejumlah 250–300 porsi, sehingga siapa pun masyarakat dan musafir yang lewat dipersilakan ambil dan dibawa pulang untuk bekal berbuka puasa.

“Proses penyediaan takjil berbuka ini akan berlangsung sampai berakhirnya Ramadan, termasuk yang di teras masjid ada juga menu berbuka kita siapakan sebanyak 60–100 prosi, tapi dengan catatan berbukanya harus mengikuti protokol kesehatan,” pungkasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin