[Ruang Semangat]: Semangat Membuat Tiga Blog Sekaligus selama #DiRumahAja

Almurtaza

Oleh Almurtaza*

Munculnya virus corona pada akhir 2019 membuat banyak perubahan di dunia. Setelah ditetapkannya sebagai pandemi global, banyak hal berubah dalam waktu yang singkat. Berbagai kewajiban dan maklumat baru dikeluarkan berbagai negara. Mulai dari anjuran cuci tangan, memakai masker, pembatasan sosial (sosial distancing), bahkan ada negara yang menetapkan lock down. Banyak istilah-istilah yang sebelumnya tidak diketahui banyak orang dan sekarang mulai berseliweran di mana-mana. Begitu pula di Indonesia. Berbagai peraturan ditetapkan guna mencegah penyebaran virus yang bernama Covid-19 tersebut.

Hampir seluruh sektor di negeri mendapat efek besar dari munculnya virus itu. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Dilarangnya perkumpulan massal menyebabkan seluruh kegiatan di setiap instansi pendidikan dihentikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, baik sekolah, universitas, maupun pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

Penetapan larangan berkumpul tersebut dalam beberapa waktu lalu menyebabkan pesantren di Indonesia, khususnya di Aceh harus meliburkan santrinya lebih cepat dari biasanya. Misalnya pondok tempat saya belajar, MUDI Mesra Samalanga, biasanya libur ditetapkan lima hari sebelum bulan Ramadan. Namun, harus disegerakan pada tanggal 7 April 2020. Tentunya waktu liburan selama di kampung halaman lebih lama lagi.

Sebagai seorang santri, tanpa munafik ini menjadi kabar gembira sekaligus duka. Bagaimana tidak, kami harus meninggalkan pesantren beberapa hari lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada liburan kali ini adalah gembira yang dibalut kecemasan. Ya, tentu saja gara-gara corona. Semua warga dianjurkan untuk tidak melakukan perjalanan jauh. Dan kami santri juga begitu tentunya. Hanya mendekam di rumah dan sekitar perkampungan saja.

Kabar buruk tidak selalu menjadi kabar buruk, tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Tentu setiap hal mengandung hal positif dan negatifnya. Begitu juga dengan wabah yang sedang kita hadapi ini.

Bagi saya sendiri sebagai seorang santri dapat mengambil beberapa hal positif untuk memanfaatkan masa-masa krisis seperti ini. Sebagian besar waktu kami yang mondok tentunya di pesantren. Dan tentu saja di bawah berbagai peraturan yang menaungi. Banyak hal yang dilarang tersebut baru bisa kami lakukan di kampung halaman.

Misalnya, alat-alat elektronik adalah salah satu barang yang sangat dilarang di pesantren, baik dalam bentuk smartphone, laptop, atau yang lainnya. Semua itu baru bisa kami gunakan saat rumah tentunya dan itu adalah saat liburan tiba.

Beberapa bulan sebelum munculnya corona, saya direkrut menjadi anggota pengurus keterampilan di pesantren, dan di tetapkan sebagai pengurus media online, yaitu blog majalah yang selain tersedia dalam bentuk cetak, juga ada yang berbasis online dengan bersitus umdah.mudimesra.com. Teman-teman bisa mengunjunginya untuk memperdalam khazanah islami. Semua isinya berasal dari tulisan para santri pondok pesantren dan bersumber dari berbagai literatur para ulama terdahulu.

Karena menjadi anggota keterampilan, saya diizinkan untuk menggunakan komputer milik pondok selama di sana, tetapi tetap saja dalam relatif waktu yang sangat singkat. Kira-kira selama satu hari hanya 30 menit waktu yang bisa saya luangkan untuk memanfaatkan komputer guna memposting tulisan baru di blog dayah tersebut. Mengingat kegiatan di dayah yang sangat padat. Saya rasa tidak perlu untuk diurutkan satu per satu.

Berawal dari pengalaman mengelola blog tersebut muncullah ide dalam pikiran saya untuk membuat blog sendiri, walaupun belum begitu mahir di bidang html dan codingnya. Dan ide itu hanya bisa diwujudkan saat saya berada di rumah. Dan liburan pun saat ide itu muncul tinggal beberapa bulan lagi, tetapi karena maklumat dari pemerintah seperti di atas liburan menjadi lebih cepat, dan kami bisa berada di kampung halaman lebih lama.

Adanya wabah ini yang menyebabkan liburan dini tersebut saya ambil hal positifnya untuk mengembangkan hal baru yang belum saya lakukan sebelumnya: punya blog sendiri, biasanya saya hanya jadi penulis di blog dayah.

Ide ini sangat terdukung oleh hobi saya yang gemar membaca dan menulis. Di dayah, selain membaca saya juga meluangkan waktu untuk mencatat dan menulis berbagai hal, mulai dari tulisan nonfiksi yang saya sadur dari kitab turats, maupun nonfiksi. Kemuskilan, sirah, formulasi fiqh dan mantiq menjadi favorit saya di bidang nonfiksi. Dan cerita bersambung (cerbung), puisi, dan akhir-akhir ini juga cerpen menjadi favorit saya di bidang fiksi.

Selama di pondok saya hanya bisa menulis semua hal-hal tersebut di buku-buku dan coretan-coretan saja. Karena tidak bisa menggunakan alat elektronik sama sekali. Semua tulisan tersebut rencananya selama pandemi ini akan saya jadikan konten-konten pertama saya di blog baru milik pribadi, dengan mengetiknya dalam bentu soft file dan diposting di blog.

Awalnya, saya sempat bingung akan ngeblog di platform yang mana, karena ada beberapa penyedia yang menyediakan layanan yang serupa: sarana untuk tulis menulis untuk kemudian dinikmati oleh pembaca yang lain. Lalu saya meminta saran dari salah seorang teman yang sudah lebih dulu memasuki bidang blogging antara empat penyedia, Blogger.com (ini sama dengan blog dayah saya), WordPress.com, Kompasiana.com, atau Tumblr.com. Teman saya menjawab singkat “pokoknya yang gratis aja”. Keempat penyedia tersebut memang gratis untuk digunakan.

Maka, entah karena saking semangatnya dan waktu yang memungkinkan, saya membuat tiga blog sekaligus, Kompasiana, Tumblr, dan Blogger. Dan memang libur kali ini lebih panjang dari biasanya, sangat mendukung saya pikir. Ketiga blog tersebut saya buat dengan nuansa yang berbeda, agar tidak membosankan, pertama dengan topik di luar yang sedang hangat, kedua berisi tulisan-tulisan nonfiksi di buku catatan saya, dan ketiga berisi konten-konten fiksi.

Saya berniat dengan kegiatan ini bisa mengisi waktu luang selama masa liburan panjang kali ini dengan hal yang positif dan dapat mengembangkan kemampuan pribadi. Dengan melakukan hal baru ini: ngeblog, saya sekaligus dapat mengembangkan kemampuan dalam menulis dan semakin menambah minat dalam membaca. Jika tidak menulis, maka selama libur saya gunakan untuk membaca, baik buku-buku yang saya beli beberapa waktu lalu atau hanya browsing di internet untuk membaca artikel-artikel ilmiah.

Nah, teman-teman itulah hal positif yang saya lakukan selama masa #DiRumahAja ini. Semoga bisa menambah semangat untuk kalian semua juga ya! Untuk saling berbagi dan sharing teman-teman bisa menghubungi saya di media sosial Instagram dengan nama pengguna @tadha999. Insyaallah akan saya respons, hitung-hitung untuk menambah teman baru, tapi selama saya di kampung aja ya, soalnya di dayah tidak bisa menggunakan smartphone.

Akhirnya, semoga tulisan singkat ini dapat menambah energi positif pada kita semua. Selama corona semangat tidak boleh merana. Ayo isi waktu luang selama #DiRumahAja dengan hal positif ya.[] 

Penulis adalah mahasantri Ma’had Aly MUDI Mesra Samalanga. Berasal dari Mila dan berdomisili di Samalanga, Kabupaten Bireuen. Alumni Pelatihan Jurnalistik dan Magang Santri Dayah Se-Aceh oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh Tahun 2020

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent