Membangun Pendidikan dengan Keteladanan

Mukhsinuddin, S .Ag., M.M.

Oleh Mukhsinuddin, S.Ag., M.M.

Setiap tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional juga bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Peringatan Hardiknas tersebut ditetapkan setelah adanya Surat Keputusan Presiden RI Nomor 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959. Seorang Ki Hajar Dewantara telah mengajarkan filososi yang terkenal di dunia pendidikan sekarang ini adalah “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang artinya “di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan”. Setelah Indonesia merdeka, beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Indonesia. Beliau juga mendapat julukan Bapak Pendidikan Indonesia. Selanjutnya, setiap tanggal 2 Mei yang merupakan hari lahir Ki Hajar Dewantara, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional bagi bangsa Indonesia.

Tahun ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas dilakukan di tengah wabah Covid-19. Secara khusus, Kemendikbud juga mengangkat tema “Belajar dari Covid-19” sebagai tema Hardiknas tahun 2020.  Dalam pesannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengajak semua insan pendidikan di tanah air mengambil hikmah dan pembelajaran dari krisis Covid-19. “Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari Covid-19.”

“Krisis yang memakan begitu banyak nyawa. Krisis yang menjadi tantangan luar biasa bagi negara kita dan seluruh dunia.” Namun, ia menambahkan, “Dari krisis ini kita mendapatkan banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa kita terapkan saat ini dan setelahnya. Saat ini, untuk pertama kalinya guru-guru melakukan pembelajaran melalui daring menggunakan perangkat baru dan menyadari sebenarnya pembelajaran bisa terjadi di mana pun. Begitu juga dengan orang tua, untuk pertama kalinya menyadari betapa sulit tugas guru mengajar anak secara efektif dan menimbulkan empati kepada guru yang tadinya mungkin belum ada. Guru, siswa, dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah. Pendidikan yang efektif, membutuhkan kolaborasi efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi.”

Kita bisa melahirkan empati, “Timbulnya empati, timbulnya solidaritas di tengah masyarakat kita pada saat pandemi Covid-19 ini merupakan suatu pembelajaran yang harus kita kembangkan. Bukan hanya di masa krisis ini, tetapi juga di saat krisis ini telah berlalu.” Mendikbud mengajak kepada semua pemangku kepentingan pendidikan untuk selalu berinovasi di tengah pandemi Covid-19. Mendikbud juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para insan pendidikan, yang telah mengikuti arahan Presiden Joko Widodo untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta tetap belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja. “Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, dan semangat agar bisa melalui masa sulit ini.”

Perlunya Nilai Pendidikan

Memang di zaman globalisasi dan informasi saat ini telah menghegemoni kajian keilmuan dan pendidikan Islam di nusantara ini. Perpaduan antara orientalisme, misionarisme, dan kolonialisme  telah menyisakan banyak pekerjaan berat bagi umat Islam untuk berbenah. Selain melahirkan inferiorisme, secara khusus hegemoni keilmuan Barat menjadikan umat Islam kehilangan izah dan kekuatan terhadap konsep dasar pendidikan itu, akibatnya tidak sedikit para pendidik, guru, serta dosen yang terkontaminasi oleh pemikiran Barat dan akhirnya dalam lembaga pendidiknya itu yang menerapkan konsep pendidikan kebaratan.  

Dalam pendidikan Islam sebagai agama rahmatan lilalamin hanya mengenal konsep pendidikan yang bertauhid, sebuah konsep yang mengintegrasikan antara alam, Tuhan, dan manusia, yaitu sebuah paradigma yang menolak pemisahan berupa aspek material dan immaterial, sosial-relegius atau umum dan agama seperti yang diakui dunia modern saat ini.

Konsep tauhid dari pendidikan Islam begitu jelas dalam catatan sejarah, kita bisa membaca bagaimana Syekh Fakhruddin Ar-razi yang mampu menguasai matematika sekaligus ilmu tafsir, begitu juga Syekh Ibnu Rusdy mampu dalam ilmu filsafat juga dalam ilmu fikih, demikian juga Syekh Imam Al-Ghazali, yang ahli dalam filsafat juga ulama Zuhud. Hal serupa juga terjadi pada Syekh Imam Ibnu Khaldum yang dikenal sosok ahli sosiologi juga sekaligus ekonom Islam yang andal dalam keilmuannya bidang ekonomi modern.

Bandingkan dengan saat ini, umat Islam mengalami disintegrasi keilmuan. Mereka yang ahli fikih belum tentu mampu memahami ekonomi modern, sebaliknya ahli ekonomi tidak memahami fikih syariah. Padahal, agar terwujudnya sebuah peradaban yang unggul, Islam memerlukan ilmuwan–ilmuwan yang multikapabilitas dan profesionalisme yang tinggi seperti yang dulu pernah hadir dalam sejarah umat Islam.  Maka dari itu, tanggung jawab kita semua untuk kembali memikirkan satu konsep dan implementasi pendidikan Islam yang sebenarnya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Indah Keteladanan dalam Berilmu

Perbedaan mendasar pendidikan Islam adalah pada konsepnya. Dalam Islam, pendidikan harus berbasis  pada Alquran dan sunah yang bingkainya adalah konsep keteladanan. Dalam konsep pendidikan Islam, ilmu harus melahirkan karakter dan keteladanan serta budi pekerti sehingga akan melahirkan ahli ilmu yang juga ahli ibadah, ahli fikir sekaligus ahli zikir, ahli filsafat bahkan menjadi ahli makrifat. Oleh karena itu, Islam sangat mendorong terbangunnya budaya belajar atau tradisi ilmu dengan tetap memprioritaskan aspek ilahiah dan amaliah, jadi tidak dengan melakukan dikotomi dalam pandangan pendidikan Islam itu sendiri.

Pendidikan Islam menghendaki lahirnya generasi yang memiliki intelektualitas-spiritualitas yang berakhlaqul karimah dan karakter keteladanan yang kuat, dengan spirit senantiasa mengamalkan ilmu yang telah diperoleh semata-mata hanya mengharapkan ridha dari Allah Swt. Untuk menghasilkan generasi yang seperti itu, seorang pendidik dan dosen menjadi teladan bagi siswa dan mahasiswanya.

Muhammad Ibnu Sahnun dalam kitabnya Al Adab Muailimin menjelaskan, seorang pendidik dalam Islam tidak cukup hanya memiliki kualifikasi akademik saja, tetapi juga harus berkarakter, keteladanan, berperilaku saleh, serta bertanggung jawab terhadap yang dididiknya baik di dunia maupun di akhirat.

Keteladanan di sini erat kaitannya dengan upaya membangun akhlak umat serta kesalehan sosial. Rasulullah saw senantiasa memberikan contoh teladan dalam banyak kesempatan seperti dalam salat berjamaah, Rasululah saw benar-benar memberikan contoh yang konkret, beliu menjadi imam dalam salat. Keteladanan Rasulullah menjadi kunci sukses mendidik para sahabat dan umatnya dalam berbagai kehidupan.

Terkait dengan keteladanan ini bukan saja para pendidik yang berusaha menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari secara konsep, akan tetapi pendidikan Islam itu sendiri menjelaskan dan meneladani Rasulullah saw karena pada diri rasul mempunyai suri teladan yang baik. Mari kita terapkan keteladanan dan berkarakter yang baik untuk dapat diikuti dan dicontoh oleh generasi akan datang untuk lebih baik. Dengan begitu, idealisme dalam pendidikan Islam yang berorientasi pada dunia dan akhirat dengan selalu mengintegrasikan antara pikir dan zikir, intelektulitas dan spiritualitas, juga amal dan ilmu. Semua itu harus mengarah pada terbentuknya pribadi muslim yang sejati menuju insan yang kamil untuk mendapat ridha Allah Swt.[]

Penulis adalah mahsiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Unsyiah, Banda Aceh dan dosen STAIN Meulaboh, Aceh Barat. Surel: muhmuhsin@gmail.com

Editor : Ihan Nurdin